Tom Hardy berperan sebagai dua saudara kembar, Reginald 'Reggie" Kray dan Ronald 'Ronnie' Kray. Dua orang gembong mafia The Firm di London pada tahun 1960-an. Diangkat dari kisah nyata, Tom Hardy menunjukkan kepantasannya sebagai salah satu aktor pria terbaik saat ini.
***
Reginald dan Ronald Kray merupakan dua bersaudara yang bercita-cita menguasai dunia bawah kota London. Memulai dari bawah, sebagai pemilik klub dan kasino, mereka membentuk The Firm yang secara perlahan mulai mengganggu kemapanan gang lain yang sudah ada. Salah satunya adalah Richardson bersaudara. Hingga akhirnya mereka bisa menyingkirkan semua pesaingnya dan menguasai London.
Meski bercerita tentang dua bersaudara Reg dan Ron Kray, namun film ini memfokuskan pada Reg, dengan narasi cerita dibawakan oleh Frances Shea, sang istri Reg, yang mati bunuh diri pada tahun 1967. Ron sendiri digambarkan seorang gay dengan kepribadian yang labil dan membutuhkan obat secara rutin untuk dapat mengendalikan dirinya. Memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Reg, mereka berdua justru, sebagaimana saudara seharusnya, kompak mengumpulkan pengikut dan menguasai London.
Sebagai mafia, mereka menguasai klub dan kasino, jasa keamanan dan perlindungan, juga berbagai aksi kekerasan lainnya. Kisah cinta Reg dan Frances mempersulit relasinya dengan Ron yang merasa Reg mulai meninggalkan dunia mereka untuk mencoba hidup jujur. Konflik internal, ditambah skandal homoseksual yang dibuat Ron hingga melibatkan para politisi membuat mereka berada di bawah pengawasan Scotland Yard, yang menunggu celah untuk dapat menjatuhkan mereka.
***
Daya tarik dan nilai jual utama film ini tentu tidak lain sosok Tom Hardy yang semakin diperhitungkan sebagai seorang aktor, tak hanya untuk urusan laga, namun juga akting yang menawan (seperti pada Locke). Ditunjang divisi make up khusus yang mumpuni, menjadikan Reg dan Ron dua sosok yang secara fisik memang berbeda. Penampilan Reg yang kalem dan berwibawa, sebagai seorang pemimpin juga sekaligus sebagai adik, ditampilkan dengan lugas. Sementara pembawaan Ron yang labil, kadang cerdas namun sesekali juga beringas layaknya psycho, juga tampil menonjol. Emily Browning, di sisi lain, juga seperti biasa membawakan diri sebagai Frances Shea yang tampak menyedihkan.
Hardy memang layak mendapatkan kredit khusus dalam penampilan ini, baik sebagai Reg maupun Ron. Keduanya memberikan kekuatan dan warna yang berbeda dalam setiap adegan. Relasi di antara keduanya, yang terkadang intim, di saat lain bersitegang, juga memberikan suasana kekeluargaan yang erat. Film ini tidak hanya bercerita soal mafia dan gang yang berebut kekuasaan. Jadi, tak perlu berkomentar, "Masa cuma ngobrol aja nih film, kapan berantemnya?"
***
Notable scene :
Ketika dengan brutal Reg menikam DeVitt dengan sebilah pisau berkali-kali hingga tewas, dengan santai dan lugunya Ron bertanya,
"Mengapa kau melakukan itu (membunuhnya)?"
Reg, dengan berbisik sambil menahan amarah menjawab,
"Aku tidak bisa membunuhmu, betapapun besar keinginanku"
Thursday, December 3, 2015
Friday, November 13, 2015
The Last Witch Hunter : Era Baru Pemburu Penyihir Versi Diesel
Setelah berbagai kegagalan menerpa film dengan tema penyihir dan masa kegelapan sejak era Sorcerer’s Apprentice-nya Nicholas Cage hingga Seventh Son, Hollywood masih belum kapok menghadirkan tema yang sama. Kali ini Vin Diesel mencoba peruntungannya dan keluar dari bayang-bayang Fast Furious yang telah melambungkan namanya.
Berperan sebagai Kaulder, seorang pemburu penyihir yang memiliki misi memburu Ratu Penyihir (Julie Engelbrecht) yang telah melepas kutukan wabah dan membunuh ribuan orang. Mendesak Ratu Penyihir hingga ke sarangnya, Kaulder berhasil membunuh Ratu Penyihir namun dengan imbalan sebuah kutukan, bahwa ia akan hidup selamanya dalam kesendirian.
Berselang 800 tahun kemudian, di New York pada masa kini, Kaulder mengabdi pada Ordo Kapak dan Salib untuk menjaga perdamaian dunia dari para penyihir yang nyata hidup di antara para manusia dengan aturan yang dibuat oleh Dewan Penyihir. Adalah tugas Kaulder dan Ordo untuk memastikan tidak ada penyihir yang melanggar batas aturan, atau mereka akan dimasukkan dalam penjara penyihir.
Bencana hadir ketika Dolan ke-36 (Michael Caine), merupakan pendamping, asisten, penasihat, sekaligus sahabatnya selama 50 tahun, diserang secara misterius oleh penyihir. Sementara penggantinya, Dolan ke-37 (Elijah Wood), masih cukup ‘hijau’ untuk dapat mendampingi dalam memburu penyihir tersebut. Merasa ada yang tidak beres, bersama Chloe (Rose Leslie), seorang penyihir penjelajah mimpi, bertiga mereka menghadapi ancaman yang datang : Kebangkitan Ratu Penyihir.
***
Bagaimana seorang Vin Diesel tanpa balap mobil dan aksi menegangkan memicu adrenalin? Kurang lebih seperti itu pikiran pertama ketika melihat namanya menjadi tokoh utama film ini. Namun hadirnya Elijah Wood dan Michael Caine setidaknya memberi jaminan bahwa film ini seharusnya bukan film asal-asalan. Dan itu terbukti.
