Showing posts with label tom hardy. Show all posts
Showing posts with label tom hardy. Show all posts

Thursday, February 18, 2016

Revenant : Bertahan Hidup Untuk Sebuah Dendam

Menampilkan Leonardo di Caprio dan Tom Hardy, film ini menjanjikan sesuatu yang wah, tampaknya. Setelah performa ciamik keduanya di Inception sebagai rekan, kali ini mereka berpasangan lagi, namun sebagai lawan.

Dikisahkan, Hugh Glass (di Caprio) seorang pemandu dan pencari jejak lihai sedang memandu sekelompok pasukan pencari bulu berang berang, ketika tiba-tiba mereka diserang oleh Suku Arikara. Memutuskan mundur, mereka akhirnya harus meninggalkan bulu-bulu yang telah diperoleh di tepian sungai demi kembali ke perkemahan mereka. Sebuah keputusan yang ditentang keras oleh John Fitzgerald (Tom Hardy), yang merasa ketergantungan mereka terhadap Glass terlalu berlebihan. Namun, keputusan telah diambil. Hingga dalam satu malam, Glass diserang beruang grizly yang mengamuk, membuat ia terluka parah, robek pada punggung dan leher, belum lagi tulang belulang yang patah di beberapa bagian.

Kapten Henry (Gleeson) menolak meninggalkan Glass. Tidak hanya karena ia satu satunya yang tahu jalan di tengah belantara Utara Amerika, tetapi juga sikap terhormatnya untuk tidak meninggalkan siapa pun di bawah komandonya, selagi Ia bisa. Maka perjalanan tanpa arah sambil memboyong Glass menjadi sebuah mimpi buruk bagi rombongan ini. Hingga keputusasaan melanda. Henry terpaksa meninggalkan Glass didampingi Hawk, anak Glass, Bridger, dan Fitzgerald sendiri. Mereka diperintahkan untuk mendampingi Glass hingga kematian menjemputnya dan memberinya pemakaman yang layak. Untuk upah yang menggiurkan, mereka menerimanya. Sampai tragedi itu kemudian terjadi. Fitz merasa sudah cukup bersabar untuk kemudian membunuh Glass. Sayang usahanya digagalkan Hawk, yang justru terbunuh. Khawatir dengan resiko ketahuan oleh Bridger, Fitz membuat skenario palsu yang membuat mereka meninggalkan Glass sendirian, terikat ditandu, di tengah musim dingin, meratapi kematian sang anak.

***

Diangkat dari sebuah novel berdasarkan kisah nyata. film ini menggambarkan dengan apik perjuangan seorang laki-laki yang juga seorang ayah dalam memperjuangkan dendamnya. Bertahan hidup dengan luka yang teramat parah dan menyakitkan. Hanya makan daun dan rumput kering. Tidur di dalam perut rusa. Atau makan ikan dan daging bison mentah. Semua kejadian ditampilkan seolah nyata dan sekaligus memukau.

Di Caprio, tak pelak menjadi sosok sentral kali ini tak diragukan totalitas perannya. Sudah jauh lama imaji pretty boy lepas dari dirinya. Dan karakter Glass menegaskan ia memang seorang aktor yang layak berhadiah Oscar. Tom Hardy, di sisi lain, semakin memikat. Berbagai peran sebelumnya juga semakin mengukuhkan dirinya sebagai aktor yang layak diperhitungkan, meski tampaknya karakter antagonis terlanjur dan semakin melekat padanya. Yang memang menarik bagaimana aksen Amerika begitu kental alih-alih aksen British yang sempat ia pertontonkan dengan fasih dalam film Locke, misalnya. Pertemuan keduanya menjadikan kemistri film ini, terutama pada bagian akhir begitu kuat, meski harus diakui, terlalu singkat bahkan anti-klimaks.

Pemandangan dalam film ini juga menjanjikan sebuah tontonan yang memanjakan mata. Panorama hijau hutan Amerika berpadu basah dan saljunya musim dingin membuat film ini semakin mencekam, meski drama sepanjang 2.5 jam ini jauh dari kata membosankan, namun tampaknya menular pada suhu AC di ruang studio. Sebuah film yang patut diperhitungkan dan layak tonton.

