Mengisahkan latar belakang penulisan Moby Dick, sebuah novel karya Herman Melville, yang bercerita tentang sekelompok pelaut yang berjuang bertahan hidup melawan paus sperma berukuran raksasa.
Film ini menceritakan Owen Chase (Chris Hemsworth), seorang pemburu paus yang meniti karir menjadi seorang kapten kapal sendiri, namun harus menghadapi kenyataan bahwa dalam industri perminyakan paus ini, terdapat pemodal yang lebih berkuasa, sehingga ia harus menerima hanya menjadi seorang Kelasi Satu bagi kapten pemula, George Pollard, seorang anak pengusaha sekaligus penerus dinasti Pollard yang telah bertahun-tahun bermain di industri ini. Bersama Essex, mereka ditarget 2.000 tong minyak paus yang harus mereka kejar melintasi samudra. Intrik dan konflik muncul seiring dengan perjalanan berbulan-bulan di laut hingga mereka mendapati kisah, terdapat surga bagi pemburu paus di suatu tempat yang dianggap tidak pernah ada paus. Karena ambisi dan keserakahan, mereka pun nekat meluncur ke sana. Dibekali keyakinan kuat, mereka akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan lebih. Seekor paus ukuran raksasa melindungi para paus yang mereka buru. Membawa mereka ke dalam petualangan yang lebih gelap dan dalam di tengah heningnya samudera.
---
Film ini, melalui poster dan trailernya, menggambarkan kengerian sekelompok pelaut menghadapi seekor paus yang sangat besar. Dalam ceritanya sendiri, film ini lebih mengetengahkan karakter para kru Essex, mulai dari Pollard sang kapten, Chase yang berpengalaman namun belum diberi jabatan, dan para kru lainnya, termasuk Tom Nickerson muda, yang menjadi narasumber bagi Malville sebagai bahan garapan untuk novelnya. Ini adalah cerita di mana minyak masih ditambang dari paus, bukan dari perut bumi, sehingga pemburu paus memiliki kasta tersendiri di mata masyarakat, dan orang-orang kaya adalah mereka yang terjun di bisnis ini sejak lama.
Dengan dukungan teknologi terkini, visualisasi lautan luas penuh ombak dan badai menjadi apik terlihat. Paus-paus yang berenang menyemburkan air juga memikat kemeriahan awal dan pertengahan film. Belum lagi tata suara yang mendukung. Terkadang ramai, terkadang senyap. Bahkan kemunculan sang paus raksasa hampir menyerupai film horor yang menghantui penonton, yang sayangnya tidak intens ditonjolkan. Sekali lagi seolah menegaskan bahwa film ini bukaan tentang manusia melawan paus.
Kegetiran dan keputusasaan saat mereka terombang-ambing berbulan-bulan di lautan juga memberikan ketegangan tersendiri. Atau bagaimana mereka harus mengundi siapa yang harus mati agar yang lain dapat bertahan hidup. Tentu dengan batasan-batasan sehingga film ini tidak mendapat cap vulgar karena mempertontonkan darah dan kekejaman.
Boleh jadi, Chase terlalu agung untuk mati, sehingga ketika seorang Nickerson harus menjadi pengantar cerita, pun, ternyata bukan ia yang satu-satunya selamat dari peristiwa tersebut. Sehingga cerita pada bagian akhir tidak saja turun namun terjun drastis. Wajar saja jika anda sebagai penonton pada akhirnya merasa tidak puas, bahkan ada kesan dipaksakan.
---
Keberanian adalah menuju ke tempat yang tidak ada seorang pun berani melangkah ke sana. Seperti halnya Essex yang berani masuk ke lautan luas yang tak seorang pun meyakini tak ada paus, Nickerson seumur hidupnya mencoba mengubur tragedi tersebut bahkan dari istrinya sendiri, hingga ia berani mengungkapkannya pada Melville. Maka, keberanian seperti apakah yang sudah kita buktikan pada diri sendiri?
Showing posts with label monster. Show all posts
Showing posts with label monster. Show all posts
Tuesday, December 15, 2015
Victor Frankenstein : Melihat Monster Dalam Sisi Manusia
Sepenggal kalimat ikonik dari
kisah legendaris tentang monster buatan yang
menyedihkan bernama Frankenstein. Setelah beberapa kali difilmkan dan
menjadi ‘cameo’ di beberapa film, kali ini tokoh Frankenstein muncul kembali
dalam film dengan pendekatan yang berbeda.