Ditunjang dengan efek visual yang wah, film ini bisa menggambarkan aksi sihir dan bertarung yang cukup baik, dengan porsi berkelahi jalanan yang sedikit, membuatnya layak jadi tontonan hiburan. Kisahnya sendiri menarik, dengan sedikit twist membuatnya tidak terlalu gampang ditebak. Kaulder digambarkan seorang jagoan abadi yang hidup dalam kesendirian selalu dihantui kenangan akan anak dan istrinya yang tewas akibat kutukan wabah, ditemani seorang pendamping tua nan bijaksana yang kemudian digantikan sosok yang lebih muda namun lebih ‘up to date’ untuk menunjang misinya, lalu jalinan kasih yang dibangun dengan sosok penyihir muda dalam diri Chloe hingga pertarungan terakhir memecahkan misteri sekaligus menyambut kebangkitan musuh besarnya, Ratu Penyihir, semua dikemas secara padat dalam masa tayang +/- 2 jam.
Beberapa hal yang mungkin agak mengganggu adalah Diesel seolah tak bisa dipisahkan dari mobil balap, meski hanya porsi kecil kehadirannya. Caine, yang tak sebijaksana Alfred dalam Trilogi Batman, atau pun Elijah Wood yang seolah tak punya jatah bermain cukup di sini, meski justru secara cerita memegang kunci misteri terpenting. Setidaknya, film ini bisa lebih baik daripada Sorcerer’s Apprentice yang cenderung menjadi lelucon. Sebuah alternatif kekosongan film-film box office pada bulan ini.
Wednesday, September 2, 2015
Inside Out : Warna Warni Emosi
Ketika Riley terlahir, bersama dalam ingatannya terlahir lima karakter. Mereka adalah Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Dipimpin oleh Joy, mereka menjaga emosi Riley sedemikian rupa untuk menjalani kehidupannya. Semua baik-baik saja, hingga akhirnya Riley harus pindah, dari Minnesota ke San Fransisco, bersama orang tuanya.-------
Sebuah film karya Disney Pixar kembali hadir tahun ini, masih dengan formula yang sama. Tentang kekeluargaan. Kali ini, tokoh yang dihadirkan adalah penggawa emosi yang diibaratkan selalu mewakili diri manusia, berupa kesenangan, kesedihan, rasa takut, marah, ataupun jijik. Dengan cerdas pembuat film memainkan warna dalam tokoh karakter ini.
Sudah bukan hal asing jika Disney-Pixar sangat jago dalam hal visual seperti ini. Sebuah tontonan yang menarik minat tak hanya orang dewasa, tetapi juga hingga anak anak. Wajar saja, selain para tokohnya, suasana film dibuat sedemikian rupa, seperti bola bola ingatan Riley yang warna warni mengikuti emosi yang tersimpan di dalamnya.
Film ini sendiri mencoba menggali dan menggambarkan seperti apa dunia ingatan dalam kepala manusia. Di dalamnya ada lemari penuh bola ingatan sebagai perlambang memori jangka panjang. Atau tokoh berupa gajah dengan badan gula gula dengan ekor kucing, mewakili tokoh khayalan yang jamak dimiliki setiap anak (di Amerika?). Atau sebuah jurang dalam berupa sampah ingatan, yaitu tempat di mana ingatan ingatan dibuang karena telah dilupakan oleh manusianya.
Misi dari Joy dan teman-temannya di sini adalah menjaga agar Riley hanya menjalani hidup senang dan bahagia, dan memenuhi ingatannya dengan hal hal menyenangkan saja. Hal hal yang digambarkan membangun istana keluarga, melambangkan bagaimana kehangatan dan keceriaan keluarga. Atau istana persahababatan, yang menunjukkan senang dan serunya Riley menghabiskan waktu dengan sahabat masa kecilnya. Namun ujian muncul ketika Sadness, yang jelas bertolak belakang dengan Joy, mencoba untuk mencari eksistensi dirinya, menyentuh ingatan ingatan Riley dan mengubah emosinya, hingga mereka tersedot ke dalam inti ingatan, menjelajahi setiap ingatan Riley.
Di sinilah inti cerita bermain, bahwa hidup tak hanya soal senang. Di dalamnya ada kesedihan, ada kegetiran, ada ketakutan, kekhawatiran, dan kemarahan. Bahwa ternyata dalam setiap peristiwa hidup, tak hanya tentang satu dua emosi, tapi bagaimana semua emosi yang kita bisa miliki tertumpah di situ. Seperti halnya pencerahan yang diterima Joy, bahwa tak ada kesenangan, tanpa kesedihan. Bahwa sebuah ingatan, bisa dimaknai dengan emosi yang berbeda beda, dalam kesempatan yang berbeda, dan tidak ada yang salah dengan emosi selain kesenangan.
Film ini sendiri, terlepas dari visualnya yang memukau, tentu belum menjadi santapan anak anak, layaknya 'Up' atau 'Monster', apalagi 'Finding Nemo'. Film ini tentu lebih cocok bagi orang dewasa untuk memahami remaja dan anak anak, karena terkadang apa yang terlihat tak selalu berarti sama dengan apa yang dirasakan.
Hal yang terkesan menyimpang adalah bagaimana kelima tokoh yang mewakili emosi ini justru menjelajahi ingatan. Yang membuat pertanyaan, apakah film ini bercerita tentang inti emosi manusia, atau permainan ingatan belaka?
Film ini cukup menyentuh, berkesan, walau mungkin akan mengecewakan karena harus 'mikir'. Relatif, tentu saja. Tapi orisinalitasnya membuat 8.5/10 tidaklah berlebihan.
Tuesday, January 20, 2015
Reviu Film Sepanjang 2014 (Yang Telah Ditonton)
Sepanjang tahun 2014 yang telah berlalu. Saya sudah menyaksikan beberapa film yang tayang langsung di gerai jaringan XXI dan Cinemaxxx. Ada yang sengaja ditonton karena sepertinya bagus, ada juga unsur ketidaksengajaan yang mengundang saya ke sana.
