Tuesday, January 20, 2015

Reviu Film Sepanjang 2014 (Yang Telah Ditonton)

Sepanjang tahun 2014 yang telah berlalu. Saya sudah menyaksikan beberapa film yang tayang langsung di gerai jaringan XXI dan Cinemaxxx. Ada yang sengaja ditonton karena sepertinya bagus, ada juga unsur ketidaksengajaan yang mengundang saya ke sana.
Dari beberapa film tersebut, setidaknya ada 22 catatan yang saya buat terkait film-film yang sudah saya tuangkan pada lama akun facebook saya. Selanjutnya, setidaknya saya mencoba membuat daftar '5 Film Terbaik 2014', sesuatu yang mudah tapi susah. Susah, karena film-film tersebut berbeda dalam genre dan tema. Ada drama, lebih banyak aksi. Ada juga animasi. Ada produksi dalam negeri. Rasanya sungguh tidak adil mempertandingkan film-film berbeda lalu memberi rangking. 

Pun begitu, saya akan menuliskan 5 film setidaknya mewakili setiap segmen, tanpa urutan rangking, seperti berikut ini :
  • How To Train Your Dragon 2. sebagai wakil dari film animasi. Kisah yang semakin padat daripada film pertama, ditambah dengan naga yang semakin banyak dengan adegan peperangan yang juga beragam, membuatnya layak masuk daftar. Boleh jadi (seharusnya) Big Hero 6 akan dibuat sekuel yang jauh lebih baik.
  •  Dawn of The Planet of The Apes. Juga film sekuel. Film yang penuh CGI ini harus saya bandingkan dengan Guardian of The Galaxy dan Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT), dan saya memilih film ini karena punya nilai yang lebih solid dalam filmnya.
  • The Maze Runner. Dari beberapa film young-adult yang beredar, mulai dari Hunger Games, Divergent, dll, saya lebih memilih film ini karena film ini terasa lebih maskulin. Patut ditunggu apakah sekuelnya masih bisa sekuat yang pertama
  • Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Film ini jelas lebih masuk pilihan buat saya daripada Pendekar Tongkat Emas sebagai dua film Indonesia yang saya tonton pada 2014. Terlepas dari beberapa catatan minus yang saya buat di reviu, film ini menunjukkan bahwa sineas Indonesia pada akhirnya bisa mewujudkan novel-to-movie dengan baik
  • The Fault in Our Stars. Genre drama remaja yang jauh dari kata cengeng, bisa dibilang yang terbaik dari seluruh film yang ada. Dialog yang berisi dan cerdas, jalinan kisah yang simpel tapi tetap menarik dari awal sampai akhir adalah kekuatan film ini.
Tentu saja, semua itu berdasarkan selera dan ketersediaan waktu untuk menyaksikan banyak film yang tayang. Kesimpulan sederhananya, Tahun 2014 adalah tahun yang memberi banyak ekspektasi atas film bagus tapi ternyata realisasinya, setelah ditonton, justru jauh dari harapan. Semoga hal demikian tidak terjadi di Tahun 2015 ini.

Blackhat : Meretas Dunia Global dari Jakarta?

Siapa yang merindukan film aksi menawan nan cerdas seperti Collateral? Atau remake serial klasik Miami Vice? Michael Mann layaknya seorang yang tau bagaimana menyajikan sebuah film aksi alternatif, tidak membosankan, bahkan memberi suasana berbeda.

Blackhat berkisah tentang peretasan yang mengakibatkan terjadi kerusakan pada mesin pembangkit di Cina (ya, Cina, bukan Tiongkok), menyebabkan pembangkit tersebut meledak, meleleh, dan menimbulkan korban. Kapten Chen Da Wai (Wong Leehom) yang menjadi penanggung jawab kasus ini meminta pada atasannya agar dapat bekerja sama dengan FBI, karena Amerika Serikat ternyata mengalami serangan yang sama. Hanya saja, AS lebih baik dalam bertahan sehingga tidak terjadi kekacauan. Di saat melihat kode yang dibuat peretas, Chen menyadari satu hal, kode tersebut dibuat oleh ia dan kolega kampusnya semasa di MIT dulu, Nicholas Hathaway (Chris Hemsworth). Masalahnya, Nick sedang ditahan di penjara karena kejahatan transaksi elektronik yang dilakukannya. Maka, Chen secara khusus meminta Nick dibebaskan dan masuk dalam tim mengejar 'Blackhat'.

Plot yang disajikan pada film ini sebenarnya sederhana. Tidak ada yang baru juga. Tema peretasan dan kecanggihan teknologi daring sudah beberapa kali ditampilkan Hollywood, mulai dari Enemy Of The State hingga Eagle Eye. Boleh jadi yang menarik perhatian, bagaimana Mann menggiring film ini menjadi layak tonton.

Sayangnya, untuk durasi 130 menit, film ini terlalu lama. Lama, karena banyaknya adegan yang tidak perlu dan tak seharusnya berpanjang-panjang. Pembukaan film yang menampilkan arus data mulai dari kabel, motherboard, hingga bagian mikroskopik dari chip memang menarik, jika saja tidak menghabiskan hampir 10 menit hanya untuk itu saja. Lagipula, film-film tentang peretas di masa lalu sudah pernah melakukannya. Atau, adegan helikopter penyerbuan Chen dan tim menuju kediaman Elias Kassar, terlalu lama durasinya. Sementara, begitu banyak cerita yang justru melompat-lompat, seolah tidak runut.

Keseruan Chen dan Nick dalam mengejar 'blackhat' diperparah dengan solusi yang muncul begitu saja di depan mata. Seberapa hebatnya seorang Nick? Jika melihat dari film ini, rasanya ada begitu banyak peretas yang bisa melakukan apa yang ia lakukan. Bahkan usahanya menembus keamanan NSA untuk mengambil program Black Widow pun terasa kacangan. Lagi-lagi, semua solusi, termasuk arus uang bank yang berputar keliling dunia bisa dengan gampangnya dipindahkan ke satu rekeningnya.

Hal menarik dari Mann adalah olah visualnya dengan shaky cam, biasanya menggunakan camera digital yang menampilkan gambar video yang seolah tidak diolah khusus untuk tayangan sebuah film besar, lebih seperti kameramen amatir. Parahnya, ini terjadi di adegan tembak-tembakan yang paling banyak dan lama, di dermaga. Hampir tidak bisa dibedakan dengan tampilan visual sinetron Indonesia. Serial keluaran barat bahkan jauh lebih baik terasa. Sementara kamera gerak sangat apik ditampilkan di Collateral, di sini, malah mengganggu kenikmatan.

Jika ada yang menghibur dari film ini, tentunya ketika Jakarta tidak hanya disebut, tetapi menjadi bagian penting, karena puncak film ini justru terjadi di depan patung selamat datang. Walaupun, penggambaran Jakarta lagi lagi terlihat kotor dan kumuh, jauh dari tampilan yang layak untuk mempromosikan diri, itu pun jika pihak Indonesia dilibatkan dalam ajang promosi kota. Sepertinya tidak. Parade tari bali di Papua Square di Jakarta? Sebelumnya, memangnya Papua Square betul ada? Lagipula, ada bule main pukul masa' sekian ratus orang tidak marah dan membalas? Malah cuek saja? Belum lagi kemudian jadi korban tembak-tembakan di tengah lapangan?

