Tuesday, December 15, 2015

Victor Frankenstein : Melihat Monster Dalam Sisi Manusia



“It’s alive! It’s alive!”
Sepenggal kalimat ikonik dari kisah legendaris tentang monster buatan yang  menyedihkan bernama Frankenstein. Setelah beberapa kali difilmkan dan menjadi ‘cameo’ di beberapa film, kali ini tokoh Frankenstein muncul kembali dalam film dengan pendekatan yang berbeda.

Dikisahkan, seorang ilmuwan eksenstrik bernama Victor Frankenstein (James McAvoy) sedang berburu potongan-potongan tubuh hewan untuk dijadikan bahan eksperimennya. Perburuannya tersebut membawanya ke sebuah kelompok sirkus, di mana terdapat seorang ‘joker’ bungkuk, yang ternyata amat terobsesi dengan ilmu anatomi tubuh manusia. Dengan segara Victor menyadari bakat anak muda tersebut untuk kemudian membebaskannya dan membawanya ke kehidupannya. Victor pun memberinya nama : Igor Straussman.

Dengan bakat dan kecerdasannya, Igor (Daniel Radcliffe)mampu menjadi asisten yang luar biasa buat Victor. Mereka berhasil menghidupkan kembali simpanse Victor yang telah mati. Namun terjadi kecelakaan ketika mereka coba mempresentasikan eksperimen mereka di hadapan Royal Medicine. Simpanse tersebut tidak hanya hidup, tetapi justru malah mengamuk dan membuat kerusakan. Maka dengan terpaksa mereka membunuhnya. Sebuah tragedy, namun juga menjadi sebuah kesempatan. Keluarga Finnegan tertarik dengan ekseperimen tersebut dan bersedia mensponsori untuk misi yang lebih jauh. Membuat manusia hidup dan beradab.

***

Film ini mengambil sudut pandang penceritaan dari Igor Straussman, sang asisten, sekaligus menjadi sahabat bagi Victor Frankenstein. Seperti disebutkan pada awal film, seolah ada sebuah pertanyaan, apakah Victor membuat sebuah monster? Ataukah ia sendiri yang menjadi seorang monster?

Daniel Radcliff dengan apik memerankan sosok bungkuk yang bertransformasi menjadi seorang asisten yang cerdas, kritis, namun tetap setia. Bisa dibilang, dari penampilannya di beberapa film, ia sukses menghilangkan imej seorang Harry Potter yang telah melekat pada dirinya. James McAvoy juga berhasil menggambarkan sosok seorang ilmuwan gila. Seorang yang jenius sekaligus tenggelam dalam obsesinya akan kehidupan dan kematian sekaligus. Apatismenya akan kehadiran tuhan dan agama sebagai akibat tragedy hidupnya di masa lalu, baik diterjemahkan dalam laku gerak dan kata-katanya. Menggambarkan seorang yang ambisius pada satu hal, namun penuh keputusasaan pada hal lain.

Menghadirkan sosok Inspektur Turpin (Andrew Scott), seorang polisi yang juga penuh obsesi dengan menyelidiki eksperimen yang dilakukan oleh mereka berdua. Tak hanya hadir sebagai alat hukum, Turpin pun menjadi ‘polisi’ moral dan agama, yang mempertanyakan kelayakan eksperimen Victor melawan kekudusan penciptaan Tuhan.

Adegan yang melegenda dari kisah Frankenstein apalagi jika bukan saat sang manusia buatan dihidupkan dengan sambaran petir. Sebuah penggambaran monumental, hingga keluarlah seruan dari Victor yang terkenal itu. Seruan yang, sayangnya, tidak kita ditemui pada film Frankenstein versi ini. Apakah ini sebuah nilai minus? Tentu saja! Alih-alih member perspektif baru dalam sebuah kisah lawas, film ini seolah menjadi cerita sendiri yang meniru-niru plot Frankenstein.

Pada akhirnya, sosok manusia berwujud sempurna berhasil dibuat oleh Victor. Sosok yang diharapkan menjadi sebuah warisan akan namanya tercatat pada lembaran sejarah. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Lorelei, menghidupkan seseorang yang sudah mati dan menciptakan kehidupan dari sesuatu yang awalnya tidak ada, adalah dua hal yang berbeda. Victor harus menghadapi kenyataan, bahwa kehidupan yang telah diciptakannya, tak lantas benar-benar ‘hidup’. Tak lebih dari tulang dan daging yang berjalan. Sebuah mayat hidup dengan kekosongan jiwa. Hingga Victor mengerti, satu-satunya ciptaannya yang sempurna adalah Igor Straussman, sang asisten.

Hunger Games : Mockingjay Part II



Babak terakhir dari perjuangan para pemberontak melawan tirani Presiden Snow. Katniss Everdeen, Sang Mockingjay, harus memenuhi takdirnya sebagai penentu akhir peperangan antara Capitol dan para pejuang Distrik.

Pada bagian pertama ‘Mockingjay’, para pejuang berhasil membebaskan para tawanan, terutama Peeta yang telah dimanipulasi otaknya oleh tim dokter Capitol. Ini membuat Peeta tidak dapat membedakan kenyataan dan ilusi, sebagaimana ia telah diberi ingatan palsu bahwa Katniss adalah penyebab semua kekacauan dan pertumpahan darah yang terjadi. Antara kecewa dan putus asa, Katniss bertekad untuk langsung menuju Istana Capitol dan membunuh Snow dengan tangannya sendiri. Menyusup ke dalam skuadron tempur di baris depan, ia harus menyadari bahwa Presiden Coin dan Plutarch masih mencoba untuk memanfaatkan dirinya sebagai senjata propaganda. 