Dari beberapa film tersebut, setidaknya ada 22 catatan yang saya buat terkait film-film yang sudah saya tuangkan pada lama akun facebook saya. Selanjutnya, setidaknya saya mencoba membuat daftar '5 Film Terbaik 2014', sesuatu yang mudah tapi susah. Susah, karena film-film tersebut berbeda dalam genre dan tema. Ada drama, lebih banyak aksi. Ada juga animasi. Ada produksi dalam negeri. Rasanya sungguh tidak adil mempertandingkan film-film berbeda lalu memberi rangking.
Pun begitu, saya akan menuliskan 5 film setidaknya mewakili setiap segmen, tanpa urutan rangking, seperti berikut ini :
Dari beberapa film tersebut, setidaknya ada 22 catatan yang saya buat terkait film-film yang sudah saya tuangkan pada lama akun facebook saya. Selanjutnya, setidaknya saya mencoba membuat daftar '5 Film Terbaik 2014', sesuatu yang mudah tapi susah. Susah, karena film-film tersebut berbeda dalam genre dan tema. Ada drama, lebih banyak aksi. Ada juga animasi. Ada produksi dalam negeri. Rasanya sungguh tidak adil mempertandingkan film-film berbeda lalu memberi rangking.
Pun begitu, saya akan menuliskan 5 film setidaknya mewakili setiap segmen, tanpa urutan rangking, seperti berikut ini :
- How To Train Your Dragon 2. sebagai wakil dari film animasi. Kisah yang semakin padat daripada film pertama, ditambah dengan naga yang semakin banyak dengan adegan peperangan yang juga beragam, membuatnya layak masuk daftar. Boleh jadi (seharusnya) Big Hero 6 akan dibuat sekuel yang jauh lebih baik.
- Dawn of The Planet of The Apes. Juga film sekuel. Film yang penuh CGI ini harus saya bandingkan dengan Guardian of The Galaxy dan Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT), dan saya memilih film ini karena punya nilai yang lebih solid dalam filmnya.
- The Maze Runner. Dari beberapa film young-adult yang beredar, mulai dari Hunger Games, Divergent, dll, saya lebih memilih film ini karena film ini terasa lebih maskulin. Patut ditunggu apakah sekuelnya masih bisa sekuat yang pertama
- Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Film ini jelas lebih masuk pilihan buat saya daripada Pendekar Tongkat Emas sebagai dua film Indonesia yang saya tonton pada 2014. Terlepas dari beberapa catatan minus yang saya buat di reviu, film ini menunjukkan bahwa sineas Indonesia pada akhirnya bisa mewujudkan novel-to-movie dengan baik
- The Fault in Our Stars. Genre drama remaja yang jauh dari kata cengeng, bisa dibilang yang terbaik dari seluruh film yang ada. Dialog yang berisi dan cerdas, jalinan kisah yang simpel tapi tetap menarik dari awal sampai akhir adalah kekuatan film ini.
Blackhat : Meretas Dunia Global dari Jakarta?
Siapa
yang merindukan film aksi menawan nan cerdas seperti Collateral? Atau
remake serial klasik Miami Vice? Michael Mann layaknya seorang yang tau
bagaimana menyajikan sebuah film aksi alternatif, tidak membosankan,
bahkan memberi suasana berbeda. Blackhat berkisah tentang peretasan yang mengakibatkan terjadi kerusakan pada mesin pembangkit di Cina (ya, Cina, bukan Tiongkok), menyebabkan pembangkit tersebut meledak, meleleh, dan menimbulkan korban. Kapten Chen Da Wai (Wong Leehom) yang menjadi penanggung jawab kasus ini meminta pada atasannya agar dapat bekerja sama dengan FBI, karena Amerika Serikat ternyata mengalami serangan yang sama. Hanya saja, AS lebih baik dalam bertahan sehingga tidak terjadi kekacauan. Di saat melihat kode yang dibuat peretas, Chen menyadari satu hal, kode tersebut dibuat oleh ia dan kolega kampusnya semasa di MIT dulu, Nicholas Hathaway (Chris Hemsworth). Masalahnya, Nick sedang ditahan di penjara karena kejahatan transaksi elektronik yang dilakukannya. Maka, Chen secara khusus meminta Nick dibebaskan dan masuk dalam tim mengejar 'Blackhat'.
Plot yang disajikan pada film ini sebenarnya sederhana. Tidak ada yang baru juga. Tema peretasan dan kecanggihan teknologi daring sudah beberapa kali ditampilkan Hollywood, mulai dari Enemy Of The State hingga Eagle Eye. Boleh jadi yang menarik perhatian, bagaimana Mann menggiring film ini menjadi layak tonton.
Sayangnya, untuk durasi 130 menit, film ini terlalu lama. Lama, karena banyaknya adegan yang tidak perlu dan tak seharusnya berpanjang-panjang. Pembukaan film yang menampilkan arus data mulai dari kabel, motherboard, hingga bagian mikroskopik dari chip memang menarik, jika saja tidak menghabiskan hampir 10 menit hanya untuk itu saja. Lagipula, film-film tentang peretas di masa lalu sudah pernah melakukannya. Atau, adegan helikopter penyerbuan Chen dan tim menuju kediaman Elias Kassar, terlalu lama durasinya. Sementara, begitu banyak cerita yang justru melompat-lompat, seolah tidak runut.
Keseruan Chen dan Nick dalam mengejar 'blackhat' diperparah dengan solusi yang muncul begitu saja di depan mata. Seberapa hebatnya seorang Nick? Jika melihat dari film ini, rasanya ada begitu banyak peretas yang bisa melakukan apa yang ia lakukan. Bahkan usahanya menembus keamanan NSA untuk mengambil program Black Widow pun terasa kacangan. Lagi-lagi, semua solusi, termasuk arus uang bank yang berputar keliling dunia bisa dengan gampangnya dipindahkan ke satu rekeningnya.