Pada akhirnya, satu pesan dari film ini adalah, jika Anda tertembak, obati saja dengan Betadin!

Thursday, January 8, 2015

Taken 3 : It Ends Here, Obviously

Instalmen terakhir film Taken akhirnya tayang juga. Setelah sebelumnya dikabarkan Liam Neeson menolak untuk berperan lagi dalam film ini. Ada sebuah kerinduan tersendiri akan karakter Bryan Mills, seorang kepala keluarga yang melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya : Anak gadis dan mantan istrinya.

Ketika berhembus kabar akan dibuat film ketiga, satu pertanyaan yang muncul : Siapa lagi yang akan diculik kali ini. Dan, Taken 3 menjawabnya dengan tegas : Tidak Ada! Ya, film ini sedari awal telah meruntuhkan premisnya sendiri. Jika di film pertama, Kim Mills (Maggie Grace) telah diculik, lalu istrinya, Lerone 'Lennie' Mills (Famke Janssen) diculik pada film kedua, maka pada film ketiga ini yang dijual adalah fitnah pembunuhan terhadap Lennie yang dituduhkan kepada Bryan.

Untuk sebuah film aksi di mana cerita sudah diketahui jalannya dari awal hingga akhir, apa yang bisa ditawarkan? Tentu saja aksinya. Maka patut disimak seperti apa aksi dalam Taken 3 kali ini. Pertama, tentu saja terlihat betapa lamban dan lelahnya seorang Liam Neeson ketika harus beraksi berlari, melompati pagar menerobos rumah, hingga kebut-kebutan di jalan raya, sampai akhirnya beradu pukul dan tembak-tembakan. Saat kita berharap sineas memiliki kecerdasan yang cukup untuk menutupi hal tersebut, justru sangat terlihat bagaimana adegan berkelahi yang menjadi ciri khas Neeson justru tidak terlihat. Adegan berlangsung lambat, patah-patah seperti menderita editan serius, hingga pengambilan gambar yang terlalu 'close up' yang membuat kita tidak bisa melihat siapa berbuat apa. Hal ini sangat terlihat saat Bryan menyerang sekelompok rusia pembunuh istrinya di liquor store, beberapa saat setelah ia berikut mobilnya ditabrak jatuh ke tebing.

Senada dengan perkelahiannya, film ini juga minim dengan aksi tembak tembakan dan ledakan yang juga sudah menjadi ciri khas. Bahkan saat adegan yang seolah menjadi puncak film ini, ketika Bryan menyerang markas Oleg Malankov (Sam Spruell), lagi lagi kamera close up mengganggu kenikmatan visual. Ada orang yang tampaknya tertembak, begitu kira kira. Semua juga berlangsung cepat dan tanpa kesan. bahkan ketika kematian diberikan pada Oleg, minim dramatisasi.

Adegan kebut kebutan satu satunya di jalan raya malah awalnya membingungkan. Apakah dia berada di dalam van hitam ataukah mobil polisi? Semua kejadian seperti terpotong potong, layar demi layar, cenderung melelahkan, bahkan.

Karena film ini tidak bercerita tentang penculikan, maka teknik mencari jejak yang biasa dilihat pada dua filmnya pun otomatis menghilang. Bisa jadi, demi menutupi kelelahannya, dihadirkan teman-teman Bryan Mills. Seolah ini adalah sebuah film tim layaknya The A Team. Sayangnya, kehadiran mereka pun tak cukup mengangkat beban film ini yang demikian berat kehilangan ruhnya.

Apakah kemudian film ini tidak menarik sama sekali? Tentu tidak. Agen Franck Dotzler (Forest Whitaker) hadir memberi kesegaran sebagai lawan yang imbang bagi Bryan. Kecerdasannya membuatnya selalu di jalan yang tepat untuk mengejar Bryan, hingga akhirnya hampir berhasil ketika di sekolah Kim. Bahkan, teka teki donut Bagel telah menjadi petunjuk bagi penonton juga, bahwa Bryan tidak bersalah atas kematian mantan istrinya.

Film ini juga sangat padat sehingga sangat sayang jika dilewatkan setiap adegannya. Wajar saja, dengan durasi 110 menit, perjalanan panjang Bryan hingga harus mengejar Stuart St John (Dougray Scott) sebagai aktor utama kematian mantan istrinya, membuat semua cerita dan teka teki harus hadir serapat mungkin.

Terlepas dari semua kekurangannya yang mengganggu dan merusak instalmen film ini, Taken 3 masih layak ditonton terutama bagi mereka yang merindukan aksi laga dari Opa Liam Neeson. Tentu dengan peringatan bahwa film ini tidak lebih baik dari dua film sebelumnya.

Monday, December 22, 2014

Supernova : Turbulensi Film-Novel

'Titik bifurkasi (bifurcation point) atau yang biasanya disebut "Titik percabangan dua" adalah fenomena dimana sebuah sistem terbagi kedalam dua kemungkinan perilaku (behavior) akibat perubahan kecil  pada satu parameter. Perubahan lebih lanjut akan mengakibatkan percabangan dua dalam interval regular, sampai pada akhirnya masuk ke kondisi Chaos*. Rangkaian dari instabilitas melalui peningjatan kompleksitas, menjadiakan chaos merupakan fenomena dari suatu sistem kompleks.' Demikian pendahuluan yang layak dari saya atas film Supernova ini. Bifurkasi menjadi kata yang paling asing ketika menyaksikan film ini.

Film ini saya tonton tanpa ada pengetahuan sedikit pun akan jalan ceritanya. Satu-satunya informasi yang saya pegang adalah film ini diangkat dari novel karya Dewi 'Dee' Lestari yang disebut-sebut sangat 'canggih', karena bisa mengangkat sebuah tema yang berat dalam jalinan kisah cinta yang melibatkan sains. Bingung? Sama.

Satu pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya adalah, ketika menyaksikan sebuah video klip lagu, bisa dibuat dengan begitu hebat. Baik dari segi narasi cerita, animasi yang imajinatif, dan visualisasi yang cantik. Sesuatu yang boleh dibilang hampir tidak pernah ditemukan dalam versi film full. Dalam 15 menit pertama, terus terang saya langsung suka dengan film ini, karena apa yang menjadi pertanyaan dan bayangan saya bisa diwujudkan di sini. Sebuah film dengan olah rasa video klip.

Memang, karena ketidaktahuan saya tentang novel yang memang belum saya baca. Sedari awal duduk, saya lansung dijejali berbagai susunan kalimat, kata, dan istilah yang membuat kening berkerut, hingga berpikir, "Sudahlah, tak usah dipikirkan, nikmati saja filmnya". Pada titik ini juga saya langsung merasa tidak perlu lagi baca novelnya, karena hanya dengan kalimat-kalimat yang sepertinya dikutip dari buku saja, sudah susah mencerna filmnya, apalagi harus membaca novelnya secara keseluruhan.

