Thursday, December 31, 2015

Ip Man 3 : Akhir Cerita Sang Grandmaster Donnie Yen

Selepas para 'jagoan' film-film Hongkong seperti Jet Li dan Jacky Chan mundur, tinggallah Donnie Yen yang masih konsisten di jalur film laga kungfu, baik berlatar klasik maupun kontemporer. Ia juga terhitung sangat produktif dalam bermain (dan membuat) film. Ip Man adalah salah satu mahakaryanya.

Ip Man 3 bercerita tentang Ip Man, beserta istri dan anaknya, hidup di masa damai selepas perang dunia. Menjadi guru kungfu terbaik di antara perguruan lainnya, ia masih menjadi teladan bagi kawan sekaligus ancaman bagi lawan. Setidaknya mereka yang ingin menjadi yang terbaik di dunia kungfu. Dalam hal ini, adalah Cheung Tin Chi, salah seorang jago yang mengklaim jurusnya sebagai aliran Wing Chun asli, mencoba membuktikan bahwa ia lebih baik dari Ip Man. Meski berprofesi sebagai penarik becak, cita-citanya mendirikan perguruan Wing Chun tak pernah pudar meski harus menambah pundi uang melalui pertarungan berbayar.

Sementara, Hongkong yang semakin maju mengundang banyak pihak untuk mengadu untung di dalamnya, tak terkecuali pihak asing. Sebuah korporasi properti yang dipimpin Frankie (Mike Tyson) berusaha menggusur sekolah dasar tempat di mana anak Ip Man dan juga Cheung Tin Chi bersekolah sebagai satu-satunya bangunan yang tersisa di wilayah itu yang belum dikuasainya. Menugaskan jagoan lokal bernama Sang, mereka mulai mengganggu masyarakat sekitar bahkan dengan kekerasan menyegel dan membakar sekolah tersebut. Merasa bahwa pihak kepolisian tak dapat berbuat banyak, bahkan mungkin terlibat praktik korupsi di sana, Ip Man turun tangan menyelesaikan persoalan ini.

***

Ip Man dan Wing Chun sudah semakin populer akhir-akhir ini. Ditandai dengan banyak dan menonjolnya atribut peguruan ini. Bahkan ketika saya hendak menonton saja, ada satu orang yang memborong 17 tiket! Semua untuk ia dan rekan rekan seperguruannya. Maka, kehadiran seri ketiga Ip Man ini seolah menegaskan kehadiran aliran bela diri ini di negeri ini.

Sebagai sebuah film dan karakter, tak perlu dijelaskan bagaimana khasnya sosok seorang Ip Man. Masih sebagai orang yang rendah hati dan mudah menolong orang lain, namun di saat bersamaan kikuk bahkan seolah takut dengan istrinya. Begitu cinta dengan dunia kungfu, namun seolah abai dan menomorduakan keluarganya. Semakin tegas karakter ini muncul, bahkan ketika sang istri sakit karena menderita kanker pun, ia tak segera menyadarinya.

Satu hal yang boleh jadi menyedot perhatian calon penonton adalah kehadiran Mike Tyson, mantan juara tinju dunia berjuluk 'Leher Beton', yang benar benar beradu akting dan tinju, tidak hanya sekedar selepas lewat sebagai cameo. Dan bisa jadi pertarungan antara Donnie Yen dan Mike Tyson adalah bagian yang paling ditunggu-tunggu sepanjang film. Hasilnya? Relatif. Buat memuaskan pertemuan mereka, jelas apa yang ditampilkan bukanlah basa basi. Durasi hampir 10 menit beradu pukul jelas memanjakan penonton. Namun soal hasil? Mungkin pembuat film ini merasa sungkan sehingga harus memutuskan tidak ada pemenang di antara keduanya.