Hal menarik dari Mann adalah olah visualnya dengan shaky cam, biasanya menggunakan camera digital yang menampilkan gambar video yang seolah tidak diolah khusus untuk tayangan sebuah film besar, lebih seperti kameramen amatir. Parahnya, ini terjadi di adegan tembak-tembakan yang paling banyak dan lama, di dermaga. Hampir tidak bisa dibedakan dengan tampilan visual sinetron Indonesia. Serial keluaran barat bahkan jauh lebih baik terasa. Sementara kamera gerak sangat apik ditampilkan di Collateral, di sini, malah mengganggu kenikmatan.
Jika ada yang menghibur dari film ini, tentunya ketika Jakarta tidak hanya disebut, tetapi menjadi bagian penting, karena puncak film ini justru terjadi di depan patung selamat datang. Walaupun, penggambaran Jakarta lagi lagi terlihat kotor dan kumuh, jauh dari tampilan yang layak untuk mempromosikan diri, itu pun jika pihak Indonesia dilibatkan dalam ajang promosi kota. Sepertinya tidak. Parade tari bali di Papua Square di Jakarta? Sebelumnya, memangnya Papua Square betul ada? Lagipula, ada bule main pukul masa' sekian ratus orang tidak marah dan membalas? Malah cuek saja? Belum lagi kemudian jadi korban tembak-tembakan di tengah lapangan?
Pada akhirnya, satu pesan dari film ini adalah, jika Anda tertembak, obati saja dengan Betadin!
Thursday, January 8, 2015
Taken 3 : It Ends Here, Obviously
Instalmen
terakhir film Taken akhirnya tayang juga. Setelah sebelumnya dikabarkan
Liam Neeson menolak untuk berperan lagi dalam film ini. Ada sebuah
kerinduan tersendiri akan karakter Bryan Mills, seorang kepala keluarga
yang melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya : Anak gadis dan
mantan istrinya. Ketika berhembus kabar akan dibuat film ketiga, satu pertanyaan yang muncul : Siapa lagi yang akan diculik kali ini. Dan, Taken 3 menjawabnya dengan tegas : Tidak Ada! Ya, film ini sedari awal telah meruntuhkan premisnya sendiri. Jika di film pertama, Kim Mills (Maggie Grace) telah diculik, lalu istrinya, Lerone 'Lennie' Mills (Famke Janssen) diculik pada film kedua, maka pada film ketiga ini yang dijual adalah fitnah pembunuhan terhadap Lennie yang dituduhkan kepada Bryan.
Untuk sebuah film aksi di mana cerita sudah diketahui jalannya dari awal hingga akhir, apa yang bisa ditawarkan? Tentu saja aksinya. Maka patut disimak seperti apa aksi dalam Taken 3 kali ini. Pertama, tentu saja terlihat betapa lamban dan lelahnya seorang Liam Neeson ketika harus beraksi berlari, melompati pagar menerobos rumah, hingga kebut-kebutan di jalan raya, sampai akhirnya beradu pukul dan tembak-tembakan. Saat kita berharap sineas memiliki kecerdasan yang cukup untuk menutupi hal tersebut, justru sangat terlihat bagaimana adegan berkelahi yang menjadi ciri khas Neeson justru tidak terlihat. Adegan berlangsung lambat, patah-patah seperti menderita editan serius, hingga pengambilan gambar yang terlalu 'close up' yang membuat kita tidak bisa melihat siapa berbuat apa. Hal ini sangat terlihat saat Bryan menyerang sekelompok rusia pembunuh istrinya di liquor store, beberapa saat setelah ia berikut mobilnya ditabrak jatuh ke tebing.
Senada dengan perkelahiannya, film ini juga minim dengan aksi tembak tembakan dan ledakan yang juga sudah menjadi ciri khas. Bahkan saat adegan yang seolah menjadi puncak film ini, ketika Bryan menyerang markas Oleg Malankov (Sam Spruell), lagi lagi kamera close up mengganggu kenikmatan visual. Ada orang yang tampaknya tertembak, begitu kira kira. Semua juga berlangsung cepat dan tanpa kesan. bahkan ketika kematian diberikan pada Oleg, minim dramatisasi.
Adegan kebut kebutan satu satunya di jalan raya malah awalnya membingungkan. Apakah dia berada di dalam van hitam ataukah mobil polisi? Semua kejadian seperti terpotong potong, layar demi layar, cenderung melelahkan, bahkan.
Karena film ini tidak bercerita tentang penculikan, maka teknik mencari jejak yang biasa dilihat pada dua filmnya pun otomatis menghilang. Bisa jadi, demi menutupi kelelahannya, dihadirkan teman-teman Bryan Mills. Seolah ini adalah sebuah film tim layaknya The A Team. Sayangnya, kehadiran mereka pun tak cukup mengangkat beban film ini yang demikian berat kehilangan ruhnya.
Apakah kemudian film ini tidak menarik sama sekali? Tentu tidak. Agen Franck Dotzler (Forest Whitaker) hadir memberi kesegaran sebagai lawan yang imbang bagi Bryan. Kecerdasannya membuatnya selalu di jalan yang tepat untuk mengejar Bryan, hingga akhirnya hampir berhasil ketika di sekolah Kim. Bahkan, teka teki donut Bagel telah menjadi petunjuk bagi penonton juga, bahwa Bryan tidak bersalah atas kematian mantan istrinya.
Film ini juga sangat padat sehingga sangat sayang jika dilewatkan setiap adegannya. Wajar saja, dengan durasi 110 menit, perjalanan panjang Bryan hingga harus mengejar Stuart St John (Dougray Scott) sebagai aktor utama kematian mantan istrinya, membuat semua cerita dan teka teki harus hadir serapat mungkin.
Terlepas dari semua kekurangannya yang mengganggu dan merusak instalmen film ini, Taken 3 masih layak ditonton terutama bagi mereka yang merindukan aksi laga dari Opa Liam Neeson. Tentu dengan peringatan bahwa film ini tidak lebih baik dari dua film sebelumnya.