***

Film ini adalah bagian kedua dari Hunger Games : Mockingjay. Seolah semakin mempertegas tren Hollywood akan sebuah saga film, di mana satu judul buku bisa menjadi dua film (bahkan tiga untuk film tertentu). Sebagai bagian yang tidak terpisahkan, film ini masih dengan tone yang sama, dengan pola penyampaian cerita yang juga sama.  Beban Jennifer Lawrence semakin berat karena ia memegang nyawa film ini sebagai seorang Mockingjay, yang tidak hanya dituntut harus pandai dalam bertarung, tetapi juga dalam berorasi.

Berbeda dari sebelumnya, Mockingjay II dihiasi aksi yang cukup menegangkan. Tiap pemain semakin teruji kemampuannya dalam adegan peperangan. Pertarungan dengan para mutan memang mengingatkan akan film-film bertema zombie atau semacam itu. Namun dengan kealpaan hal ini pada film sebelumnya, justru menjadi penguat bahwa film ini bergenre aksi. Cerita yang sejak semula mengusung tema propaganda semakin kental di sini. Memang jika ditelisik, film ini sangat bergantung pada penceritaan yang harus kuat, selain ditopang oleh karakter dari masing-masing tokoh itu sendiri. Sebagai sebuah film bergenre young-adult, film ini justru sarat muatan politik dan  moral.

Sama seperti film sebelumnya, Mockingjay II seolah enggan mengakrabkan diri dengan peperangan. Hal ini ditunjukkan dengan penceritaan yang menjauh dari pusat peperangan dan justru focus pada obrolan para karakter itu sendiri. Sebagaimana yang ditampilkan dalam Mockingjay I ketika Distrik 13 diserbu pesawat Capitol namun tidak diperlihatkan, malah yang dipertontonkan adalah suasana penduduk dan pejuang di bunker yang sayangnya justru jauh dari suasana mencekam. Kali ini, mula peperangan dengan menjatuhkan bom untuk meruntuhkan gunung dan serangan awal ke Capitol juga dialihkan, lagi-lagi dengan percakapan soal moralitas dan strategi peperangan. Sebuah film aksi perang yang malu-malu?

Jennifer Lawrence sebagai Katniss masih belum bisa mengeluarkan aura seorang ‘Mockingjay’, orang yang bisa member pengaruh luas. Bahkan rasa merinding akibat pesona masih kalah jauh dibandingkan film pertamanya sendiri.  Jalan cerita yang bisa ditebak meski tanpa membaca novelnya, malah diperparah dengan ending yang memanjang dengan beberapa kali jeda tanpa keterkaitan. Bisa jadi beberapa kali penonton tertipu, mengira film telah usai, berdiri, untuk kemudian duduk lagi menonton adegan yang sebenarnya tak harus mereka tonton. Tidak berarti kemudian film ini tidak layak tonton, terutama bagi Anda penggemar film dengan tema politik dan propaganda.

***

Dengan kemasan cerita remaja yang dipenuhi kisah roman dan aksi peperangan, film ini justru memberi pesan kuat soal media framing dan propaganda. Seperti yang digambarkan, Katniss adalah tokoh propaganda pembakar semangat pemberontak sekaligus menjadi simbol perlawanan bagi Capitol. Baik Snow maupun Coin memberi sudut pandangnya sendiri dalam setiap peristiwa dan hasil pertempuran. Ketika Katniss tertembak, pihak Capitol dengan segera menayangkannya sebagai bagian propaganda bahwa Sang Mockingjay akhirnya dapat dijatuhkan dan menyemangati prajurit dan penduduk Capitol. Sebaliknya, bagi Coin, Katniss ditampilkan sebagai martir yang semakin memicu semangat para prajurit pemberontak dan memberi harapan. Bahkan ketika pada akhirnya istana Snow yang penuh anak-anak dijatuhkan bom dan memberikan kemenangan pada pihak pemberontak, penuh manipulasi dan tipu daya di sana, hingga Katniss menyadari, masa depan mereka di bawah kepemimpinan Coin yang masih prematur, ternyata tidak berbeda kondisinya ketika Snow masih berkuasa.  

Spectre : Ketika Masa Lalu Bond Mengancam Masa Depan Dunia



James Bond (Daniel Craig) melanjutkan petualangannya setelah terjadi pergolakan di markas MI6 (seperti yang diceritakan dalam Skyfall), hingga membawanya ke Meksiko untuk memburu tokoh teroris, Marco Sciarra, yang berniat mengebom sebuah stadion pada perayaan Hari Orang Mati. Dalam sebuah aksi yang menegangkan dan berbahaya, Bond berhasil mengambil cincin yang dianggap sebagai petunjuk atas banyak peristiwa teror di dunia.