Kecepatan. Satu hal tersebut adalah ikon dari karakter sekaligus film Ip Man. Sedari film pertama, kita sebagai penonton disuguhi kecepatan pukulan berantai seorang Ip Man. Dan kecepatan juga yang menjadi sejatanya untuk menjadi jago silat terbaik. Sebagai sebuah film, alur dan rentetan pertarungan juga diatur dengan pas kecepatannya, sehingga terlihat seru dan padat. Sesuatu yang sayangnya hilang di film ketiga ini. Ada dua adegan pertarungan massal, ketika sekolah hendak dibakar malam hari dan ketika Ip Man hendak menyelamatkan anaknya di galangan kapal, di mana terlihat jelas adegan demi adegan seolah terpatah dan tidak bersambung, sementara setiap scene pertarungan Ip Man penuh jeda dan lamban. Ada rasa lelah dan kesal melihat betapa berharap kapan kecepatan seorang Ip Man muncul.

Kesia-siaan berikutnya adalah kehadiran Sarut Khanwilai, sejatinya seorang double Tony Jaa, yang seolah pengganggu enteng saja buat Ip Man. Padahal pertarungan antara Wing Chun dan Muay Thai juga sesuatu yang menarik untuk ditonton. Bahkan pertarungan terakhir antar dua jagoan Wing Chun pun tak semegah seharusnya. Meski jurus pamungkas "Pukulan Satu Inchi" ditampilkan di sini. Sayang sekali.

Sebagai sebuah film, konsistensi Donnie Yen untuk menghadirkan Ip Man dan Wing Chun patut diacungi jempol. Bisa dibilang saat ini ia telah menjadi ikon bintang laga Mandarin. Namun sebagai sebuah serial, Ip Man 3 jelas jauh di bawah dua film sebelumnya.

Tuesday, December 15, 2015

In The Heart of the Sea : Menemukan Nurani di Kerasnya Laut

Mengisahkan latar belakang penulisan Moby Dick, sebuah novel karya Herman Melville, yang bercerita tentang sekelompok pelaut yang berjuang bertahan hidup melawan paus sperma berukuran raksasa.

Film ini menceritakan Owen Chase (Chris Hemsworth), seorang pemburu paus yang meniti karir menjadi seorang kapten kapal sendiri, namun harus menghadapi kenyataan bahwa dalam industri perminyakan paus ini, terdapat pemodal yang lebih berkuasa, sehingga ia harus menerima hanya menjadi seorang Kelasi Satu bagi kapten pemula, George Pollard, seorang anak pengusaha sekaligus penerus dinasti Pollard yang telah bertahun-tahun bermain di industri ini. Bersama Essex, mereka ditarget 2.000 tong minyak paus yang harus mereka kejar melintasi samudra. Intrik dan konflik muncul seiring dengan perjalanan berbulan-bulan di laut hingga mereka mendapati kisah, terdapat surga bagi pemburu paus di suatu tempat yang dianggap tidak pernah ada paus. Karena ambisi dan keserakahan, mereka pun nekat meluncur ke sana. Dibekali keyakinan kuat, mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan lebih. Seekor paus ukuran raksasa melindungi para paus yang mereka buru. Membawa mereka ke dalam petualangan yang lebih gelap dan dalam di tengah heningnya samudera.

---

Film ini, melalui poster dan trailernya, menggambarkan kengerian sekelompok pelaut menghadapi seekor paus yang sangat besar. Dalam ceritanya sendiri, film ini lebih mengetengahkan karakter para kru Essex, mulai dari Pollard sang kapten, Chase yang berpengalaman namun belum diberi jabatan, dan para kru lainnya, termasuk Tom Nickerson muda, yang menjadi narasumber bagi Malville sebagai bahan garapan untuk novelnya. Ini adalah cerita di mana minyak masih ditambang dari paus, bukan dari perut bumi, sehingga pemburu paus memiliki kasta tersendiri di mata masyarakat, dan orang-orang kaya adalah mereka yang terjun di bisnis ini sejak lama.

Dengan dukungan teknologi terkini, visualisasi lautan luas penuh ombak dan badai menjadi apik terlihat. Paus-paus yang berenang menyemburkan air juga memikat kemeriahan awal dan pertengahan film. Belum lagi tata suara yang mendukung. Terkadang ramai, terkadang senyap. Bahkan kemunculan sang paus raksasa hampir menyerupai film horor yang menghantui penonton, yang sayangnya tidak intens ditonjolkan. Sekali lagi seolah menegaskan bahwa film ini bukaan tentang manusia melawan paus.