Bisa jadi, kalimat kalimat puitis dan indah yang dibalut istilah sains itu memang memiliki makna terdalam yang membantu memahami maksud cerita ini. Sayangnya, para pemain, khususnya tokoh Ferre/Re, membuat seolah gelontoran kalimat itu sesuatu yang ringan saja. Ringan, jika berarti memudahkan pemahanan, tentu baik. Tapi, jika ringan berarti tidak penting? Ya, jadi malah terabaikan. Begitulah para tokoh terutama Re memperlakukannya. Kata-kata yang mengalir snagat cepat beradu satu sama lain malah mengaburkan setiap katanya.

Tampilan futuristik dari media obrolan Supernova awalnya adalah sesuatu yang 'keren' di film ini. Sayangnya, ketika 'petuah' Supernova dituangkan bulat-bulat dalam bentuk tulisan memenuhi layar, apalagi yang bisa dinikmati? Membacanya saja belum tuntas, sudah harus berkonsentrasi pada adegan berikutnya, sementara otak masih memroses apa maksud dari tulisan tersebut.

Siapa atau apakah Supernova itu? Saya seperti tidak ikhlas kalo jawabnya adalah 'Diva'. Ya, dia bisa jadi siapapun tokoh yang penting di fiilm ini. Tapi Diva? Di mana keterlibatannya yang katanya menghubungkan begitu banyak orang dalam jalinan kisah ini? Beberapa chat-nya tidak menggambarkan seperti itu. Lalu, sosok Diva sebagai model sekaligus pelacur papan atas jelas tidak memberikan keterlibatan apa pun dalam cerita ini. Sepertinya, biarkan sajalah Supernova menjadi misterius.

Secara keseluruhan. film ini memenuhi banyak harapan akan visualisasi sinematik yang indah, animatif, imajinatif, dan futuristik. Hanya saja, menyajikan bentuk novel secara bulat, dialog puitis dalam bahasa keseharian, mungkin akan sangat asing bagi sebagian kita. Tidak nyata, bahkan. Anda pernah menyaksikan film Coriolanus (2011)? Film ini berpotensi seperti itu dalam kerumitan pemahaman diksinya. Pun begitu, film ini layak tonton, terutama sebagai penyadaran, bahwa Indonesia ada seorang penulis dengan konsep yang luar biasa seperti ini, dan usahanya untuk menampilkan bahasa tulis ke dalam media visual seperti film.

'Jika Anda masih melihat dunia dengan hitam dan putih, bersiaplah mengalami turbulensi'

Saturday, December 20, 2014

Pendekar Tongkat Emas : (belum) Sebuah Karya Emas

Setelah lama hilang, akhirnya di penghujung tahun 2014 ini ada sebuah film Indonesia yang mengangkat tema silat klasik. Sebuah waktu yang tepat untuk melepas kerinduan dengan kejayaan masa lalu.

Pendekar Tongkat Emas berkisah tentang Cempaka (Christine Hakim), seorang mahaguru ilmu tongkat dari peguruan tongkat emas yang hendak mewariskan perguruan dan ilmu terakhirnya kepada salah satu dari empat murid terbaiknya, Biru ( Reza Rahardian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah). Biru dan Gerhana adalah anak dari musuh-musuh Cempaka di masa lalu yang telah tewas terbunuh dan dirawat layaknya anak kandungnya sendiri. Dengan kemampuan silat paling tinggi di antara saudara yang lain, Biru merasa paling berhak menerima warisan Tongkat Emas dan ilmu pamungkasnya, Tongkat Emas Melingkar Bumi. Sayang, hanya kekecewaan dan kemarahan yang diperolehnya ketika Guru Cempaka lebih memilih Dara sebagai penerus.

Dalam perjalanan pengasingan guna berlatih secara rahasia, Cempaka, Dara, dan Angin dihadang oleh Biru dan Gerhana, setelah beberapa malam sebelumnya mereka meracuni guru mereka tersebut. Pertarungan tidak seimbang pada akhirnya membuat Cempaka tewas, sementara Dara dan Angin terjatuh ke bawah jurang. Di saat itulah sesosok bayangan menyambut dan menyelamatkan mereka berdua.

Biru dan Gerhana, diterima menjadi murid utama perguruan Sayap Merah dan mengumumkan kematian guru Cempaka, sembari menuduh Dara dan Angin sebagai pembunuhnya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka sampai menarik simpati guru Sayap Merah dan menggantikannya, juga dengan meracuni terlebih dahulu. Maka, Biru pun menjadi guru dan melebarkan sayap perguruannya, menantang perguruan silat lain, mengancam kedatuan persilatan, dan meresahkan masyarakat.

Dara, beserta Angin, ditolong oleh pemuda misterius bernama Elang (Nicholas Saputra), sosok yang kemudian memberi jalan bagi mereka untuk mencari Naga Putih, pewaris lain ilmu pamungkas Tongkat Emas. Bersamanya, Dara berlatih dan berjuang menuntut balas atas kematian Guru Cempaka, sekaligus mengakhiri kekacauan yang dibuat oleh Biru dan Gerhana.

***

Pada media sosial, sudah banyak viral akan film ini, dan sambutannya sangat positif dengan puja-puji di sana sini. Semakin memotivasi untuk segera menyaksikan film ini. Belum lagi jajaran pemainnya yang tidak main-main. Sayang, saya harus tidak sepakat dengan banyak pengguna media sosial tersebut.

Cerita yang dibawakan dalam film ini tentu sangat klasik. tidak ada yang baru, karena memang begitulah cerita cerita silat adanya. Yang mengagumkan dari film ini adalah bagaimana properti dan make up mencoba untuk tampil sealamiah mungkin, menyesuaikan dengan jamannya. Belum lagi panorama alam yang disajikan, membuat bagian film ini lebih cocok untuk National Geographic alih-alih film silat.

Sayangnya, ada beberapa celah yang mengganggu buat saya.

Pertama. Seperti komentar teman, kehadiran Eva Celia membuat film ini menjadi bias. Apakah ini film anak-anak? Atau kisahnya seorang anak lalu menjadi dewasa? Tidak ada perubahan tampilan pada dirinya jika bercerita film ini merupakan cerita beberapa tahun perjalanan hidup.

Kedua. Koreografi pertarungannya bagus, hanya saja sepertinya tidak punya cukup persediaan. Karena, gerakan jurus yang hampir sama terlihat berulang-ulang. Atau mungkin memang ilmu silat yang mereka kuasai terbatas tetapi sangat hebat?

Ketiga. Apa urusannya penduduk sampai mengungsi, mengingatkan pada film Exodus yang juga sedang tayang saat ini. Mereka ini adalah perguruan silat, bukan bangsa penjajah. Atau perguruan juga bisa menjajah? Lalu di mana peran pemerintah? (Lho?!)

Keempat. Dialog dan emosi yang tampil dalam film ini terkesan datar. Walau Reza mencoba terlihat bengis dan licik, sementara Nico tetap cool layaknya Rangga AADC, tidak ada keterlibatan emosi dari penonton. Percintaan Biru dan Gerhana pun seolah ada dan tiada. Romantisme Elang dan Dara pun muncul malu-malu.