Pada waktu yang bersamaan, di London, terjadi sebuah revolusi besar, di mana pemerintah berniat untuk menggabungkan MI6 dengan organisasi intelijen dari delapan negara lain dalam sebuah program yang digagas oleh C (Andrew Scott) juga sekaligus menghapus program “00” karena dianggap telah ketinggalan jaman dan akan digantikan dengan berbagai piranti teknologi yang jauh lebih canggih dan dapat lebih dikendalikan. Maka M (Ralph Fiennes) yang posisinya tertekan mendesak Bond untuk kembali dan tetap berada di London tanpa membuat masalah.

Di lain pihak, mengemban sebuah misi pribadi dari M terdahulu, Bond mencari berbagai petunjuk hingga ke Roma, untuk kemudian mendapati adanya sebuah organisasi rahasia yang mengatur berbagai teror yang telah dan akan terjadi di berbagai belahan dunia. Bond meyakini bahwa Oberhauser (Christoph Waltz), pemimpin organisasi ini, memiliki kaitan dengan dirinya di masa lalu. Petualangan membawanya kepada Madeleine Swann (Lea Seydoux), putri dari seorang anggota organisasi tersebut, yang bisa menunjukkan padanya kunci misteri dari organisasi kejahatan misterius : SPECTRE. 

***

Sejak tokoh James Bond diserahkan pada Daniel Craig mulai dari Casino Royal (2006), kisahnya selalu berkaitan dan berkelanjutan, termasuk untuk film keempatnya ini. Kali ini sineas mengangkat musuh klasik Bond yaitu Spectre, sebuah organisasi kejahatan misterius yang namanya bahkan sudah disebut sejak film pertama Bond, Dr. No (1962), yang mendalangi berbagai kejahatan dan hampir tidak ada satu pun tokoh antagonis dalam cerita James Bond yang tidak terafiliasi dengan Spectre. Maka pada ‘Spectre’ kali ini, penegasan tersebut coba ditunjukkan dengan menampilkan hubungan semua tokoh jahat sejak Casino Royal, Quantum of Solace, hingga Skyfall.

Sebagaimana banyak cerita detektif dan intelijen, film ini menawarkan berbagai pemandangan dari berbagai negara, mulai dari keriuhan Meksiko, eksotisme Italia, hingga gurun antah berantah Maroko. Sebuah nilai lebih dari film bergenre seperti ini. Sementara itu, tak banyak teknologi canggih yang dipertontonkan. Maklum, seperti inilah Bond era Craig, yang berbeda dengan Bond sebelumnya. Dengan hadirnya Q yang makin dominan dibanding kemunculan perdananya di Skyfall, Bond kali ini digambarkan bisa bekerja dalam tim, termasuk keterlibatan langsung M dalam kancah pertarungan.

Film ini semakin memberi hiburan bagi para penggemar James Bond. Selain kisahnya yang tetap setia pada novel (sama seperti ketiga film sebelumnya), film ini juga menggambarkan perkembangan karakter seorang James Bond hingga ia menjadi seorang agen 007 yang terkenal tersebut. Sementara itu, bagi mereka para penonton pemula, justru diberi kesempatan mengenal sosok James Bond secara utuh, karena sejak Casino Royal memang mengambil lini masa awal mula James Bond. Bagi beberapa penonton, film ini bisa jadi kurang memuaskan dahaga mereka akan aksi seperti ketiga film sebelumnya, meski pada adegan pembuka telah berhasil memberi ketegangan. Jalan ceritanya sendiri mudah ditebak.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan Q kali ini adalah robot nano yang ditanamkan pada darah James Bond, sehingga ia bisa melacak keberadaan Bond di mana pun di seluruh belahan dunia, pada saat kapan pun. Namun, Bond bisa lepas dari pengawasan selama 48 jam pertama karena berhasil berkompromi dengan Q. Sebuah penegasan, bahwa secanggih apapun teknologi, yang memegang peranan tetap orang di baliknya.

PAN : Sebelum Melegenda



Setelah puluhan tahun menjadi kisah legenda, sejak ditulis novelnya hingga diangkat ke layar lebar dalam bentuk film panjang atau pun serial animasi, kali ini Peter Pan kembali dihadirkan dalam format ‘live action’. Mengambil waktu sebelum pertentangannya dengan Capt. James Hook, Peter harus berhadapan dengan sosok bajak laut bernama Blakcbeard. 

Dikisahkan, Peter (Levi Miller) adalah anak yatim piatu penderita disleksia yang tinggal di sebuah panti asuhan yang menampung banyak anak, dijaga oleh para suster yang bengis. Peter percaya bahwa ia tak seharusnya berada di situ, bahwa ia memiliki orang tua yang menyayanginya. Sementara itu, Peter meyakini ada sebuah misteri yang menyelimuti panti asuhan tersebut. Karena, tidak jarang anak-anak yang ada di sana menghilang dalam satu malam. Dan para suster tahu bahkan terlibat dalam peristiwa itu. 

Penasaran dengan keadaan ini, Peter bersama teman-temannya mencoba menyelidiki, dengan pura-pura tidur untuk mengintip kejadian di kamar tersebut. Sebuah peristiwa yang menggemparkan terjadi. Dari atas atap, sekelompok orang mengambil satu demi satu anak-anak yang ada di sana, termasuk Peter. Mereka diculik oleh para bajak laut yang mengendarai kapal laut yang bisa terbang! Mereka pun dibawa menuju Neverland. 