Monday, December 22, 2014
Supernova : Turbulensi Film-Novel
'Titik bifurkasi (bifurcation point)
atau yang biasanya disebut "Titik percabangan dua" adalah fenomena
dimana sebuah sistem terbagi kedalam dua kemungkinan perilaku (behavior)
akibat perubahan kecil pada satu parameter. Perubahan lebih lanjut
akan mengakibatkan percabangan dua dalam interval regular, sampai pada
akhirnya masuk ke kondisi Chaos*. Rangkaian dari instabilitas
melalui peningjatan kompleksitas, menjadiakan chaos merupakan fenomena
dari suatu sistem kompleks.' Demikian pendahuluan yang layak dari saya
atas film Supernova ini. Bifurkasi menjadi kata yang paling asing ketika
menyaksikan film ini. Film ini saya tonton tanpa ada pengetahuan sedikit pun akan jalan ceritanya. Satu-satunya informasi yang saya pegang adalah film ini diangkat dari novel karya Dewi 'Dee' Lestari yang disebut-sebut sangat 'canggih', karena bisa mengangkat sebuah tema yang berat dalam jalinan kisah cinta yang melibatkan sains. Bingung? Sama.
Satu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya adalah, ketika menyaksikan sebuah video klip lagu, bisa dibuat dengan begitu hebat. Baik dari segi narasi cerita, animasi yang imajinatif, dan visualisasi yang cantik. Sesuatu yang boleh dibilang hampir tidak pernah ditemukan dalam versi film full. Dalam 15 menit pertama, terus terang saya langsung suka dengan film ini, karena apa yang menjadi pertanyaan dan bayangan saya bisa diwujudkan di sini. Sebuah film dengan olah rasa video klip.
Memang, karena ketidaktahuan saya tentang novel yang memang belum saya baca. Sedari awal duduk, saya lansung dijejali berbagai susunan kalimat, kata, dan istilah yang membuat kening berkerut, hingga berpikir, "Sudahlah, tak usah dipikirkan, nikmati saja filmnya". Pada titik ini juga saya langsung merasa tidak perlu lagi baca novelnya, karena hanya dengan kalimat-kalimat yang sepertinya dikutip dari buku saja, sudah susah mencerna filmnya, apalagi harus membaca novelnya secara keseluruhan.
Bisa jadi, kalimat kalimat puitis dan indah yang dibalut istilah sains itu memang memiliki makna terdalam yang membantu memahami maksud cerita ini. Sayangnya, para pemain, khususnya tokoh Ferre/Re, membuat seolah gelontoran kalimat itu sesuatu yang ringan saja. Ringan, jika berarti memudahkan pemahanan, tentu baik. Tapi, jika ringan berarti tidak penting? Ya, jadi malah terabaikan. Begitulah para tokoh terutama Re memperlakukannya. Kata-kata yang mengalir snagat cepat beradu satu sama lain malah mengaburkan setiap katanya.
Tampilan futuristik dari media obrolan Supernova awalnya adalah sesuatu yang 'keren' di film ini. Sayangnya, ketika 'petuah' Supernova dituangkan bulat-bulat dalam bentuk tulisan memenuhi layar, apalagi yang bisa dinikmati? Membacanya saja belum tuntas, sudah harus berkonsentrasi pada adegan berikutnya, sementara otak masih memroses apa maksud dari tulisan tersebut.
Siapa atau apakah Supernova itu? Saya seperti tidak ikhlas kalo jawabnya adalah 'Diva'. Ya, dia bisa jadi siapapun tokoh yang penting di fiilm ini. Tapi Diva? Di mana keterlibatannya yang katanya menghubungkan begitu banyak orang dalam jalinan kisah ini? Beberapa chat-nya tidak menggambarkan seperti itu. Lalu, sosok Diva sebagai model sekaligus pelacur papan atas jelas tidak memberikan keterlibatan apa pun dalam cerita ini. Sepertinya, biarkan sajalah Supernova menjadi misterius.
Secara keseluruhan. film ini memenuhi banyak harapan akan visualisasi sinematik yang indah, animatif, imajinatif, dan futuristik. Hanya saja, menyajikan bentuk novel secara bulat, dialog puitis dalam bahasa keseharian, mungkin akan sangat asing bagi sebagian kita. Tidak nyata, bahkan. Anda pernah menyaksikan film Coriolanus (2011)? Film ini berpotensi seperti itu dalam kerumitan pemahaman diksinya. Pun begitu, film ini layak tonton, terutama sebagai penyadaran, bahwa Indonesia ada seorang penulis dengan konsep yang luar biasa seperti ini, dan usahanya untuk menampilkan bahasa tulis ke dalam media visual seperti film.
'Jika Anda masih melihat dunia dengan hitam dan putih, bersiaplah mengalami turbulensi'
Labels:
bifurfikasi,
bintang jatuh,
cinta,
ksatria,
putri,
selingkuh,
supernova
Saturday, December 20, 2014
Pendekar Tongkat Emas : (belum) Sebuah Karya Emas
Setelah
lama hilang, akhirnya di penghujung tahun 2014 ini ada sebuah film
Indonesia yang mengangkat tema silat klasik. Sebuah waktu yang tepat
untuk melepas kerinduan dengan kejayaan masa lalu. Pendekar Tongkat Emas berkisah tentang Cempaka (Christine Hakim), seorang mahaguru ilmu tongkat dari peguruan tongkat emas yang hendak mewariskan perguruan dan ilmu terakhirnya kepada salah satu dari empat murid terbaiknya, Biru ( Reza Rahardian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah). Biru dan Gerhana adalah anak dari musuh-musuh Cempaka di masa lalu yang telah tewas terbunuh dan dirawat layaknya anak kandungnya sendiri. Dengan kemampuan silat paling tinggi di antara saudara yang lain, Biru merasa paling berhak menerima warisan Tongkat Emas dan ilmu pamungkasnya, Tongkat Emas Melingkar Bumi. Sayang, hanya kekecewaan dan kemarahan yang diperolehnya ketika Guru Cempaka lebih memilih Dara sebagai penerus.