Kegetiran dan keputusasaan saat mereka terombang-ambing berbulan-bulan di lautan juga memberikan ketegangan tersendiri. Atau bagaimana mereka harus mengundi siapa yang harus mati agar yang lain dapat bertahan hidup. Tentu dengan batasan-batasan sehingga film ini tidak mendapat cap vulgar karena mempertontonkan darah dan kekejaman.

Boleh jadi, Chase terlalu agung untuk mati, sehingga ketika seorang Nickerson harus menjadi pengantar cerita, pun, ternyata bukan ia yang satu-satunya selamat dari peristiwa tersebut. Sehingga cerita pada bagian akhir tidak saja turun namun terjun drastis. Wajar saja jika anda sebagai penonton pada akhirnya merasa tidak puas, bahkan ada kesan dipaksakan.

---

Keberanian adalah menuju ke tempat yang tidak ada seorang pun berani melangkah ke sana. Seperti halnya Essex yang berani masuk ke lautan luas yang tak seorang pun meyakini tak ada paus, Nickerson seumur hidupnya mencoba mengubur tragedi tersebut bahkan dari istrinya sendiri, hingga ia berani mengungkapkannya pada Melville. Maka, keberanian seperti apakah yang sudah kita buktikan pada diri sendiri?

Victor Frankenstein : Melihat Monster Dalam Sisi Manusia



“It’s alive! It’s alive!”
Sepenggal kalimat ikonik dari kisah legendaris tentang monster buatan yang  menyedihkan bernama Frankenstein. Setelah beberapa kali difilmkan dan menjadi ‘cameo’ di beberapa film, kali ini tokoh Frankenstein muncul kembali dalam film dengan pendekatan yang berbeda.

Dikisahkan, seorang ilmuwan eksenstrik bernama Victor Frankenstein (James McAvoy) sedang berburu potongan-potongan tubuh hewan untuk dijadikan bahan eksperimennya. Perburuannya tersebut membawanya ke sebuah kelompok sirkus, di mana terdapat seorang ‘joker’ bungkuk, yang ternyata amat terobsesi dengan ilmu anatomi tubuh manusia. Dengan segara Victor menyadari bakat anak muda tersebut untuk kemudian membebaskannya dan membawanya ke kehidupannya. Victor pun memberinya nama : Igor Straussman.

Dengan bakat dan kecerdasannya, Igor (Daniel Radcliffe)mampu menjadi asisten yang luar biasa buat Victor. Mereka berhasil menghidupkan kembali simpanse Victor yang telah mati. Namun terjadi kecelakaan ketika mereka coba mempresentasikan eksperimen mereka di hadapan Royal Medicine. Simpanse tersebut tidak hanya hidup, tetapi justru malah mengamuk dan membuat kerusakan. Maka dengan terpaksa mereka membunuhnya. Sebuah tragedy, namun juga menjadi sebuah kesempatan. Keluarga Finnegan tertarik dengan ekseperimen tersebut dan bersedia mensponsori untuk misi yang lebih jauh. Membuat manusia hidup dan beradab.

***

Film ini mengambil sudut pandang penceritaan dari Igor Straussman, sang asisten, sekaligus menjadi sahabat bagi Victor Frankenstein. Seperti disebutkan pada awal film, seolah ada sebuah pertanyaan, apakah Victor membuat sebuah monster? Ataukah ia sendiri yang menjadi seorang monster?

Daniel Radcliff dengan apik memerankan sosok bungkuk yang bertransformasi menjadi seorang asisten yang cerdas, kritis, namun tetap setia. Bisa dibilang, dari penampilannya di beberapa film, ia sukses menghilangkan imej seorang Harry Potter yang telah melekat pada dirinya. James McAvoy juga berhasil menggambarkan sosok seorang ilmuwan gila. Seorang yang jenius sekaligus tenggelam dalam obsesinya akan kehidupan dan kematian sekaligus. Apatismenya akan kehadiran tuhan dan agama sebagai akibat tragedy hidupnya di masa lalu, baik diterjemahkan dalam laku gerak dan kata-katanya. Menggambarkan seorang yang ambisius pada satu hal, namun penuh keputusasaan pada hal lain.