Anak-anak yang diculik ini rupanya kemudian dijadikan pekerja tambang oleh Blackbeard (Hugh Jackman). Di sini, Peter berjumpa dengan James Hook (Garret Hedlund), yang ogah-ogahan menjadi temannya. Hingga dalam satu kejadian, ketika Peter dilempar dari kapal yang mengapung sebagai sebuah hukuman, Peter dapat terbang! Blakcbeard tercengang dan mengingatkannya akan sebuah cerita legenda, bahwa akan ada seorang anak yang bisa terbang yang akan melindungi dunia para peri dan menaklukkan Blackbeard.

***

Sebagai sebuah film bergenre fantasi, film ini memiliki semua hal untuk sukses dan enak ditonton. Dengan teknologi CGI yang mumpuni saat ini, semua adegan-adegan yang hanya bisa dibayangkan dapat diwujudkan dengan baik. Bahkan, sang sutradara mencoba menembus batas imaji penonton, dengan menggambarkan kapal bajak laut terbang berkejar-kejaran dengan pesawat angkatan udara Inggris. Lalu suasana pertambangan Neverland yang kering dan suram lengkap dengan kapal kapal laut-terbang yang bersandar, hingga warna-warni keceriaan suku terdalam Neverland ditampilkan dengan apik. 

Mengambil masa sebelum permusuhannya dengan Hook, film ini mencoba menjelaskan siapa sebenarnya Peter, mengapa ia bisa terbang, dan bagaimana perjumpaannya dengan Tiger Lily (Rooney Mara) dan Tinkerbell. Dengan alur cerita yang padat, durasi 111 menit menjadi tak bisa terlewat begitu saja hingga Anda sebagai penonton akan kehilangan beberapa detil yang diceritakan dalam film ini. 

Dengan kelebihannya dari sisi tampilan visual, film ini justru menyimpan kelemahan dari segmen penonton itu sendiri. Ceritanya terlalu kelam dan berat untuk anak-anak, bahkan mungkin cenderung kejam dan sadis, namun di saaat bersamaan malah membosankan dan terlalu bertele-tele untuk orang dewasa. Kisah awal berusaha mengangkat karakter Peter Pan justru habis dikuasai oleh karakter Blackbeard yang dominan. Bisa jadi, memang begini tren film Hollywood masa kini, di mana tokoh antagonis dimunculkan lebih kuat dari protagonis. Sementara James Hook di sini bukanlah Capt. Hook yang kita kenal selama ini, atau mungkin belum. Sebagaimana biasa, film ini pun menyimpan potensi sekuel untuk mengetengahkan perubahan hubungan persahabatan antara Peter dengan Hook menjadi sebuah permusuhan. 

Dengan semua petualangan dan sifat ceria dan antusias Peter di tengah semua kebingungan dan kesusahan yang menderanya, setidaknya ia mencoba mengajarkan sesuatu, “Aku mungkin bukan pahlawan seperti yang diramalkan. Tapi aku adalah diriku, anak dari ayah dan ibuku, dan aku akan berjuang bersama kalian”.

Thursday, December 3, 2015

Legend : Tom Hardy as He is

Tom Hardy berperan sebagai dua saudara kembar, Reginald 'Reggie" Kray dan Ronald 'Ronnie' Kray. Dua orang gembong mafia The Firm di London pada tahun 1960-an. Diangkat dari kisah nyata, Tom Hardy menunjukkan kepantasannya sebagai salah satu aktor pria terbaik saat ini.

***

Reginald dan Ronald Kray merupakan dua bersaudara yang bercita-cita menguasai dunia bawah kota London. Memulai dari bawah, sebagai pemilik klub dan kasino, mereka membentuk The Firm yang secara perlahan mulai mengganggu kemapanan gang lain yang sudah ada. Salah satunya adalah Richardson bersaudara. Hingga akhirnya mereka bisa menyingkirkan semua pesaingnya dan menguasai London.


Meski bercerita tentang dua bersaudara Reg dan Ron Kray, namun film ini memfokuskan pada Reg, dengan narasi cerita dibawakan oleh Frances Shea, sang istri Reg, yang mati bunuh diri pada tahun 1967. Ron sendiri digambarkan seorang gay dengan kepribadian yang labil dan membutuhkan obat secara rutin untuk dapat mengendalikan dirinya. Memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Reg, mereka berdua justru, sebagaimana saudara seharusnya, kompak mengumpulkan pengikut dan menguasai London.

Sebagai mafia, mereka menguasai klub dan kasino, jasa keamanan dan perlindungan, juga berbagai aksi kekerasan lainnya. Kisah cinta Reg dan Frances mempersulit relasinya dengan Ron yang merasa Reg mulai meninggalkan dunia mereka untuk mencoba hidup jujur. Konflik internal, ditambah skandal homoseksual yang dibuat Ron hingga melibatkan para politisi membuat mereka berada di bawah pengawasan Scotland Yard, yang menunggu celah untuk dapat menjatuhkan mereka.

***

Daya tarik dan nilai jual utama film ini tentu tidak lain sosok Tom Hardy yang semakin diperhitungkan sebagai seorang aktor, tak hanya untuk urusan laga, namun juga akting yang menawan (seperti pada Locke). Ditunjang divisi make up khusus yang mumpuni, menjadikan Reg dan Ron dua sosok yang secara fisik memang berbeda. Penampilan Reg yang kalem dan berwibawa, sebagai seorang pemimpin juga sekaligus sebagai adik, ditampilkan dengan lugas. Sementara pembawaan Ron yang labil, kadang cerdas namun sesekali juga beringas layaknya psycho, juga tampil menonjol. Emily Browning, di sisi lain, juga seperti biasa membawakan diri sebagai Frances Shea yang tampak menyedihkan.