Kelima. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Dara untuk berlatih dan menguasai jurus pamungkas tongkat emas? Rasanya sebentar saja. Bisa jadi Anda sedang menembus ruang waktu bersama Interstellar, karena nyatanya Gerhana sudah memiliki anak! Bukan sekedar bayi, tapi anak berusia 5-6 tahun.

Keenam. Cempaka berpesan bahwa Tongkat Emas jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Sehebat apakah senjata ini? Bagi anda yang tau, silakan beri tahu saya. Karena sampai saat ini saya tidak tahu kehebatan apa pun dari tongkat ini, kecuali mungkin tongkat ini terbuat dari emas dan bernilai tinggi jika dijual.

Ketujuh. Adegan pertarungan terakhir memang menjadi sajian utama film ini. Yang bagus, tetapi sayangnya, terlalu panjang. Ya, dengan durasi pertarungan yang lama, dimulai dari muka perguruan Sayap Merah hingga tiba-tiba mereka melompat ke rumah perguruan tongkat emas (mungkin hanya bersebelahan pagar), sementara adegan adu jurusnya tidak terlalu istimewa dan beragam.

***

Melihat bagaimana para pemain melakukan aksi bertarung, harus diakui film ini memang luar biasa. Terlihat kesungguhan aktor dan aktris yang memaksakan beradegan silat tersebut. Sebagai sebuah usaha juga mengangkat kembali genre silat klasik. memang seharusnya film-film seperti ini diperbanyak, dengan aktor dan aktris lain. Mana tahu, akan lahir Adven Bangun dan Barry Prima generasi baru. Film yang tepat untuk mengisi waktu luang anda. Ya, hanya gunakan waktu anda yang sangat luang, dan terimalah persembahan terbaik anak negeri.

Thursday, December 11, 2014

Exodus : Gods and Kings

Salah satu film besar di penghujung tahun 2014 akhirnya keluar. Film bertema religius dengan tokoh yang tidak kalah populer setelah 'Noah' beberapa waktu lalu.

Dikisahkan, Moses (Christian Bale) adalah anak angkat dari Seti I ( John Turturro), penguasa Mesir, dan bersaudara dengan Rameses II (Joel Edgerton). Dalam kesempatan perang melawan kaum Hitti, sebelum berangkat, diramalkan bahwa salah satu dari mereka akan menyelamatkan yang lain dan akan menjadi pemimpin. Terjadi dalam serbuan tersebut, Moses menyelamatkan Rameses dari tikaman salah seorang musuh. Seti pun berpendapat, seandainya Moses adalah benar anaknya, maka ia memang pantas untuk menjadi penerus.

Dalam sebuah misi ke Pithom, Moses mendapati di sana ada begitu banyak budak yang dianggap oleh sang gubernur mengancam keselamatan jiwanya, sehingga ia merasa perlu untuk menekan para budak tersebut. Mencoba berbicara secara langsung dengan para budak, Moses berhadapan dengan Nun (Ben Kingsley) yang mengatakan bahwa ia bukanlah seorang anak Mesir seperti yang ia anggap selama ini. Ia justru adalah orang yang diramalkan untuk membebaskan para budak, bangsa Hebrew. Dipenuhi tanda tanya dan kebimbangan, Moses pulang ke Memphis dan mendapati Seti I dalam kondisi sekarat, hingga akhirnya meninggal dunia.

Di tengah perseteruannya dengan Rameses yang dipengaruhi oleh sang ibu, Tuya (Sigourney Weaver), Moses akhirnya diasingkan seorang diri tanpa perbekalan. Niatan Rameses untuk membunuhnya sulit terwujud karena Moses tidak melakukan kesalahan yang fatal. Di tengah perjalanannya menembus gurun pasir, Moses akhirnya sampai di sebuah desa. Menikah dan menjadi penggembala. Hingga sembilan tahun kemudian. Dalam sebuah badai menerjang saat ia menggembalakan dombanya, Moses ditimpa reruntuhan batu bukit hingga terendam lumpur. Dalam kondisi sekarat, ia melihat pohon yang berapi-api dan kemunculan seorang bocah misterius. Bocah yang menyadarkannya akan diri dan tugasnya yang belum selesai. Misi yang membuatnya harus kembali ke Mesir, meninggalkan anak istrinya, menuju bangsanya yang tertindas.

Moses kembali ke Mesir dan mulai menghimpun bangsa Hebrew untuk bersatu dan membebaskan mereka dari penindasan. Sebuah tindakan yang dibalas Rameses dengan hukuman demi hukuman kepada bangsanya. Dianggap tidak cukup meyakinkan untuk menjalankan misinya, sang bocah misterius hadir kembali dan mengatakan akan hadirnya sepuluh wabah menerpa Mesir. Maka dimulailah, dari air sungai nil yang memerah darah, membunuh semua ikan yang ada di dalamnya, kemunculan jutaan kodok hingga masuk ke kota dan mati, hingga kematian hewan ternak dan gagal panen. Rameses, di tengah kekeraskepalaannya menerima permintaan Moses untuk mengalah, justru semakin beringas. Ancaman terakhir pun tiba, tak ada seorang anak pun, kecuali akhirnya mati pada malam tersebut, termasuk anak satu satunya dari Rameses. Akibat keputusasaannya, Rameses akhirnya mengijinkan Moses beserta para pengikutnya pergi meninggalkan Mesir.

***

Setelah Noah yang menggunakan penceritaan yang dianggap berbeda dari kebanyakan cerita cerita sebelumnya, kali ini Exodus mencoba menceritakan Moses sejak ia menjelma menjadi jenderal perang Mesir, sekaligus 'Pangeran Mesir'. Seolah ingin merasionalkan cerita yang ada, Exodus seperti akan menghindari kejadian dan tokoh metahuman yang muncul di film Noah. Cerita yang familiar bagi para penonton, setidaknya saya, dimulai dari akhirnya ia berjumpa (calon) istrinya di sumur umum, lalu menikah, hingga akhirnya mendapat tugas dari Tuhan.

Moses, atau biasa dikenal Musa, adalah seorang prajurit bahkan jenderal perang? Tidak pernah membayangkan hal tersebut sebelumnya. Apalagi ketika ia mengajarkan kepada para budak bagaimana menggunakan pedang, panah, berkuda, untuk beperang. Terlepas dari itu, karakter Moses yang diperankan Bale ini sepertinya tidak cukup kuat. Maaf, John Cusack di '2012' saja masih lebih menarik perhatian daripada Bale di sini, itu jika kita fokus pada wabah yang menerpa Mesir pada film ini. Pun begitu, keberadaan penyebaran wabah ini tergambar dengan cukup baik, kengerian dan kepedihan bisa terbangun dengan halus dari awal sampai akhir, meski tidak sampai pada puncak. Hal yang cukup janggal melihat seorang Moses tidak perlu bersusah payah menyembunyikan dirinya, padahal ia orang paling dicari di Mesir. Ia masih bisa hadir di penghukuman gantung, berkuda, bahkan melatih para budak. Bisa jadi, Rameses terlalu fokus pada penyelesaian wabah sehingga menyepelekan kehadirannya.