Menghadirkan sosok Inspektur Turpin (Andrew Scott), seorang polisi yang juga penuh obsesi dengan menyelidiki eksperimen yang dilakukan oleh mereka berdua. Tak hanya hadir sebagai alat hukum, Turpin pun menjadi ‘polisi’ moral dan agama, yang mempertanyakan kelayakan eksperimen Victor melawan kekudusan penciptaan Tuhan.

Adegan yang melegenda dari kisah Frankenstein apalagi jika bukan saat sang manusia buatan dihidupkan dengan sambaran petir. Sebuah penggambaran monumental, hingga keluarlah seruan dari Victor yang terkenal itu. Seruan yang, sayangnya, tidak kita ditemui pada film Frankenstein versi ini. Apakah ini sebuah nilai minus? Tentu saja! Alih-alih member perspektif baru dalam sebuah kisah lawas, film ini seolah menjadi cerita sendiri yang meniru-niru plot Frankenstein.

Pada akhirnya, sosok manusia berwujud sempurna berhasil dibuat oleh Victor. Sosok yang diharapkan menjadi sebuah warisan akan namanya tercatat pada lembaran sejarah. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Lorelei, menghidupkan seseorang yang sudah mati dan menciptakan kehidupan dari sesuatu yang awalnya tidak ada, adalah dua hal yang berbeda. Victor harus menghadapi kenyataan, bahwa kehidupan yang telah diciptakannya, tak lantas benar-benar ‘hidup’. Tak lebih dari tulang dan daging yang berjalan. Sebuah mayat hidup dengan kekosongan jiwa. Hingga Victor mengerti, satu-satunya ciptaannya yang sempurna adalah Igor Straussman, sang asisten.

Hunger Games : Mockingjay Part II



Babak terakhir dari perjuangan para pemberontak melawan tirani Presiden Snow. Katniss Everdeen, Sang Mockingjay, harus memenuhi takdirnya sebagai penentu akhir peperangan antara Capitol dan para pejuang Distrik.

Pada bagian pertama ‘Mockingjay’, para pejuang berhasil membebaskan para tawanan, terutama Peeta yang telah dimanipulasi otaknya oleh tim dokter Capitol. Ini membuat Peeta tidak dapat membedakan kenyataan dan ilusi, sebagaimana ia telah diberi ingatan palsu bahwa Katniss adalah penyebab semua kekacauan dan pertumpahan darah yang terjadi. Antara kecewa dan putus asa, Katniss bertekad untuk langsung menuju Istana Capitol dan membunuh Snow dengan tangannya sendiri. Menyusup ke dalam skuadron tempur di baris depan, ia harus menyadari bahwa Presiden Coin dan Plutarch masih mencoba untuk memanfaatkan dirinya sebagai senjata propaganda. 

***

Film ini adalah bagian kedua dari Hunger Games : Mockingjay. Seolah semakin mempertegas tren Hollywood akan sebuah saga film, di mana satu judul buku bisa menjadi dua film (bahkan tiga untuk film tertentu). Sebagai bagian yang tidak terpisahkan, film ini masih dengan tone yang sama, dengan pola penyampaian cerita yang juga sama.  Beban Jennifer Lawrence semakin berat karena ia memegang nyawa film ini sebagai seorang Mockingjay, yang tidak hanya dituntut harus pandai dalam bertarung, tetapi juga dalam berorasi.

Berbeda dari sebelumnya, Mockingjay II dihiasi aksi yang cukup menegangkan. Tiap pemain semakin teruji kemampuannya dalam adegan peperangan. Pertarungan dengan para mutan memang mengingatkan akan film-film bertema zombie atau semacam itu. Namun dengan kealpaan hal ini pada film sebelumnya, justru menjadi penguat bahwa film ini bergenre aksi. Cerita yang sejak semula mengusung tema propaganda semakin kental di sini. Memang jika ditelisik, film ini sangat bergantung pada penceritaan yang harus kuat, selain ditopang oleh karakter dari masing-masing tokoh itu sendiri. Sebagai sebuah film bergenre young-adult, film ini justru sarat muatan politik dan  moral.