Hardy memang layak mendapatkan kredit khusus dalam penampilan ini, baik sebagai Reg maupun Ron. Keduanya memberikan kekuatan dan warna yang berbeda dalam setiap adegan. Relasi di antara keduanya, yang terkadang intim, di saat lain bersitegang, juga memberikan suasana kekeluargaan yang erat. Film ini tidak hanya bercerita soal mafia dan gang yang berebut kekuasaan. Jadi, tak perlu berkomentar, "Masa cuma ngobrol aja nih film, kapan berantemnya?"


***

Notable scene :
Ketika dengan brutal Reg menikam DeVitt dengan sebilah pisau berkali-kali hingga tewas, dengan santai dan lugunya Ron bertanya,
"Mengapa kau melakukan itu (membunuhnya)?"
Reg, dengan berbisik sambil menahan amarah menjawab,
"Aku tidak bisa membunuhmu, betapapun besar keinginanku"

Friday, November 13, 2015

The Last Witch Hunter : Era Baru Pemburu Penyihir Versi Diesel

Setelah berbagai kegagalan menerpa film dengan tema penyihir dan masa kegelapan sejak era Sorcerer’s Apprentice-nya Nicholas Cage hingga Seventh Son, Hollywood masih belum kapok menghadirkan tema yang sama. Kali ini Vin Diesel mencoba peruntungannya dan keluar dari bayang-bayang Fast Furious yang telah melambungkan namanya. 
 
Berperan sebagai Kaulder, seorang pemburu penyihir yang memiliki misi memburu Ratu Penyihir (Julie Engelbrecht) yang telah melepas kutukan wabah dan membunuh ribuan orang. Mendesak Ratu Penyihir hingga ke sarangnya, Kaulder berhasil membunuh Ratu Penyihir namun dengan imbalan sebuah kutukan, bahwa ia akan hidup selamanya dalam kesendirian.
 
Berselang 800 tahun kemudian, di New York pada masa kini, Kaulder mengabdi pada Ordo Kapak dan Salib untuk menjaga perdamaian dunia dari para penyihir yang nyata hidup di antara para manusia dengan aturan yang dibuat oleh Dewan Penyihir. Adalah tugas Kaulder dan Ordo untuk memastikan tidak ada penyihir yang melanggar batas aturan, atau mereka akan dimasukkan dalam penjara penyihir. 
 
Bencana hadir ketika Dolan ke-36 (Michael Caine), merupakan pendamping, asisten, penasihat, sekaligus sahabatnya selama 50 tahun, diserang secara misterius oleh penyihir. Sementara penggantinya, Dolan ke-37 (Elijah Wood), masih cukup ‘hijau’ untuk dapat mendampingi dalam memburu penyihir tersebut. Merasa ada yang tidak beres, bersama Chloe (Rose Leslie), seorang penyihir penjelajah mimpi, bertiga mereka menghadapi ancaman yang datang : Kebangkitan Ratu Penyihir. 
 
***
 
Bagaimana seorang Vin Diesel tanpa balap mobil dan aksi menegangkan memicu adrenalin? Kurang lebih seperti itu pikiran pertama ketika melihat namanya menjadi tokoh utama film ini. Namun hadirnya Elijah Wood dan Michael Caine setidaknya memberi jaminan bahwa film ini seharusnya bukan film asal-asalan. Dan itu terbukti. 
 
Ditunjang dengan efek visual yang wah, film ini bisa menggambarkan aksi sihir dan bertarung yang cukup baik, dengan porsi berkelahi jalanan yang sedikit, membuatnya layak jadi tontonan hiburan. Kisahnya sendiri menarik, dengan sedikit twist membuatnya tidak terlalu gampang ditebak. Kaulder digambarkan seorang jagoan abadi yang hidup dalam kesendirian selalu dihantui kenangan akan anak dan istrinya yang tewas akibat kutukan wabah, ditemani seorang pendamping tua nan bijaksana yang kemudian digantikan sosok yang lebih muda namun lebih ‘up to date’ untuk menunjang misinya, lalu jalinan kasih yang dibangun dengan sosok penyihir muda dalam diri Chloe hingga pertarungan terakhir memecahkan misteri sekaligus menyambut kebangkitan musuh besarnya, Ratu Penyihir, semua dikemas secara padat dalam masa tayang +/- 2 jam. 
 
Beberapa hal yang mungkin agak mengganggu adalah Diesel seolah tak bisa dipisahkan dari mobil balap, meski hanya porsi kecil kehadirannya. Caine, yang tak sebijaksana Alfred dalam Trilogi Batman, atau pun Elijah Wood yang seolah tak punya jatah bermain cukup di sini, meski justru secara cerita memegang kunci misteri terpenting. Setidaknya, film ini bisa lebih baik daripada Sorcerer’s Apprentice yang cenderung menjadi lelucon. Sebuah alternatif kekosongan film-film box office pada bulan ini.

