Tuesday, December 15, 2015

Spectre : Ketika Masa Lalu Bond Mengancam Masa Depan Dunia



James Bond (Daniel Craig) melanjutkan petualangannya setelah terjadi pergolakan di markas MI6 (seperti yang diceritakan dalam Skyfall), hingga membawanya ke Meksiko untuk memburu tokoh teroris, Marco Sciarra, yang berniat mengebom sebuah stadion pada perayaan Hari Orang Mati. Dalam sebuah aksi yang menegangkan dan berbahaya, Bond berhasil mengambil cincin yang dianggap sebagai petunjuk atas banyak peristiwa teror di dunia.

Pada waktu yang bersamaan, di London, terjadi sebuah revolusi besar, di mana pemerintah berniat untuk menggabungkan MI6 dengan organisasi intelijen dari delapan negara lain dalam sebuah program yang digagas oleh C (Andrew Scott) juga sekaligus menghapus program “00” karena dianggap telah ketinggalan jaman dan akan digantikan dengan berbagai piranti teknologi yang jauh lebih canggih dan dapat lebih dikendalikan. Maka M (Ralph Fiennes) yang posisinya tertekan mendesak Bond untuk kembali dan tetap berada di London tanpa membuat masalah.

Di lain pihak, mengemban sebuah misi pribadi dari M terdahulu, Bond mencari berbagai petunjuk hingga ke Roma, untuk kemudian mendapati adanya sebuah organisasi rahasia yang mengatur berbagai teror yang telah dan akan terjadi di berbagai belahan dunia. Bond meyakini bahwa Oberhauser (Christoph Waltz), pemimpin organisasi ini, memiliki kaitan dengan dirinya di masa lalu. Petualangan membawanya kepada Madeleine Swann (Lea Seydoux), putri dari seorang anggota organisasi tersebut, yang bisa menunjukkan padanya kunci misteri dari organisasi kejahatan misterius : SPECTRE. 

***

Sejak tokoh James Bond diserahkan pada Daniel Craig mulai dari Casino Royal (2006), kisahnya selalu berkaitan dan berkelanjutan, termasuk untuk film keempatnya ini. Kali ini sineas mengangkat musuh klasik Bond yaitu Spectre, sebuah organisasi kejahatan misterius yang namanya bahkan sudah disebut sejak film pertama Bond, Dr. No (1962), yang mendalangi berbagai kejahatan dan hampir tidak ada satu pun tokoh antagonis dalam cerita James Bond yang tidak terafiliasi dengan Spectre. Maka pada ‘Spectre’ kali ini, penegasan tersebut coba ditunjukkan dengan menampilkan hubungan semua tokoh jahat sejak Casino Royal, Quantum of Solace, hingga Skyfall.

Sebagaimana banyak cerita detektif dan intelijen, film ini menawarkan berbagai pemandangan dari berbagai negara, mulai dari keriuhan Meksiko, eksotisme Italia, hingga gurun antah berantah Maroko. Sebuah nilai lebih dari film bergenre seperti ini. Sementara itu, tak banyak teknologi canggih yang dipertontonkan. Maklum, seperti inilah Bond era Craig, yang berbeda dengan Bond sebelumnya. Dengan hadirnya Q yang makin dominan dibanding kemunculan perdananya di Skyfall, Bond kali ini digambarkan bisa bekerja dalam tim, termasuk keterlibatan langsung M dalam kancah pertarungan.

Film ini semakin memberi hiburan bagi para penggemar James Bond. Selain kisahnya yang tetap setia pada novel (sama seperti ketiga film sebelumnya), film ini juga menggambarkan perkembangan karakter seorang James Bond hingga ia menjadi seorang agen 007 yang terkenal tersebut. Sementara itu, bagi mereka para penonton pemula, justru diberi kesempatan mengenal sosok James Bond secara utuh, karena sejak Casino Royal memang mengambil lini masa awal mula James Bond. Bagi beberapa penonton, film ini bisa jadi kurang memuaskan dahaga mereka akan aksi seperti ketiga film sebelumnya, meski pada adegan pembuka telah berhasil memberi ketegangan. Jalan ceritanya sendiri mudah ditebak.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan Q kali ini adalah robot nano yang ditanamkan pada darah James Bond, sehingga ia bisa melacak keberadaan Bond di mana pun di seluruh belahan dunia, pada saat kapan pun. Namun, Bond bisa lepas dari pengawasan selama 48 jam pertama karena berhasil berkompromi dengan Q. Sebuah penegasan, bahwa secanggih apapun teknologi, yang memegang peranan tetap orang di baliknya.

No comments:

Post a Comment