Efek khusus yang digunakan cukup untuk menggambarkan bagaimana kondisi wabah yang menyerang, dan tentu saja yang paling ditunggu, laut terbelah. Khusus untuk laut terbelah, saya justru tidak berhasil mendapati kejadian ini, karena memang tidak digambarkan laut terbelah seperti yang ada dalam imaji. Saat bangun tidur, Moses dan pengikutnya sudah melihat Laut Merah surut dalam radius yang sangat luas. Sekali lagi menentang imaji saya, untuk sesuatu yang masuk akal, kita bicara rombongan yang jumlahnya ratusan ribu bahkan mungkin jutaan, bukan sekadar ratusan orang, sehingga visual laut yang terbelah layaknya terowongan tidak ada di sini. Tapi, saya gagal menangkap gemuruh keriuhan dan kengerian saat laut kembali menyatu. Yang ada hanya adegan tsunami besar, Cukup.

Dengan durasi 2.5 jam, sulit untuk mendapatkan sesuatu yang 'memorable' dari film ini. Dialognya datar, bahkan cenderung tanpa emosi. Aksi peperangannya pun seolah tak sungguh-sungguh. Tak ada cipratan darah, bagian tubuh yang terpotong, apalagi kepala terpenggal. Moses di sini memang lebih digambarkan sebagai pembebas. secara fisik. Membebaskan dari perbudakan, melalui perlawanan. Jika Moses, atau Musa, dianggap sebagai Nabi dalam artian spiritual, tidak ada dalam film ini. Nilai apa yang coba disampaikan oleh sineas? Mungkin anda bisa beritahu saya.

Wednesday, December 10, 2014

Big Hero 6 : Panda-robot-Avengers

Apa jadinya ketika Disney bertemu Marvel? Film Big Hero 6 ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Di kota San Fransokyo, Hiro Hamada, seorang remaja jenius tertarik dengan dunia robot menghabiskan waktunya dengan dunia pertarungan robot yang tidak jarang dicampur dengan taruhan, sesuatu yang ilegal tentu saja. Sang Kakak, Tadashi Hamada, merasa cemas bakat adiknya ini terbuang sia-sia. Maka Tadashi mengajak Hiro ke laboraorium kampusnya dan mengenalkan Hiro kepada teman-temannya, Wasabi, GoGo, Honey, dan Fred. Tadashi memamerkan penemuannya, sebuah robot pelayanan kesehatan bernama Baymax. Hiro, terutama selepas pertemuannya dengan Prof. Callaghan, termotivasi untuk melnajutkan kuliah di kampus tersebut. Namun, satu hal yang menjadi tantangan. Untuk bisa masuk mendaftar jadi mahasiswa di kampus tersebut, Hiro harus membuat penemuan yang bisa mengesankan Prof. Callaghan.

Didukung oleh Tadashi dan teman-temannya, Hiro akhirnya bisa menyelesaikan proyeknya dan mempresentasikan dengan baik di depan hadirin, termasuk Callaghan, dan ilmuwan-pebisnis, Alistair Krei, yang tertarik untuk membeli penemuan Hiro, sebuah mikrorobot yang bisa dikendalikan dengan pengendali syaraf hanya dengan menggunakan pikiran penggunanya. Hiro yang merasa tidak perlu menjual penemuannya dengan cepat menolak tawaran tersebut. Saat pulang dari kampus, mereka mendapati laboratorium mereka terbakar, dan Callaghan ada di dalamnya. Tadashi segera masuk menembus kobaran api. Sayang, gedung tersebut meledak, dan Tadashi beserta Callaghan dinyatakan meninggal.

Di tengah kesedihannya, suatu hari secara tidak sengaja Baymax muncul dari kotak penyimpanannya. Sebagai robot kesehatan, ia bisa memindai kondisi fisik dan psikis pasien. Ia menemukan bahwa sisa mikrorobot yang dimiliki Hiro bergerak seolah hendak ke suatu tempat. Baymax pun mengikuti mikrorobot tersebut. Hiro mengejar Baymax hingga mereka tiba di suatu gudang kosong, yang ternyata di dalamnya sebuah pabrik yang membuat begitu banyak mikrorobot. Tidak sampai di situ saja, Hiro dan Baymax dikejutkan dengan hadirnya seseorang dengan memakai Topeng Kabuki yang mampu mengendalikan mikrorobot tersebut dengan pikirannya dan mulai menyerang mereka. Apa hubungan orang ini dengan kecelakaan dan kematian Tadashi serta Callaghan di laboratorium kampus tersebut?

***

Setelah agak kecewa dengan Interstellar, Big Hero 6 bisa jadi akan sedikit menyembuhkan luka tersebut. Disney, setelah sukses dengan Frozennya, kembali mengibarkan diri sebagai spesialis film animasi kelas atas. Film ini tentu saja akan diharapkan sukses seperti film-film mereka sebelumnya.

Masih dengan formula film keluarga di mana kali ini tokohnya seorang anak remaja yang kehilangan kakak kandungnya dan tinggal bersama bibi mereka, Hiro, tokoh utamanya, mencoba memecahkan misteri siapakah penjahat yang bisa mengendalikan penemuannya, dengan bantuan teman-temannya. Tergambar dengan baik bagaimana hubungan persaudaraan keduanya, walau sepertinya masih bisa lebih intens lagi. Sementara hubungan persahabatan Hiro dengan keempat temannya berasa datar, tidak tergambar ikatan emosional yang kuat di antara mereka.

Baymax menjadi bintang dari film ini, dengan tampilannya yang memang dibuat lucu dan imut, seperti 'marsmallow berjalan', memang sulit membayangkan bahwa robot ini akan menjadi robot jagoan. Tapi, Kungfu Panda sudah menjawab bahwa hewan sebulat panda pun bisa menjadi jagoan. Dialog dan gerak geriknya cukup memberikan humor yang menggelitik di sepanjang film ini. Transformasi robot lucu menjadi robot jagoan berlangsung mulus dalam durasi 1,5 jam. Bahkan ketika ia harus bersikap 'kejam' akibat program pelayanan kesehatannya dicabut oleh Hiro.

Sayangnya, lagi-lagi, emosi yang muncul dalam film ini kurang ditampilkan secara maksimal. Penonton tidak cukup merasakan kehilangan Hiro akan Tadashi. Persahabatan yang timbul antara Hiro dan Baymax pun terkesan biasa-biasa saja. Apalagi dengan Wasabi, GoGo, Honey, dan Fred, empat orang yang kemudian menjadi 'sidekick'-nya. Inovasi alat-alat penemuan mereka menjadi alat bantu superhero pun jadinya seperti tiba-tiba. Seolah durasi yang tersedia tidak cukup untuk menuangkan keseluruhan film ini.