Wednesday, September 2, 2015

Inside Out : Warna Warni Emosi

Ketika Riley terlahir, bersama dalam ingatannya terlahir lima karakter. Mereka adalah Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Dipimpin oleh Joy, mereka menjaga emosi Riley sedemikian rupa untuk menjalani kehidupannya. Semua baik-baik saja, hingga akhirnya Riley harus pindah, dari Minnesota ke San Fransisco, bersama orang tuanya.

-------

Sebuah film karya Disney Pixar kembali hadir tahun ini, masih dengan formula yang sama. Tentang kekeluargaan. Kali ini, tokoh yang dihadirkan adalah penggawa emosi yang diibaratkan selalu mewakili diri manusia, berupa kesenangan, kesedihan, rasa takut, marah, ataupun jijik. Dengan cerdas pembuat film memainkan warna dalam tokoh karakter ini.

Sudah bukan hal asing jika Disney-Pixar sangat jago dalam hal visual seperti ini. Sebuah tontonan yang menarik minat tak hanya orang dewasa, tetapi juga hingga anak anak. Wajar saja, selain para tokohnya, suasana film dibuat sedemikian rupa, seperti bola bola ingatan Riley yang warna warni mengikuti emosi yang tersimpan di dalamnya.

Film ini sendiri mencoba menggali dan menggambarkan seperti apa dunia ingatan dalam kepala manusia. Di dalamnya ada lemari penuh bola ingatan sebagai perlambang memori jangka panjang. Atau tokoh berupa gajah dengan badan gula gula dengan ekor kucing, mewakili tokoh khayalan yang jamak dimiliki setiap anak (di Amerika?). Atau sebuah jurang dalam berupa sampah ingatan, yaitu tempat di mana ingatan ingatan dibuang karena telah dilupakan oleh manusianya.

Misi dari Joy dan teman-temannya di sini adalah menjaga agar Riley hanya menjalani hidup senang dan bahagia, dan memenuhi ingatannya dengan hal hal menyenangkan saja. Hal hal yang digambarkan membangun istana keluarga, melambangkan bagaimana kehangatan dan keceriaan keluarga. Atau istana persahababatan, yang menunjukkan senang dan serunya Riley menghabiskan waktu dengan sahabat masa kecilnya. Namun ujian muncul ketika Sadness, yang jelas bertolak belakang dengan Joy, mencoba untuk mencari eksistensi dirinya, menyentuh ingatan ingatan Riley dan mengubah emosinya, hingga mereka tersedot ke dalam inti ingatan, menjelajahi setiap ingatan Riley.

Di sinilah inti cerita bermain, bahwa hidup tak hanya soal senang. Di dalamnya ada kesedihan, ada kegetiran, ada ketakutan, kekhawatiran, dan kemarahan. Bahwa ternyata dalam setiap peristiwa hidup, tak hanya tentang satu dua emosi, tapi bagaimana semua emosi yang kita bisa miliki tertumpah di situ. Seperti halnya pencerahan yang diterima Joy, bahwa tak ada kesenangan, tanpa kesedihan. Bahwa sebuah ingatan, bisa dimaknai dengan emosi yang berbeda beda, dalam kesempatan yang berbeda, dan tidak ada yang salah dengan emosi selain kesenangan.

Film ini sendiri, terlepas dari visualnya yang memukau, tentu belum menjadi santapan anak anak, layaknya 'Up' atau 'Monster', apalagi 'Finding Nemo'. Film ini tentu lebih cocok bagi orang dewasa untuk memahami remaja dan anak anak, karena terkadang apa yang terlihat tak selalu berarti sama dengan apa yang dirasakan.

Hal yang terkesan menyimpang adalah bagaimana kelima tokoh yang mewakili emosi ini justru menjelajahi ingatan. Yang membuat pertanyaan, apakah film ini bercerita tentang inti emosi manusia, atau permainan ingatan belaka?

Film ini cukup menyentuh, berkesan, walau mungkin akan mengecewakan karena harus 'mikir'. Relatif, tentu saja. Tapi orisinalitasnya membuat 8.5/10 tidaklah berlebihan.

Tuesday, January 20, 2015

Reviu Film Sepanjang 2014 (Yang Telah Ditonton)

Sepanjang tahun 2014 yang telah berlalu. Saya sudah menyaksikan beberapa film yang tayang langsung di gerai jaringan XXI dan Cinemaxxx. Ada yang sengaja ditonton karena sepertinya bagus, ada juga unsur ketidaksengajaan yang mengundang saya ke sana.
Dari beberapa film tersebut, setidaknya ada 22 catatan yang saya buat terkait film-film yang sudah saya tuangkan pada lama akun facebook saya. Selanjutnya, setidaknya saya mencoba membuat daftar '5 Film Terbaik 2014', sesuatu yang mudah tapi susah. Susah, karena film-film tersebut berbeda dalam genre dan tema. Ada drama, lebih banyak aksi. Ada juga animasi. Ada produksi dalam negeri. Rasanya sungguh tidak adil mempertandingkan film-film berbeda lalu memberi rangking. 