***

Seorang suku Pawnee, berbagi daging bison (mentah tentunya) pada Glass, pada suatu malam. Ia, juga sama seperti Glass, telah kehilangan keluarganya. Namun, alih-alih naik darah membalas dendam, ia seolah menasihati Glass, "Pembalasan ada di tangan Sang Pencipta". Sebuah kata-kata bijak yang pada bagian akhirnya memberi pencerahan dan meringankan beban Glass. Perjuangannya sejauh ini terlalu suci untuk dikotori dendam.

Thursday, December 3, 2015

Legend : Tom Hardy as He is

Tom Hardy berperan sebagai dua saudara kembar, Reginald 'Reggie" Kray dan Ronald 'Ronnie' Kray. Dua orang gembong mafia The Firm di London pada tahun 1960-an. Diangkat dari kisah nyata, Tom Hardy menunjukkan kepantasannya sebagai salah satu aktor pria terbaik saat ini.

***

Reginald dan Ronald Kray merupakan dua bersaudara yang bercita-cita menguasai dunia bawah kota London. Memulai dari bawah, sebagai pemilik klub dan kasino, mereka membentuk The Firm yang secara perlahan mulai mengganggu kemapanan gang lain yang sudah ada. Salah satunya adalah Richardson bersaudara. Hingga akhirnya mereka bisa menyingkirkan semua pesaingnya dan menguasai London.


Meski bercerita tentang dua bersaudara Reg dan Ron Kray, namun film ini memfokuskan pada Reg, dengan narasi cerita dibawakan oleh Frances Shea, sang istri Reg, yang mati bunuh diri pada tahun 1967. Ron sendiri digambarkan seorang gay dengan kepribadian yang labil dan membutuhkan obat secara rutin untuk dapat mengendalikan dirinya. Memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Reg, mereka berdua justru, sebagaimana saudara seharusnya, kompak mengumpulkan pengikut dan menguasai London.

Sebagai mafia, mereka menguasai klub dan kasino, jasa keamanan dan perlindungan, juga berbagai aksi kekerasan lainnya. Kisah cinta Reg dan Frances mempersulit relasinya dengan Ron yang merasa Reg mulai meninggalkan dunia mereka untuk mencoba hidup jujur. Konflik internal, ditambah skandal homoseksual yang dibuat Ron hingga melibatkan para politisi membuat mereka berada di bawah pengawasan Scotland Yard, yang menunggu celah untuk dapat menjatuhkan mereka.

***

Daya tarik dan nilai jual utama film ini tentu tidak lain sosok Tom Hardy yang semakin diperhitungkan sebagai seorang aktor, tak hanya untuk urusan laga, namun juga akting yang menawan (seperti pada Locke). Ditunjang divisi make up khusus yang mumpuni, menjadikan Reg dan Ron dua sosok yang secara fisik memang berbeda. Penampilan Reg yang kalem dan berwibawa, sebagai seorang pemimpin juga sekaligus sebagai adik, ditampilkan dengan lugas. Sementara pembawaan Ron yang labil, kadang cerdas namun sesekali juga beringas layaknya psycho, juga tampil menonjol. Emily Browning, di sisi lain, juga seperti biasa membawakan diri sebagai Frances Shea yang tampak menyedihkan.

Hardy memang layak mendapatkan kredit khusus dalam penampilan ini, baik sebagai Reg maupun Ron. Keduanya memberikan kekuatan dan warna yang berbeda dalam setiap adegan. Relasi di antara keduanya, yang terkadang intim, di saat lain bersitegang, juga memberikan suasana kekeluargaan yang erat. Film ini tidak hanya bercerita soal mafia dan gang yang berebut kekuasaan. Jadi, tak perlu berkomentar, "Masa cuma ngobrol aja nih film, kapan berantemnya?"


***

Notable scene :
Ketika dengan brutal Reg menikam DeVitt dengan sebilah pisau berkali-kali hingga tewas, dengan santai dan lugunya Ron bertanya,
"Mengapa kau melakukan itu (membunuhnya)?"
Reg, dengan berbisik sambil menahan amarah menjawab,
"Aku tidak bisa membunuhmu, betapapun besar keinginanku"