Sama seperti film sebelumnya, Mockingjay II seolah enggan mengakrabkan diri dengan peperangan. Hal ini ditunjukkan dengan penceritaan yang menjauh dari pusat peperangan dan justru focus pada obrolan para karakter itu sendiri. Sebagaimana yang ditampilkan dalam Mockingjay I ketika Distrik 13 diserbu pesawat Capitol namun tidak diperlihatkan, malah yang dipertontonkan adalah suasana penduduk dan pejuang di bunker yang sayangnya justru jauh dari suasana mencekam. Kali ini, mula peperangan dengan menjatuhkan bom untuk meruntuhkan gunung dan serangan awal ke Capitol juga dialihkan, lagi-lagi dengan percakapan soal moralitas dan strategi peperangan. Sebuah film aksi perang yang malu-malu?

Jennifer Lawrence sebagai Katniss masih belum bisa mengeluarkan aura seorang ‘Mockingjay’, orang yang bisa member pengaruh luas. Bahkan rasa merinding akibat pesona masih kalah jauh dibandingkan film pertamanya sendiri.  Jalan cerita yang bisa ditebak meski tanpa membaca novelnya, malah diperparah dengan ending yang memanjang dengan beberapa kali jeda tanpa keterkaitan. Bisa jadi beberapa kali penonton tertipu, mengira film telah usai, berdiri, untuk kemudian duduk lagi menonton adegan yang sebenarnya tak harus mereka tonton. Tidak berarti kemudian film ini tidak layak tonton, terutama bagi Anda penggemar film dengan tema politik dan propaganda.

***

Dengan kemasan cerita remaja yang dipenuhi kisah roman dan aksi peperangan, film ini justru memberi pesan kuat soal media framing dan propaganda. Seperti yang digambarkan, Katniss adalah tokoh propaganda pembakar semangat pemberontak sekaligus menjadi simbol perlawanan bagi Capitol. Baik Snow maupun Coin memberi sudut pandangnya sendiri dalam setiap peristiwa dan hasil pertempuran. Ketika Katniss tertembak, pihak Capitol dengan segera menayangkannya sebagai bagian propaganda bahwa Sang Mockingjay akhirnya dapat dijatuhkan dan menyemangati prajurit dan penduduk Capitol. Sebaliknya, bagi Coin, Katniss ditampilkan sebagai martir yang semakin memicu semangat para prajurit pemberontak dan memberi harapan. Bahkan ketika pada akhirnya istana Snow yang penuh anak-anak dijatuhkan bom dan memberikan kemenangan pada pihak pemberontak, penuh manipulasi dan tipu daya di sana, hingga Katniss menyadari, masa depan mereka di bawah kepemimpinan Coin yang masih prematur, ternyata tidak berbeda kondisinya ketika Snow masih berkuasa.  

Spectre : Ketika Masa Lalu Bond Mengancam Masa Depan Dunia



James Bond (Daniel Craig) melanjutkan petualangannya setelah terjadi pergolakan di markas MI6 (seperti yang diceritakan dalam Skyfall), hingga membawanya ke Meksiko untuk memburu tokoh teroris, Marco Sciarra, yang berniat mengebom sebuah stadion pada perayaan Hari Orang Mati. Dalam sebuah aksi yang menegangkan dan berbahaya, Bond berhasil mengambil cincin yang dianggap sebagai petunjuk atas banyak peristiwa teror di dunia.

Pada waktu yang bersamaan, di London, terjadi sebuah revolusi besar, di mana pemerintah berniat untuk menggabungkan MI6 dengan organisasi intelijen dari delapan negara lain dalam sebuah program yang digagas oleh C (Andrew Scott) juga sekaligus menghapus program “00” karena dianggap telah ketinggalan jaman dan akan digantikan dengan berbagai piranti teknologi yang jauh lebih canggih dan dapat lebih dikendalikan. Maka M (Ralph Fiennes) yang posisinya tertekan mendesak Bond untuk kembali dan tetap berada di London tanpa membuat masalah.