Pun begitu, saya akan menuliskan 5 film setidaknya mewakili setiap segmen, tanpa urutan rangking, seperti berikut ini :
  • How To Train Your Dragon 2. sebagai wakil dari film animasi. Kisah yang semakin padat daripada film pertama, ditambah dengan naga yang semakin banyak dengan adegan peperangan yang juga beragam, membuatnya layak masuk daftar. Boleh jadi (seharusnya) Big Hero 6 akan dibuat sekuel yang jauh lebih baik.
  •  Dawn of The Planet of The Apes. Juga film sekuel. Film yang penuh CGI ini harus saya bandingkan dengan Guardian of The Galaxy dan Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT), dan saya memilih film ini karena punya nilai yang lebih solid dalam filmnya.
  • The Maze Runner. Dari beberapa film young-adult yang beredar, mulai dari Hunger Games, Divergent, dll, saya lebih memilih film ini karena film ini terasa lebih maskulin. Patut ditunggu apakah sekuelnya masih bisa sekuat yang pertama
  • Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Film ini jelas lebih masuk pilihan buat saya daripada Pendekar Tongkat Emas sebagai dua film Indonesia yang saya tonton pada 2014. Terlepas dari beberapa catatan minus yang saya buat di reviu, film ini menunjukkan bahwa sineas Indonesia pada akhirnya bisa mewujudkan novel-to-movie dengan baik
  • The Fault in Our Stars. Genre drama remaja yang jauh dari kata cengeng, bisa dibilang yang terbaik dari seluruh film yang ada. Dialog yang berisi dan cerdas, jalinan kisah yang simpel tapi tetap menarik dari awal sampai akhir adalah kekuatan film ini.
Tentu saja, semua itu berdasarkan selera dan ketersediaan waktu untuk menyaksikan banyak film yang tayang. Kesimpulan sederhananya, Tahun 2014 adalah tahun yang memberi banyak ekspektasi atas film bagus tapi ternyata realisasinya, setelah ditonton, justru jauh dari harapan. Semoga hal demikian tidak terjadi di Tahun 2015 ini.

Blackhat : Meretas Dunia Global dari Jakarta?

Siapa yang merindukan film aksi menawan nan cerdas seperti Collateral? Atau remake serial klasik Miami Vice? Michael Mann layaknya seorang yang tau bagaimana menyajikan sebuah film aksi alternatif, tidak membosankan, bahkan memberi suasana berbeda.

Blackhat berkisah tentang peretasan yang mengakibatkan terjadi kerusakan pada mesin pembangkit di Cina (ya, Cina, bukan Tiongkok), menyebabkan pembangkit tersebut meledak, meleleh, dan menimbulkan korban. Kapten Chen Da Wai (Wong Leehom) yang menjadi penanggung jawab kasus ini meminta pada atasannya agar dapat bekerja sama dengan FBI, karena Amerika Serikat ternyata mengalami serangan yang sama. Hanya saja, AS lebih baik dalam bertahan sehingga tidak terjadi kekacauan. Di saat melihat kode yang dibuat peretas, Chen menyadari satu hal, kode tersebut dibuat oleh ia dan kolega kampusnya semasa di MIT dulu, Nicholas Hathaway (Chris Hemsworth). Masalahnya, Nick sedang ditahan di penjara karena kejahatan transaksi elektronik yang dilakukannya. Maka, Chen secara khusus meminta Nick dibebaskan dan masuk dalam tim mengejar 'Blackhat'.

Plot yang disajikan pada film ini sebenarnya sederhana. Tidak ada yang baru juga. Tema peretasan dan kecanggihan teknologi daring sudah beberapa kali ditampilkan Hollywood, mulai dari Enemy Of The State hingga Eagle Eye. Boleh jadi yang menarik perhatian, bagaimana Mann menggiring film ini menjadi layak tonton.

Sayangnya, untuk durasi 130 menit, film ini terlalu lama. Lama, karena banyaknya adegan yang tidak perlu dan tak seharusnya berpanjang-panjang. Pembukaan film yang menampilkan arus data mulai dari kabel, motherboard, hingga bagian mikroskopik dari chip memang menarik, jika saja tidak menghabiskan hampir 10 menit hanya untuk itu saja. Lagipula, film-film tentang peretas di masa lalu sudah pernah melakukannya. Atau, adegan helikopter penyerbuan Chen dan tim menuju kediaman Elias Kassar, terlalu lama durasinya. Sementara, begitu banyak cerita yang justru melompat-lompat, seolah tidak runut.

Keseruan Chen dan Nick dalam mengejar 'blackhat' diperparah dengan solusi yang muncul begitu saja di depan mata. Seberapa hebatnya seorang Nick? Jika melihat dari film ini, rasanya ada begitu banyak peretas yang bisa melakukan apa yang ia lakukan. Bahkan usahanya menembus keamanan NSA untuk mengambil program Black Widow pun terasa kacangan. Lagi-lagi, semua solusi, termasuk arus uang bank yang berputar keliling dunia bisa dengan gampangnya dipindahkan ke satu rekeningnya.

Hal menarik dari Mann adalah olah visualnya dengan shaky cam, biasanya menggunakan camera digital yang menampilkan gambar video yang seolah tidak diolah khusus untuk tayangan sebuah film besar, lebih seperti kameramen amatir. Parahnya, ini terjadi di adegan tembak-tembakan yang paling banyak dan lama, di dermaga. Hampir tidak bisa dibedakan dengan tampilan visual sinetron Indonesia. Serial keluaran barat bahkan jauh lebih baik terasa. Sementara kamera gerak sangat apik ditampilkan di Collateral, di sini, malah mengganggu kenikmatan.