Big Hero 6, layaknya film Disney lainnya, mencoba menawarkan pesan nilai. Bermanfaat bagi orang lain, seperti tujuan Tadashi membuat Baymax, diterjemahkan lebih luas oleh Hiro. Ya, Baymax adalah sebuah robot pelayanan kesehatan. Tapi, Baymax juga robot superhero yang bersama Hiro dan rekan-rekan mencoba menolong sesama. Dan, seperti film lainnya yang merupakan awal dari sesuatu, film ini menyimpan potensi untuk dibuat sekuel. Tidak salah, karena sineas film ini akan punya kesempatan lebih besar untuk lebih memaksimalkan apa yang sudah ada pada film ini. So, welcome the new hero.

Interstellar : Gravitasi Melampau Waktu?


"Ketika bumi sudah tidak bisa lagi menopang kehidupan manusia, apakah manusia akan punah?'
Film yang bercerita tentang akhir kehidupan manusia dan dunia sudah cukup banyak. Baik karena peristiwa alam maupun serangan alien. Dan manusia, seperti biasa, selalu beradaptasi dan berjuang menyelamatkan spesiesnya.

Dikisahkan, dalam waktu yang tidak terlalu jauh di masa depan, kehidupan manusia terancam. Kesulitan pangan dan kelaparan mengancam karena rusaknya perkebunan dan gagal panen. Pemerintah (AS) lebih fokus pada penyelamatan manusia daripada bidang lain, bahkan seorang pilot sekaligus insinyur seperti Cooper (Matthew McCounaghey) harus kembali jadi petani, mengurus ladangnya, sedikit dari yang tersisa, hanya tinggal tanaman jagung yang dapat hidup, bersama bapak mertua dan kedua anaknya, lelaki dan perempuan. Anak perempuannya, Murph (Mackenzie Foy/Jessica Chastain), merasa ada sosok hantu di kamarnya yang selalu menjatuhkan buku-buku dari lemari. Sesuatu yang bagi Cooper 'tidak ilmiah'. Hingga pada suatu badai pasir menerjang, Cooper mendapati jatuhnya pasir membentuk sebuah pola biner yang berisi koordinat lokasi. Ketika Ia beserta Murph ke sana, diketahui bahwa ternyata itu adalah lokasi NASA.

NASA mengembangkan Proyek Lazarus secara rahasia karena tidak ingin menimbulkan protes dari masyarakat, bahwa uang negara dihabiskan banyak untuk proyek luar angkasa sementara masih banyak orang kelaparan. Proyek ini telah mengirim 12 orang ke luar angkasa menembus wormhole/lubang cacing ke 12 sistem galaksi yang berbeda untuk mencari planet yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Hanya ada tiga orang yang mengirimkan respon kembali ke bumi, yang harus ditindaklanjuti dengan mengirim tim untuk kemudia menjalankan Rencana A : Pemindahan manusia yang tersisa ke planet yang ada, dan Cooper dipilih untuk menjadi pilot pesawat ini bersama Dr. Amelia Brand (Anne Hathaway), Doyle (Wes Bentley), dan Romilly (David Gyasi).

***

Christopher Nolan kembali menghadirkan film sci-fi yang makin mempertaruhkan namanya sebagai sineas jempolan dengan mengangkat tema lama dengan kemasan baru ini. Manusia diambang kepunahan lalu ada sekelompok orang yang berjuang menyelamatkannya adalah tema yang sudah mengakar di film-film Hollywood. Yang menjadi perbincangan kemudian adalah bagaimana film ini secara spesifik mencoba berbicara tentang perjalanan melalui Lubang Cacing/Wormhole, menembus Lubang Hitam/Blackhole, dengan berbagai atribut teori Relativitas Einstein yang ada. Rumit? Seolah ingin mengiyakan, Nolan sampai harus menggunakan jasa seorang ilmuwan, Kip Thorne, sebagai konsultan khusus pada bagian ini. Jadi jika Anda tidak memahami apa yang dibicarakan para tokoh di film ini, terima kasih, Anda sama dengan saya.

Ketika saya hendak melihat film ini, tentu harapan bahwa ini adalah karya Nolan seharusnya tidaklah menjadi film yang biasa. Sayangnya, harapan itu seolah pupus bahkan saat film ini belum mencapai separuhnya. Tidak ada yang salah dalam film ini. Ceritanya jelas, sentuhan efek khususnya bagus, mengabaikan detil teknis ilmiah di dalamnya, film ini bagus. Tapi untuk sebuah film dari Nolan? Jalan cerita film ini cukup kuat, dengan sentuhan emosi dan konflik yang dibangun antara karakter Cooper dan Murph, konflik rasional-emosional yang membuat Cooper setengah hati menjalankan misi ini, hingga ketegangan yang timbul dari penjelajahan ke planet antah berantah.

Anggapan saya bahwa film ini adalah action sci-fi seolah runtuh justru karena drama yang terbangun di dalamnya. Bagaimana Cooper, yang berjuang demi menyelamatkan keluarganya dan banyak keluarga lainnya di bumi, harus dihadapkan pada kenyataan bahwa, karena relativitas waktu, mereka harus berjuang untuk manusia yang mungkin masih hidup dalam hitungan puluhan tahun ke depan, dalam hitungan waktu bumi. Bagaimana tidak, saat hendak mendarat ke planet pertama saja, satu jam di sana sama dengan tujuh jam di bumi. Penonton pun dibuat hanyut kesedihan Cooper yang telah melewatkan 23 tahun kehidupan anak anaknya di bumi. Dilema juga dihadapi Cooper ketika harus memilih untuk segera kembali ke bumi dengan resiko seluruh manusia (tentu termasuk keluarganya) telah mati bahkan punah, atau melanjutkan misi dengan Rencana B : Membangun koloni manusia baru dengan bibit DNA yang mereka bawa dari bumi.

***

"KIta berani berkorban untuk diri kita dan keluarga kita. Orang-orang yang dekat dan kita kenal. Tapi apakah kita, manusia, mau berkorban untuk mereka yang ada di masa mendatang? Orang-orang yang kita tidak pernah tau?", lebih kurang begitu Doyle membangun kesadaran Cooper. Bahwa empati tidak bisa melampaui waktu. Apakah yang kita lakukan saat ini, dalam hidup kita, hanya untuk diri sendiri dan keluarga kita, atau untuk umat manusia ratusan bahkan ribuan tahun mendatang, waktu di mana kita bisa jadi tidak diingat pernah berkorban untuk mereka?

'Manusia selalu diajarkan untuk meninggalkan bumi, bukan menyelamatkannya'. Saat bumi sudah mencapai batas menopan tidak hanya kehidupan tapi juga keserakahan manusia, akankah bumi mati? Lalu saat itu tiba, apakah kita, manusia, juga akan ikut mati? Disebutkan, manusia akan selalu beradaptasi mengatasi masalahnya. Ketika ancaman kerusakan yang berakibat kepunahan itu benar akan tiba, apa yang bisa dilakukan manusia?

Nolan, sepertinya lebih hendak memberikan sebuah nilai alih-alih hiburan efek khusus yang memanjakan atau ketegangan yang demikian intens. Ketika harapan film ini akan seru, saya pribadi menganggap kenyataannya sungguh mengecewakan. Tapi mendapati hal lain daripada sekedar perjalanan luar angkasa, itu nilai tambah tersendiri. Terlepas dari beberapa kejanggalan secara ilmiah atas penggambaran luar angkasa seperti wormhole-blackhole dan kejadian di sekitarnya, film ini setidaknya mendasari pada satu keilmuan yang tidak sembarangan. Walau anda tidak mungkin seketika menjadi ahli fisika atau astronomi hanya dengan menonton film berdurasi 2.5 jam ini.