Di lain pihak, mengemban sebuah misi pribadi dari M terdahulu, Bond mencari berbagai petunjuk hingga ke Roma, untuk kemudian mendapati adanya sebuah organisasi rahasia yang mengatur berbagai teror yang telah dan akan terjadi di berbagai belahan dunia. Bond meyakini bahwa Oberhauser (Christoph Waltz), pemimpin organisasi ini, memiliki kaitan dengan dirinya di masa lalu. Petualangan membawanya kepada Madeleine Swann (Lea Seydoux), putri dari seorang anggota organisasi tersebut, yang bisa menunjukkan padanya kunci misteri dari organisasi kejahatan misterius : SPECTRE. 

***

Sejak tokoh James Bond diserahkan pada Daniel Craig mulai dari Casino Royal (2006), kisahnya selalu berkaitan dan berkelanjutan, termasuk untuk film keempatnya ini. Kali ini sineas mengangkat musuh klasik Bond yaitu Spectre, sebuah organisasi kejahatan misterius yang namanya bahkan sudah disebut sejak film pertama Bond, Dr. No (1962), yang mendalangi berbagai kejahatan dan hampir tidak ada satu pun tokoh antagonis dalam cerita James Bond yang tidak terafiliasi dengan Spectre. Maka pada ‘Spectre’ kali ini, penegasan tersebut coba ditunjukkan dengan menampilkan hubungan semua tokoh jahat sejak Casino Royal, Quantum of Solace, hingga Skyfall.

Sebagaimana banyak cerita detektif dan intelijen, film ini menawarkan berbagai pemandangan dari berbagai negara, mulai dari keriuhan Meksiko, eksotisme Italia, hingga gurun antah berantah Maroko. Sebuah nilai lebih dari film bergenre seperti ini. Sementara itu, tak banyak teknologi canggih yang dipertontonkan. Maklum, seperti inilah Bond era Craig, yang berbeda dengan Bond sebelumnya. Dengan hadirnya Q yang makin dominan dibanding kemunculan perdananya di Skyfall, Bond kali ini digambarkan bisa bekerja dalam tim, termasuk keterlibatan langsung M dalam kancah pertarungan.

Film ini semakin memberi hiburan bagi para penggemar James Bond. Selain kisahnya yang tetap setia pada novel (sama seperti ketiga film sebelumnya), film ini juga menggambarkan perkembangan karakter seorang James Bond hingga ia menjadi seorang agen 007 yang terkenal tersebut. Sementara itu, bagi mereka para penonton pemula, justru diberi kesempatan mengenal sosok James Bond secara utuh, karena sejak Casino Royal memang mengambil lini masa awal mula James Bond. Bagi beberapa penonton, film ini bisa jadi kurang memuaskan dahaga mereka akan aksi seperti ketiga film sebelumnya, meski pada adegan pembuka telah berhasil memberi ketegangan. Jalan ceritanya sendiri mudah ditebak.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan Q kali ini adalah robot nano yang ditanamkan pada darah James Bond, sehingga ia bisa melacak keberadaan Bond di mana pun di seluruh belahan dunia, pada saat kapan pun. Namun, Bond bisa lepas dari pengawasan selama 48 jam pertama karena berhasil berkompromi dengan Q. Sebuah penegasan, bahwa secanggih apapun teknologi, yang memegang peranan tetap orang di baliknya.

PAN : Sebelum Melegenda



Setelah puluhan tahun menjadi kisah legenda, sejak ditulis novelnya hingga diangkat ke layar lebar dalam bentuk film panjang atau pun serial animasi, kali ini Peter Pan kembali dihadirkan dalam format ‘live action’. Mengambil waktu sebelum pertentangannya dengan Capt. James Hook, Peter harus berhadapan dengan sosok bajak laut bernama Blakcbeard. 