Dikisahkan, seorang ilmuwan
eksenstrik bernama Victor Frankenstein (James
McAvoy) sedang berburu potongan-potongan tubuh hewan untuk dijadikan bahan
eksperimennya. Perburuannya tersebut membawanya ke sebuah kelompok sirkus, di
mana terdapat seorang ‘joker’ bungkuk, yang ternyata amat terobsesi dengan ilmu
anatomi tubuh manusia. Dengan segara Victor menyadari bakat anak muda tersebut
untuk kemudian membebaskannya dan membawanya ke kehidupannya. Victor pun
memberinya nama : Igor Straussman.
Dengan bakat dan kecerdasannya,
Igor (Daniel Radcliffe)mampu menjadi
asisten yang luar biasa buat Victor. Mereka berhasil menghidupkan kembali
simpanse Victor yang telah mati. Namun terjadi kecelakaan ketika mereka coba
mempresentasikan eksperimen mereka di hadapan Royal Medicine. Simpanse tersebut
tidak hanya hidup, tetapi justru malah mengamuk dan membuat kerusakan. Maka
dengan terpaksa mereka membunuhnya. Sebuah tragedy, namun juga menjadi sebuah
kesempatan. Keluarga Finnegan tertarik dengan ekseperimen tersebut dan bersedia
mensponsori untuk misi yang lebih jauh. Membuat manusia hidup dan beradab.
***
Film ini mengambil sudut pandang
penceritaan dari Igor Straussman, sang asisten, sekaligus menjadi sahabat bagi
Victor Frankenstein. Seperti disebutkan pada awal film, seolah ada sebuah
pertanyaan, apakah Victor membuat sebuah monster? Ataukah ia sendiri yang
menjadi seorang monster?
Daniel Radcliff dengan apik
memerankan sosok bungkuk yang bertransformasi menjadi seorang asisten yang cerdas,
kritis, namun tetap setia. Bisa dibilang, dari penampilannya di beberapa film,
ia sukses menghilangkan imej seorang Harry Potter yang telah melekat pada
dirinya. James McAvoy juga berhasil menggambarkan sosok seorang ilmuwan gila.
Seorang yang jenius sekaligus tenggelam dalam obsesinya akan kehidupan dan
kematian sekaligus. Apatismenya akan kehadiran tuhan dan agama sebagai akibat
tragedy hidupnya di masa lalu, baik diterjemahkan dalam laku gerak dan
kata-katanya. Menggambarkan seorang yang ambisius pada satu hal, namun penuh
keputusasaan pada hal lain.
Menghadirkan sosok Inspektur
Turpin (Andrew Scott), seorang polisi
yang juga penuh obsesi dengan menyelidiki eksperimen yang dilakukan oleh mereka
berdua. Tak hanya hadir sebagai alat hukum, Turpin pun menjadi ‘polisi’ moral
dan agama, yang mempertanyakan kelayakan eksperimen Victor melawan kekudusan
penciptaan Tuhan.
Adegan yang melegenda dari kisah
Frankenstein apalagi jika bukan saat sang manusia buatan dihidupkan dengan
sambaran petir. Sebuah penggambaran monumental, hingga keluarlah seruan dari
Victor yang terkenal itu. Seruan yang, sayangnya, tidak kita ditemui pada film
Frankenstein versi ini. Apakah ini sebuah nilai minus? Tentu saja! Alih-alih
member perspektif baru dalam sebuah kisah lawas, film ini seolah menjadi cerita
sendiri yang meniru-niru plot Frankenstein.
Pada akhirnya, sosok manusia
berwujud sempurna berhasil dibuat oleh Victor. Sosok yang diharapkan menjadi
sebuah warisan akan namanya tercatat pada lembaran sejarah. Namun, seperti yang
diungkapkan oleh Lorelei, menghidupkan seseorang yang sudah mati dan
menciptakan kehidupan dari sesuatu yang awalnya tidak ada, adalah dua hal yang
berbeda. Victor harus menghadapi kenyataan, bahwa kehidupan yang telah
diciptakannya, tak lantas benar-benar ‘hidup’. Tak lebih dari tulang dan daging
yang berjalan. Sebuah mayat hidup dengan kekosongan jiwa. Hingga Victor
mengerti, satu-satunya ciptaannya yang sempurna adalah Igor Straussman, sang
asisten.
Labels:
daniel radcliffe,
frankenstein,
james mcavoy,
klasik,
monster
Subscribe to:
Posts (Atom)