Dalam perjalanan pengasingan guna berlatih secara rahasia, Cempaka, Dara, dan Angin dihadang oleh Biru dan Gerhana, setelah beberapa malam sebelumnya mereka meracuni guru mereka tersebut. Pertarungan tidak seimbang pada akhirnya membuat Cempaka tewas, sementara Dara dan Angin terjatuh ke bawah jurang. Di saat itulah sesosok bayangan menyambut dan menyelamatkan mereka berdua.
Biru dan Gerhana, diterima menjadi murid utama perguruan Sayap Merah dan mengumumkan kematian guru Cempaka, sembari menuduh Dara dan Angin sebagai pembunuhnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka sampai menarik simpati guru Sayap Merah dan menggantikannya, juga dengan meracuni terlebih dahulu. Maka, Biru pun menjadi guru dan melebarkan sayap perguruannya, menantang perguruan silat lain, mengancam kedatuan persilatan, dan meresahkan masyarakat.
Dara, beserta Angin, ditolong oleh pemuda misterius bernama Elang (Nicholas Saputra), sosok yang kemudian memberi jalan bagi mereka untuk mencari Naga Putih, pewaris lain ilmu pamungkas Tongkat Emas. Bersamanya, Dara berlatih dan berjuang menuntut balas atas kematian Guru Cempaka, sekaligus mengakhiri kekacauan yang dibuat oleh Biru dan Gerhana.
***
Pada media sosial, sudah banyak viral akan film ini, dan sambutannya sangat positif dengan puja-puji di sana sini. Semakin memotivasi untuk segera menyaksikan film ini. Belum lagi jajaran pemainnya yang tidak main-main. Sayang, saya harus tidak sepakat dengan banyak pengguna media sosial tersebut.
Cerita yang dibawakan dalam film ini tentu sangat klasik. tidak ada yang baru, karena memang begitulah cerita cerita silat adanya. Yang mengagumkan dari film ini adalah bagaimana properti dan make up mencoba untuk tampil sealamiah mungkin, menyesuaikan dengan jamannya. Belum lagi panorama alam yang disajikan, membuat bagian film ini lebih cocok untuk National Geographic alih-alih film silat.
Sayangnya, ada beberapa celah yang mengganggu buat saya.
Pertama. Seperti komentar teman, kehadiran Eva Celia membuat film ini menjadi bias. Apakah ini film anak-anak? Atau kisahnya seorang anak lalu menjadi dewasa? Tidak ada perubahan tampilan pada dirinya jika bercerita film ini merupakan cerita beberapa tahun perjalanan hidup.
Kedua. Koreografi pertarungannya bagus, hanya saja sepertinya tidak punya cukup persediaan. Karena, gerakan jurus yang hampir sama terlihat berulang-ulang. Atau mungkin memang ilmu silat yang mereka kuasai terbatas tetapi sangat hebat?
Ketiga. Apa urusannya penduduk sampai mengungsi, mengingatkan pada film Exodus yang juga sedang tayang saat ini. Mereka ini adalah perguruan silat, bukan bangsa penjajah. Atau perguruan juga bisa menjajah? Lalu di mana peran pemerintah? (Lho?!)
Keempat. Dialog dan emosi yang tampil dalam film ini terkesan datar. Walau Reza mencoba terlihat bengis dan licik, sementara Nico tetap cool layaknya Rangga AADC, tidak ada keterlibatan emosi dari penonton. Percintaan Biru dan Gerhana pun seolah ada dan tiada. Romantisme Elang dan Dara pun muncul malu-malu.
Kelima. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Dara untuk berlatih dan menguasai jurus pamungkas tongkat emas? Rasanya sebentar saja. Bisa jadi Anda sedang menembus ruang waktu bersama Interstellar, karena nyatanya Gerhana sudah memiliki anak! Bukan sekedar bayi, tapi anak berusia 5-6 tahun.
Keenam. Cempaka berpesan bahwa Tongkat Emas jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Sehebat apakah senjata ini? Bagi anda yang tau, silakan beri tahu saya. Karena sampai saat ini saya tidak tahu kehebatan apa pun dari tongkat ini, kecuali mungkin tongkat ini terbuat dari emas dan bernilai tinggi jika dijual.
Ketujuh. Adegan pertarungan terakhir memang menjadi sajian utama film ini. Yang bagus, tetapi sayangnya, terlalu panjang. Ya, dengan durasi pertarungan yang lama, dimulai dari muka perguruan Sayap Merah hingga tiba-tiba mereka melompat ke rumah perguruan tongkat emas (mungkin hanya bersebelahan pagar), sementara adegan adu jurusnya tidak terlalu istimewa dan beragam.
***
Melihat bagaimana para pemain melakukan aksi bertarung, harus diakui film ini memang luar biasa. Terlihat kesungguhan aktor dan aktris yang memaksakan beradegan silat tersebut. Sebagai sebuah usaha juga mengangkat kembali genre silat klasik. memang seharusnya film-film seperti ini diperbanyak, dengan aktor dan aktris lain. Mana tahu, akan lahir Adven Bangun dan Barry Prima generasi baru. Film yang tepat untuk mengisi waktu luang anda. Ya, hanya gunakan waktu anda yang sangat luang, dan terimalah persembahan terbaik anak negeri.
Thursday, December 11, 2014
Exodus : Gods and Kings
Salah
satu film besar di penghujung tahun 2014 akhirnya keluar. Film bertema
religius dengan tokoh yang tidak kalah populer setelah 'Noah' beberapa
waktu lalu. Dikisahkan, Moses (Christian Bale) adalah anak angkat dari Seti I ( John Turturro), penguasa Mesir, dan bersaudara dengan Rameses II (Joel Edgerton). Dalam kesempatan perang melawan kaum Hitti, sebelum berangkat, diramalkan bahwa salah satu dari mereka akan menyelamatkan yang lain dan akan menjadi pemimpin. Terjadi dalam serbuan tersebut, Moses menyelamatkan Rameses dari tikaman salah seorang musuh. Seti pun berpendapat, seandainya Moses adalah benar anaknya, maka ia memang pantas untuk menjadi penerus.