Jika ada yang menghibur dari film ini, tentunya ketika Jakarta tidak hanya disebut, tetapi menjadi bagian penting, karena puncak film ini justru terjadi di depan patung selamat datang. Walaupun, penggambaran Jakarta lagi lagi terlihat kotor dan kumuh, jauh dari tampilan yang layak untuk mempromosikan diri, itu pun jika pihak Indonesia dilibatkan dalam ajang promosi kota. Sepertinya tidak. Parade tari bali di Papua Square di Jakarta? Sebelumnya, memangnya Papua Square betul ada? Lagipula, ada bule main pukul masa' sekian ratus orang tidak marah dan membalas? Malah cuek saja? Belum lagi kemudian jadi korban tembak-tembakan di tengah lapangan?

Pada akhirnya, satu pesan dari film ini adalah, jika Anda tertembak, obati saja dengan Betadin!

Thursday, January 8, 2015

Taken 3 : It Ends Here, Obviously

Instalmen terakhir film Taken akhirnya tayang juga. Setelah sebelumnya dikabarkan Liam Neeson menolak untuk berperan lagi dalam film ini. Ada sebuah kerinduan tersendiri akan karakter Bryan Mills, seorang kepala keluarga yang melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya : Anak gadis dan mantan istrinya.

Ketika berhembus kabar akan dibuat film ketiga, satu pertanyaan yang muncul : Siapa lagi yang akan diculik kali ini. Dan, Taken 3 menjawabnya dengan tegas : Tidak Ada! Ya, film ini sedari awal telah meruntuhkan premisnya sendiri. Jika di film pertama, Kim Mills (Maggie Grace) telah diculik, lalu istrinya, Lerone 'Lennie' Mills (Famke Janssen) diculik pada film kedua, maka pada film ketiga ini yang dijual adalah fitnah pembunuhan terhadap Lennie yang dituduhkan kepada Bryan.

Untuk sebuah film aksi di mana cerita sudah diketahui jalannya dari awal hingga akhir, apa yang bisa ditawarkan? Tentu saja aksinya. Maka patut disimak seperti apa aksi dalam Taken 3 kali ini. Pertama, tentu saja terlihat betapa lamban dan lelahnya seorang Liam Neeson ketika harus beraksi berlari, melompati pagar menerobos rumah, hingga kebut-kebutan di jalan raya, sampai akhirnya beradu pukul dan tembak-tembakan. Saat kita berharap sineas memiliki kecerdasan yang cukup untuk menutupi hal tersebut, justru sangat terlihat bagaimana adegan berkelahi yang menjadi ciri khas Neeson justru tidak terlihat. Adegan berlangsung lambat, patah-patah seperti menderita editan serius, hingga pengambilan gambar yang terlalu 'close up' yang membuat kita tidak bisa melihat siapa berbuat apa. Hal ini sangat terlihat saat Bryan menyerang sekelompok rusia pembunuh istrinya di liquor store, beberapa saat setelah ia berikut mobilnya ditabrak jatuh ke tebing.

Senada dengan perkelahiannya, film ini juga minim dengan aksi tembak tembakan dan ledakan yang juga sudah menjadi ciri khas. Bahkan saat adegan yang seolah menjadi puncak film ini, ketika Bryan menyerang markas Oleg Malankov (Sam Spruell), lagi lagi kamera close up mengganggu kenikmatan visual. Ada orang yang tampaknya tertembak, begitu kira kira. Semua juga berlangsung cepat dan tanpa kesan. bahkan ketika kematian diberikan pada Oleg, minim dramatisasi.

Adegan kebut kebutan satu satunya di jalan raya malah awalnya membingungkan. Apakah dia berada di dalam van hitam ataukah mobil polisi? Semua kejadian seperti terpotong potong, layar demi layar, cenderung melelahkan, bahkan.

Karena film ini tidak bercerita tentang penculikan, maka teknik mencari jejak yang biasa dilihat pada dua filmnya pun otomatis menghilang. Bisa jadi, demi menutupi kelelahannya, dihadirkan teman-teman Bryan Mills. Seolah ini adalah sebuah film tim layaknya The A Team. Sayangnya, kehadiran mereka pun tak cukup mengangkat beban film ini yang demikian berat kehilangan ruhnya.

Apakah kemudian film ini tidak menarik sama sekali? Tentu tidak. Agen Franck Dotzler (Forest Whitaker) hadir memberi kesegaran sebagai lawan yang imbang bagi Bryan. Kecerdasannya membuatnya selalu di jalan yang tepat untuk mengejar Bryan, hingga akhirnya hampir berhasil ketika di sekolah Kim. Bahkan, teka teki donut Bagel telah menjadi petunjuk bagi penonton juga, bahwa Bryan tidak bersalah atas kematian mantan istrinya.

Film ini juga sangat padat sehingga sangat sayang jika dilewatkan setiap adegannya. Wajar saja, dengan durasi 110 menit, perjalanan panjang Bryan hingga harus mengejar Stuart St John (Dougray Scott) sebagai aktor utama kematian mantan istrinya, membuat semua cerita dan teka teki harus hadir serapat mungkin.

Terlepas dari semua kekurangannya yang mengganggu dan merusak instalmen film ini, Taken 3 masih layak ditonton terutama bagi mereka yang merindukan aksi laga dari Opa Liam Neeson. Tentu dengan peringatan bahwa film ini tidak lebih baik dari dua film sebelumnya.