Monday, October 20, 2014

Internalisasi Corporate Values (ICV) 2014 KPP Pratama Palembang Ilir Timur


Apakah sebuah 'kementerian' seperti Kementerian Keuangan bisa disebut sebagai 'corporate' yang biasa diartikan sebagai perusahaan? Sejatinya, penggunaan istilah 'corporate values' memberikan kebingungan tersendiri buat saya. Tapi, okelah, anggap saja itu istilah agar lebih simpel dan menarik.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 312/KMK.01/2011 tanggal 12 September 2011 tentang Nilai-nilai Kementerian Keuangan, untuk mewujudkan sebuah instansi pemerintahan terbaik, berkualitas, dan bermartabat, serta menyatukan nilai-nilai yang tersebar di Direktorat-direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian Keuangan, maka ditetapkanlah nilai-nilai yang layak menjadi acuan bagi lebih dari 67 ribu pegawai. Nilai-nilai itu adalah :
1. Integritas
Dalam Integritas terkandung makna bahwa dalam berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya dengan baik dan benar serta selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.
2. Profesionalisme
Dalam ProfesionaIisme terkandung makna bahwa dalam bekerja, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya dengan tuntas dan akurat berdasarkan kompetensi terbaik dan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.
3. Sinergi
Dalam Sinergi terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan memiliki komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkuaIitas.
4. Pelayanan
Dalam Pelayanan terkandung makna bahwa dalam memberikan pelayanan, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya untuk memenuhi kepuasan pemangku kepentingan dan dilaksanakan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat, dan aman.
5. Kesempurnaan
Dalam Kesempurnaan terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Sejak tiga tahun ditetapkan, berbagai program telah dibuat untuk menunjang tercapainya perwujudan nilai-nilai tersebut. Sebut saja mulai dari sosialisasi, in-house training, hingga kegiatan tematik lainnya seperti renungan dan doa pagi, pemberian motivasi, pemilihan pegawai teladan bulan ini (employee of the month), hingga kegiatan luar kantor yang bisa dianggap puncak dari Internalisasi nilai-nilai ini dikemas dalam bentuk semacam outbond.

***

Kegiatan ICV dalam bentuk outbond bisa jadi seperti mercusuar program ini. Satu jenis kegiatan yang bisa menghabiskan 70% total anggaran tentu harus benar-benar memberikan manfaat dalam proses internalisasi. Pertanyaannya, apa yang bisa diraih dengan outbond yang berisi berbagai macam games dengan internalisasi nilai?

Pelatihan manajemen modern telah mengajarkan bahwa pemberian materi di kelas saja tidak cukup untuk peserta penerima materi dapat memahami dengan baik hal-hal yang sudah disampaikan. Sebelum benar-benar dalam situasi nyata, simulasi menjadi alat bantu yang baik untuk tujuan tersebut dan berbagai games dalam outbond dianggap tepat untuk memberikan simulasi atas perwujudan penerapan nilai-nilai tersebut dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Minggu, 12 Oktober 2014, bertempat di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, KPP Pratama Palembang Ilir Timur melaksanakan outing Internalisasi Corporate Values (ICV) untuk tahun 2014 ini. Ini adalah ICV keempat yang saya ikuti, kedua kalinya di kantor ini. Dalam cuaca buruk, di mana kabut asap sudah menyerang Kota Palembang sejak dua bulan terakhir, berangkat ke lokasi pukul 07.00 WIB merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hingga tiba di lokasi dan dimulai kegiatan pukul 08.00 WIB, belum ada tanda-tanda kabut akan menipis. Maka dimulailah kegiatan dengan bagi-bagi masker. Ya, bahkan foto dokumentasi pun wajah-wajah pegawai ini bertutup masker.

Seperti biasa, untuk games, peserta dibagi dalam tim di mana kali ini dibentuk tujuh tim dengan peserta delapan sampai sepuluh orang. Tiap tim ditandai dengan warna pada pita yang dibagi oleh panitia. Masing-masing tim disediakan karton putih dan spidol, apalagi kalau bukan membuat simbol dan nama tim. Ya, kali ini tidak seperti biasanya, tidak dibutuhkan yel-yel, nyanyi-nyanyian, dan sejenis itu.

Game pertama adalah membangun konstruksi dengan sedotan. Hampir semua yang pernah mengikuti training/outbond pernah memainkan permainan ini. Dibutuhkan perencanaan dan kerja sama yang baik dari tiap anggota tim untuk bisa membuat konstruksi (seperti) bangunan setinggi mungkin tanpa goyah apalagi ambruk meski tertiup angin. Sulit? Iya, tapi bukan berarti tak mungkin.

Game kedua lebih melibatkan fisik. Membalik sisi alas/karpet yang dihuni lima orang tanpa bagian tubuh kecuali tangan di luar menyentuh tanah. Diperlukan selain perencanaan dan kerja sama tim, adalah fleksibilitas tubuh dan sedikit pengorbanan untuk saling injak, pangku, bahkan gendong, tergantung strategi masing-masing.

Salah satu permainan paling populer menjadi game ketiga, balap hulahoop. Hati-hati memar kepala atau bagi mereka yang berkacamata. Tidak jarang ketiak teman hinggap di wajah, atau badan terkilir karena kurang lentur. Tapi sepertinya semua sakit tidak terasa hingga permainan selesai sudah.

Main air! Sayangnya saat ini musim kemarau, bahkan sungai yang seharusnya mengalir di sisi-sisi Taman ini ikut mengering. Toxic bomb dan pipa bocor jadi dua permainan berikutnya. Strategi yang tepat, kecepatan dan pengaturan anggota tim untuk melakukan pekerjaannya menjadi penting di sini. Basah? Siapa takut! Harusnya sih basah sekalian layaknya mandi, tapi, lagi-lagi musim kemarau, basahnya pun secukupnya saja.

Penggunaan games outbond dalam pelatihan manajemen biasanya untuk membuka pola komunikasi yang selama di kantor biasanya tertutup atau tersumbat. Jalur birokrasi, keengganan bawahan, dan hal lain biasanya menjadi hambatan, padahal komunikasi adalah kunci tercapai tidaknya suatu tujuan. Dalam games, semua batas-batas dihapus. Tidak ada jabatan di sini, derajat semua anggota tim dalam permainan adalah sama. Tidak selalu kepala seksi menjadi ketua tim. Tidak selalu kepala kantor tahu semua pemecahan dan strategi terbaik memenangkan permainan. Kapan lagi bawahan bisa digendong atasan? Atau bahkan agak (sedikit) menjahili? Tentu, berharap hanya dengan bermain selama tiga jam lalu semua nilai-nilai da[at terserap dalam setiap pribadi adalah mimpi yang terlalu tinggi, bahkan di siang bolong. Setidaknya, jika direncanakan, dikemas, dan dilaksanakan dengan tepat, ada hal yang membekas dan menjadi pengalaman tersendiri bagi tiap peserta kegiatan. Bahwa kegiatan ICV ini bukan basa-basi, bukan kegiatan penghabis anggaran yang memang sudah tipis dari awal, tapi memang menjadi salah satucara efektif, bagaimana setiap pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi agen perubahan bagi instansi pemerintahan.