Dalam sebuah misi ke Pithom, Moses mendapati di sana ada begitu banyak budak yang dianggap oleh sang gubernur mengancam keselamatan jiwanya, sehingga ia merasa perlu untuk menekan para budak tersebut. Mencoba berbicara secara langsung dengan para budak, Moses berhadapan dengan Nun (Ben Kingsley) yang mengatakan bahwa ia bukanlah seorang anak Mesir seperti yang ia anggap selama ini. Ia justru adalah orang yang diramalkan untuk membebaskan para budak, bangsa Hebrew. Dipenuhi tanda tanya dan kebimbangan, Moses pulang ke Memphis dan mendapati Seti I dalam kondisi sekarat, hingga akhirnya meninggal dunia.
Di tengah perseteruannya dengan Rameses yang dipengaruhi oleh sang ibu, Tuya (Sigourney Weaver), Moses akhirnya diasingkan seorang diri tanpa perbekalan. Niatan Rameses untuk membunuhnya sulit terwujud karena Moses tidak melakukan kesalahan yang fatal. Di tengah perjalanannya menembus gurun pasir, Moses akhirnya sampai di sebuah desa. Menikah dan menjadi penggembala. Hingga sembilan tahun kemudian. Dalam sebuah badai menerjang saat ia menggembalakan dombanya, Moses ditimpa reruntuhan batu bukit hingga terendam lumpur. Dalam kondisi sekarat, ia melihat pohon yang berapi-api dan kemunculan seorang bocah misterius. Bocah yang menyadarkannya akan diri dan tugasnya yang belum selesai. Misi yang membuatnya harus kembali ke Mesir, meninggalkan anak istrinya, menuju bangsanya yang tertindas.
Moses kembali ke Mesir dan mulai menghimpun bangsa Hebrew untuk bersatu dan membebaskan mereka dari penindasan. Sebuah tindakan yang dibalas Rameses dengan hukuman demi hukuman kepada bangsanya. Dianggap tidak cukup meyakinkan untuk menjalankan misinya, sang bocah misterius hadir kembali dan mengatakan akan hadirnya sepuluh wabah menerpa Mesir. Maka dimulailah, dari air sungai nil yang memerah darah, membunuh semua ikan yang ada di dalamnya, kemunculan jutaan kodok hingga masuk ke kota dan mati, hingga kematian hewan ternak dan gagal panen. Rameses, di tengah kekeraskepalaannya menerima permintaan Moses untuk mengalah, justru semakin beringas. Ancaman terakhir pun tiba, tak ada seorang anak pun, kecuali akhirnya mati pada malam tersebut, termasuk anak satu satunya dari Rameses. Akibat keputusasaannya, Rameses akhirnya mengijinkan Moses beserta para pengikutnya pergi meninggalkan Mesir.
***
Setelah Noah yang menggunakan penceritaan yang dianggap berbeda dari kebanyakan cerita cerita sebelumnya, kali ini Exodus mencoba menceritakan Moses sejak ia menjelma menjadi jenderal perang Mesir, sekaligus 'Pangeran Mesir'. Seolah ingin merasionalkan cerita yang ada, Exodus seperti akan menghindari kejadian dan tokoh metahuman yang muncul di film Noah. Cerita yang familiar bagi para penonton, setidaknya saya, dimulai dari akhirnya ia berjumpa (calon) istrinya di sumur umum, lalu menikah, hingga akhirnya mendapat tugas dari Tuhan.
Moses, atau biasa dikenal Musa, adalah seorang prajurit bahkan jenderal perang? Tidak pernah membayangkan hal tersebut sebelumnya. Apalagi ketika ia mengajarkan kepada para budak bagaimana menggunakan pedang, panah, berkuda, untuk beperang. Terlepas dari itu, karakter Moses yang diperankan Bale ini sepertinya tidak cukup kuat. Maaf, John Cusack di '2012' saja masih lebih menarik perhatian daripada Bale di sini, itu jika kita fokus pada wabah yang menerpa Mesir pada film ini. Pun begitu, keberadaan penyebaran wabah ini tergambar dengan cukup baik, kengerian dan kepedihan bisa terbangun dengan halus dari awal sampai akhir, meski tidak sampai pada puncak. Hal yang cukup janggal melihat seorang Moses tidak perlu bersusah payah menyembunyikan dirinya, padahal ia orang paling dicari di Mesir. Ia masih bisa hadir di penghukuman gantung, berkuda, bahkan melatih para budak. Bisa jadi, Rameses terlalu fokus pada penyelesaian wabah sehingga menyepelekan kehadirannya.
Efek khusus yang digunakan cukup untuk menggambarkan bagaimana kondisi wabah yang menyerang, dan tentu saja yang paling ditunggu, laut terbelah. Khusus untuk laut terbelah, saya justru tidak berhasil mendapati kejadian ini, karena memang tidak digambarkan laut terbelah seperti yang ada dalam imaji. Saat bangun tidur, Moses dan pengikutnya sudah melihat Laut Merah surut dalam radius yang sangat luas. Sekali lagi menentang imaji saya, untuk sesuatu yang masuk akal, kita bicara rombongan yang jumlahnya ratusan ribu bahkan mungkin jutaan, bukan sekadar ratusan orang, sehingga visual laut yang terbelah layaknya terowongan tidak ada di sini. Tapi, saya gagal menangkap gemuruh keriuhan dan kengerian saat laut kembali menyatu. Yang ada hanya adegan tsunami besar, Cukup.
Dengan durasi 2.5 jam, sulit untuk mendapatkan sesuatu yang 'memorable' dari film ini. Dialognya datar, bahkan cenderung tanpa emosi. Aksi peperangannya pun seolah tak sungguh-sungguh. Tak ada cipratan darah, bagian tubuh yang terpotong, apalagi kepala terpenggal. Moses di sini memang lebih digambarkan sebagai pembebas. secara fisik. Membebaskan dari perbudakan, melalui perlawanan. Jika Moses, atau Musa, dianggap sebagai Nabi dalam artian spiritual, tidak ada dalam film ini. Nilai apa yang coba disampaikan oleh sineas? Mungkin anda bisa beritahu saya.