Dikisahkan, Peter (Levi Miller) adalah anak yatim piatu penderita disleksia yang tinggal di sebuah panti asuhan yang menampung banyak anak, dijaga oleh para suster yang bengis. Peter percaya bahwa ia tak seharusnya berada di situ, bahwa ia memiliki orang tua yang menyayanginya. Sementara itu, Peter meyakini ada sebuah misteri yang menyelimuti panti asuhan tersebut. Karena, tidak jarang anak-anak yang ada di sana menghilang dalam satu malam. Dan para suster tahu bahkan terlibat dalam peristiwa itu. 

Penasaran dengan keadaan ini, Peter bersama teman-temannya mencoba menyelidiki, dengan pura-pura tidur untuk mengintip kejadian di kamar tersebut. Sebuah peristiwa yang menggemparkan terjadi. Dari atas atap, sekelompok orang mengambil satu demi satu anak-anak yang ada di sana, termasuk Peter. Mereka diculik oleh para bajak laut yang mengendarai kapal laut yang bisa terbang! Mereka pun dibawa menuju Neverland. 

Anak-anak yang diculik ini rupanya kemudian dijadikan pekerja tambang oleh Blackbeard (Hugh Jackman). Di sini, Peter berjumpa dengan James Hook (Garret Hedlund), yang ogah-ogahan menjadi temannya. Hingga dalam satu kejadian, ketika Peter dilempar dari kapal yang mengapung sebagai sebuah hukuman, Peter dapat terbang! Blakcbeard tercengang dan mengingatkannya akan sebuah cerita legenda, bahwa akan ada seorang anak yang bisa terbang yang akan melindungi dunia para peri dan menaklukkan Blackbeard.

***

Sebagai sebuah film bergenre fantasi, film ini memiliki semua hal untuk sukses dan enak ditonton. Dengan teknologi CGI yang mumpuni saat ini, semua adegan-adegan yang hanya bisa dibayangkan dapat diwujudkan dengan baik. Bahkan, sang sutradara mencoba menembus batas imaji penonton, dengan menggambarkan kapal bajak laut terbang berkejar-kejaran dengan pesawat angkatan udara Inggris. Lalu suasana pertambangan Neverland yang kering dan suram lengkap dengan kapal kapal laut-terbang yang bersandar, hingga warna-warni keceriaan suku terdalam Neverland ditampilkan dengan apik. 

Mengambil masa sebelum permusuhannya dengan Hook, film ini mencoba menjelaskan siapa sebenarnya Peter, mengapa ia bisa terbang, dan bagaimana perjumpaannya dengan Tiger Lily (Rooney Mara) dan Tinkerbell. Dengan alur cerita yang padat, durasi 111 menit menjadi tak bisa terlewat begitu saja hingga Anda sebagai penonton akan kehilangan beberapa detil yang diceritakan dalam film ini. 

Dengan kelebihannya dari sisi tampilan visual, film ini justru menyimpan kelemahan dari segmen penonton itu sendiri. Ceritanya terlalu kelam dan berat untuk anak-anak, bahkan mungkin cenderung kejam dan sadis, namun di saaat bersamaan malah membosankan dan terlalu bertele-tele untuk orang dewasa. Kisah awal berusaha mengangkat karakter Peter Pan justru habis dikuasai oleh karakter Blackbeard yang dominan. Bisa jadi, memang begini tren film Hollywood masa kini, di mana tokoh antagonis dimunculkan lebih kuat dari protagonis. Sementara James Hook di sini bukanlah Capt. Hook yang kita kenal selama ini, atau mungkin belum. Sebagaimana biasa, film ini pun menyimpan potensi sekuel untuk mengetengahkan perubahan hubungan persahabatan antara Peter dengan Hook menjadi sebuah permusuhan. 

Dengan semua petualangan dan sifat ceria dan antusias Peter di tengah semua kebingungan dan kesusahan yang menderanya, setidaknya ia mencoba mengajarkan sesuatu, “Aku mungkin bukan pahlawan seperti yang diramalkan. Tapi aku adalah diriku, anak dari ayah dan ibuku, dan aku akan berjuang bersama kalian”.