Pertanyaannya, masihkah akan ada ICV Kementerian Keuangan di Institusi Perpajakan tahun depan? 

Dracula Untold : Sebuah Film Yang Memang Tidak Perlu Diceritakan

Film dengan nama judul besar akhirnya tayang di Oktober ini, film yang boleh jadi masuk dalam daftar tunggu untuk ditonton. Film tentang tokoh yang legendaris, yang hampir semua orang tahu kisahnya.

Alkisah, negara Transylvania dipimpin oleh seorang Raja (tapi lebih dikenal sebagai Pangeran) bernama Vlad II (Luke Evans), yang dibesarkan dan dididik secara keras oleh Kesultanan Turki hingga menjadi ksatria yang tangguh dan ditakuti dengan nama Vlad The Impaler (Vlad Si Penyula) karena ia dikenal suka menyula musuh-musuh yang dibunuhnya. Kembali mencoba memimpin negara dalam masa tenang, Vlad harus menghadapi kenyataan bahwa Sultan Mehmet II (Dominic Cooper) dari Kesultanan Turki telah tiba di gerbang kerajaannya, menuntut ia menyerahkan 1.000 anak untuk dijadikan prajurit perang berikut anaknya sendiri, Ingeras (Art Parkinson), layaknya ia dulu diserahkan oleh ayahnya kepada Sultan Turki.

Vlad dilanda kebimbangan dengan desakan istrinya, Mirena (Sarah Gadon), untuk tidak menyerahkan anak mereka satu-satunya, sementara itu berarti membangkang dan menantang perang Sultan Mehmet II, sesuatu yang akan menghadirkan mimpi buruk bagi kerajaan dan rakyatnya, mengingat mereka tidak punya cukup pasukan untuk menghadapi ratusan ribu pasukaan Kesultanan Turki. Di tengah keputusasaannya, Vlad lalu mendaki Gunung Broken Tooth untuk bertemu dengan monster yang telah menjadi misteri selama ratusan tahun di biara tua mereka, monster yang haus akan darah dan menguasai gelap malam. Hingga akhirnya, dengan harapan bisa menghadapi pasukan Turki dan menyelamatkan rakyatnya, Vlad menerima penawaran monster tua tersebut, meminum darahnya, lalu mati dan bangkit lagi dengan kekuatan super, bisa mendengar suara dari kejauhan, melihat di kegelapan, dan mengendalikan makhluk malam.

Maka, demikianlah, seorang diri, Vlad menghabisi 1.000 pasukan Turki hanya dalam satu malam. Waktu yang terbatas, karena dalam perjanjiannya, ia hanya punya tiga hari untuk bertahan dari godaan kehausan akan darah manusia agar ia bisa kembali menjadi manusia sedia kala, atau mengikuti hasrat nafsunya, dan jadi monster penghisap darah untuk selamanya dalam keabadian.

...

Kisah Drakula merupakan salah satu kisah paling dikenal dari Barat. Mencapai puncak popularitasnya ketika novel yang ditulis Bram Stoker diangkat ke dalam film yang dibintangi Keanu Reeves dan Gary Oldman pada tahun 1992. Banyak film yang diangkat bercerita tentang sosok penghisap darah itu sendiri, yang tidak kalah populer adalah Van Helsing (2004) yang dibintangi oleh Hugh Jackman dan Richard Roxburgh. Kali ini, sutradara Gary Shores dan para penulis skenario mencoba mengangkat kisah drakula melalui sisi sejarah asal mula kelahiran sosok penghisap darah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sosok Drakula dinisbatkan kepada Vlad II dari Transylvania, yang bagi sebagian orang telah dikenal dengan kekejamannya terhadap musuh dengan cara menyula mereka. Ribuan pasukan Turki menjadi korbannya yang membuat Sultan Mehmet mengerahkan lebih banyak pasukan untuk menyerangnya.

Berfokus pada latar belakang tersebut, entah tidak mau terjebak dalam sejarah yang bisa saja diperdebatkan, atau memang semata hanya ingin mengambil latar belakang itu, film ini justru menjadi kehilangan arah. Apakah ingin mengggali sisi terdalam seorang Vlad hingga ia menjadi Drakula? Atau pertentangannya dengan Mehmet II? Keduanya tidak dapat terpenuhi dengan baik.

Kita bisa memahami alasan terdalam Vlad menerima penawaran untuk mendapatkan kekuatan tersebut, mengorbankan hidupnya demi rakyat dan anaknya. Namun Drakula sebagai ikon penghisap darah tidak kita dapati. Ya, walau memang diceritakan ia berusaha untuk tidak minum darah, tetap saja adegan ketika ia mengigit dan meminum darah istrinya tidak bisa dikatakan mengesankan. Kita telah kehilangan sosok penghisap/peminum darah! Perang dengan Turki? Mau dibuat 100.000 pasukan Turki, jika hanya melawan satu orang Vlad, jelas tidak akan menggambarkan sebuah perang yang kolosal. Bahkan juga tidak dengan pertarungan terakhirnya dengan Mehmet II. Lagipula, memangnya Mehmet II terbunuh di peperangan melawan Vlad II?

Jika anda penggemar konspirasi, kehadiran film Dracula Untold di saat ini tentu menemukan momennya. Siapa yang tidak tau Turki saat ini? Sebagai sebuah mercusuar kebangkitan Daulah Islam (walau tidak mengklaim kekhalifahan), Turki di sini dengan tepat digambarkan sebuah negara ekspansif, dengan Sultan yang gila kuasa dan gila perang, dan prajurit yang kejam tanpa belas kasihan. Walau bisa jadi berbeda, tetap saja nama 'Turki' melekat di sini, meski pembuat film tidak sedikitpun menyinggung soal keagamaan di sini. Turki di sini adalah sebuah Kesultanan, titik. Bukan sebuah imperium dengan nilai agama yang lekat. Sebuah penggambaran yang cukup 'aman'.

Pada akhirnya, sulit mengatakan bahwa film ini akan menjadi sebuah film yang memorable, layaknya film-film tentang Drakula sebelumnya. Sebagai sebuah hiburan, bolehlah, duduk dan nikmati, bahwa film ini akan bercerita tentang seorang Ayah, seorang Raja, yang begitu mencintai keluarga dan rakyatnya, hingga batas-batas kemanusiaannya.

...

Apa yang akan Anda lakukan untuk anak Anda? Jika anda seorang pemimpin (apalagi pimpinan), seberapa jauh Anda akan berkorban untuk mereka yang Anda pimpin? Terkadang, demi orang yang kita cintai, gelap yang paling kelam sekalipun akan kita tempuh. Meski pada akhirnya berarti justru mengorbankan mereka yang kita cintai.