Wednesday, December 10, 2014
Big Hero 6 : Panda-robot-Avengers
Apa jadinya ketika Disney bertemu Marvel? Film Big Hero 6 ini bisa menjawab pertanyaan tersebut. Di kota San Fransokyo, Hiro Hamada, seorang remaja jenius tertarik dengan dunia robot menghabiskan waktunya dengan dunia pertarungan robot yang tidak jarang dicampur dengan taruhan, sesuatu yang ilegal tentu saja. Sang Kakak, Tadashi Hamada, merasa cemas bakat adiknya ini terbuang sia-sia. Maka Tadashi mengajak Hiro ke laboraorium kampusnya dan mengenalkan Hiro kepada teman-temannya, Wasabi, GoGo, Honey, dan Fred. Tadashi memamerkan penemuannya, sebuah robot pelayanan kesehatan bernama Baymax. Hiro, terutama selepas pertemuannya dengan Prof. Callaghan, termotivasi untuk melnajutkan kuliah di kampus tersebut. Namun, satu hal yang menjadi tantangan. Untuk bisa masuk mendaftar jadi mahasiswa di kampus tersebut, Hiro harus membuat penemuan yang bisa mengesankan Prof. Callaghan.
Didukung oleh Tadashi dan teman-temannya, Hiro akhirnya bisa menyelesaikan proyeknya dan mempresentasikan dengan baik di depan hadirin, termasuk Callaghan, dan ilmuwan-pebisnis, Alistair Krei, yang tertarik untuk membeli penemuan Hiro, sebuah mikrorobot yang bisa dikendalikan dengan pengendali syaraf hanya dengan menggunakan pikiran penggunanya. Hiro yang merasa tidak perlu menjual penemuannya dengan cepat menolak tawaran tersebut. Saat pulang dari kampus, mereka mendapati laboratorium mereka terbakar, dan Callaghan ada di dalamnya. Tadashi segera masuk menembus kobaran api. Sayang, gedung tersebut meledak, dan Tadashi beserta Callaghan dinyatakan meninggal.
Di tengah kesedihannya, suatu hari secara tidak sengaja Baymax muncul dari kotak penyimpanannya. Sebagai robot kesehatan, ia bisa memindai kondisi fisik dan psikis pasien. Ia menemukan bahwa sisa mikrorobot yang dimiliki Hiro bergerak seolah hendak ke suatu tempat. Baymax pun mengikuti mikrorobot tersebut. Hiro mengejar Baymax hingga mereka tiba di suatu gudang kosong, yang ternyata di dalamnya sebuah pabrik yang membuat begitu banyak mikrorobot. Tidak sampai di situ saja, Hiro dan Baymax dikejutkan dengan hadirnya seseorang dengan memakai Topeng Kabuki yang mampu mengendalikan mikrorobot tersebut dengan pikirannya dan mulai menyerang mereka. Apa hubungan orang ini dengan kecelakaan dan kematian Tadashi serta Callaghan di laboratorium kampus tersebut?
***
Setelah agak kecewa dengan Interstellar, Big Hero 6 bisa jadi akan sedikit menyembuhkan luka tersebut. Disney, setelah sukses dengan Frozennya, kembali mengibarkan diri sebagai spesialis film animasi kelas atas. Film ini tentu saja akan diharapkan sukses seperti film-film mereka sebelumnya.
Masih dengan formula film keluarga di mana kali ini tokohnya seorang anak remaja yang kehilangan kakak kandungnya dan tinggal bersama bibi mereka, Hiro, tokoh utamanya, mencoba memecahkan misteri siapakah penjahat yang bisa mengendalikan penemuannya, dengan bantuan teman-temannya. Tergambar dengan baik bagaimana hubungan persaudaraan keduanya, walau sepertinya masih bisa lebih intens lagi. Sementara hubungan persahabatan Hiro dengan keempat temannya berasa datar, tidak tergambar ikatan emosional yang kuat di antara mereka.
Baymax menjadi bintang dari film ini, dengan tampilannya yang memang dibuat lucu dan imut, seperti 'marsmallow berjalan', memang sulit membayangkan bahwa robot ini akan menjadi robot jagoan. Tapi, Kungfu Panda sudah menjawab bahwa hewan sebulat panda pun bisa menjadi jagoan. Dialog dan gerak geriknya cukup memberikan humor yang menggelitik di sepanjang film ini. Transformasi robot lucu menjadi robot jagoan berlangsung mulus dalam durasi 1,5 jam. Bahkan ketika ia harus bersikap 'kejam' akibat program pelayanan kesehatannya dicabut oleh Hiro.
Sayangnya, lagi-lagi, emosi yang muncul dalam film ini kurang ditampilkan secara maksimal. Penonton tidak cukup merasakan kehilangan Hiro akan Tadashi. Persahabatan yang timbul antara Hiro dan Baymax pun terkesan biasa-biasa saja. Apalagi dengan Wasabi, GoGo, Honey, dan Fred, empat orang yang kemudian menjadi 'sidekick'-nya. Inovasi alat-alat penemuan mereka menjadi alat bantu superhero pun jadinya seperti tiba-tiba. Seolah durasi yang tersedia tidak cukup untuk menuangkan keseluruhan film ini.
Big Hero 6, layaknya film Disney lainnya, mencoba menawarkan pesan nilai. Bermanfaat bagi orang lain, seperti tujuan Tadashi membuat Baymax, diterjemahkan lebih luas oleh Hiro. Ya, Baymax adalah sebuah robot pelayanan kesehatan. Tapi, Baymax juga robot superhero yang bersama Hiro dan rekan-rekan mencoba menolong sesama. Dan, seperti film lainnya yang merupakan awal dari sesuatu, film ini menyimpan potensi untuk dibuat sekuel. Tidak salah, karena sineas film ini akan punya kesempatan lebih besar untuk lebih memaksimalkan apa yang sudah ada pada film ini. So, welcome the new hero.
Subscribe to:
Posts (Atom)
