
Apakah
sebuah 'kementerian' seperti Kementerian Keuangan bisa disebut sebagai
'corporate' yang biasa diartikan sebagai perusahaan? Sejatinya,
penggunaan istilah 'corporate values' memberikan kebingungan tersendiri
buat saya. Tapi, okelah, anggap saja itu istilah agar lebih simpel dan
menarik.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor :
312/KMK.01/2011 tanggal 12 September 2011 tentang Nilai-nilai
Kementerian Keuangan, untuk mewujudkan sebuah instansi pemerintahan
terbaik, berkualitas, dan bermartabat, serta menyatukan nilai-nilai yang
tersebar di Direktorat-direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian
Keuangan, maka ditetapkanlah nilai-nilai yang layak menjadi acuan bagi
lebih dari 67 ribu pegawai. Nilai-nilai itu adalah :

1. Integritas
Dalam
Integritas terkandung makna bahwa dalam berpikir, berkata, berperilaku,
dan bertindak, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan
Kementerian Keuangan melakukannya dengan baik dan benar serta selalu
memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.
2. Profesionalisme
Dalam
ProfesionaIisme terkandung makna bahwa dalam bekerja, Pimpinan dan
seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan
melakukannya dengan tuntas dan akurat berdasarkan kompetensi terbaik dan
penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.
3. Sinergi
Dalam
Sinergi terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil
di lingkungan Kementerian Keuangan memiliki komitmen untuk membangun
dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta
kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk
menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkuaIitas.
4. Pelayanan
Dalam
Pelayanan terkandung makna bahwa dalam memberikan pelayanan, Pimpinan
dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan
melakukannya untuk memenuhi kepuasan pemangku kepentingan dan
dilaksanakan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat, dan aman.
5. Kesempurnaan
Dalam
Kesempurnaan terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri
Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan senantiasa melakukan upaya
perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.
Sejak
tiga tahun ditetapkan, berbagai program telah dibuat untuk menunjang
tercapainya perwujudan nilai-nilai tersebut. Sebut saja mulai dari
sosialisasi, in-house training, hingga kegiatan tematik lainnya seperti
renungan dan doa pagi, pemberian motivasi, pemilihan pegawai teladan
bulan ini (employee of the month), hingga kegiatan luar kantor yang bisa
dianggap puncak dari Internalisasi nilai-nilai ini dikemas dalam bentuk
semacam outbond.
***
Kegiatan ICV dalam bentuk outbond
bisa jadi seperti mercusuar program ini. Satu jenis kegiatan yang bisa
menghabiskan 70% total anggaran tentu harus benar-benar memberikan
manfaat dalam proses internalisasi. Pertanyaannya, apa yang bisa diraih
dengan outbond yang berisi berbagai macam games dengan internalisasi
nilai?
Pelatihan manajemen modern telah mengajarkan bahwa
pemberian materi di kelas saja tidak cukup untuk peserta penerima materi
dapat memahami dengan baik hal-hal yang sudah disampaikan. Sebelum
benar-benar dalam situasi nyata, simulasi menjadi alat bantu yang baik
untuk tujuan tersebut dan berbagai games dalam outbond dianggap tepat
untuk memberikan simulasi atas perwujudan penerapan nilai-nilai tersebut
dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Minggu, 12
Oktober 2014, bertempat di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, KPP
Pratama Palembang Ilir Timur melaksanakan outing Internalisasi Corporate
Values (ICV) untuk tahun 2014 ini. Ini adalah ICV keempat yang saya
ikuti, kedua kalinya di kantor ini. Dalam cuaca buruk, di mana kabut
asap sudah menyerang Kota Palembang sejak dua bulan terakhir, berangkat
ke lokasi pukul 07.00 WIB merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hingga
tiba di lokasi dan dimulai kegiatan pukul 08.00 WIB, belum ada
tanda-tanda kabut akan menipis. Maka dimulailah kegiatan dengan
bagi-bagi masker. Ya, bahkan foto dokumentasi pun wajah-wajah pegawai
ini bertutup masker.

Seperti
biasa, untuk games, peserta dibagi dalam tim di mana kali ini dibentuk
tujuh tim dengan peserta delapan sampai sepuluh orang.

Tiap
tim ditandai dengan warna pada pita yang dibagi oleh panitia.
Masing-masing tim disediakan karton putih dan spidol, apalagi kalau
bukan membuat simbol dan nama tim. Ya, kali ini tidak seperti biasanya,
tidak dibutuhkan yel-yel, nyanyi-nyanyian, dan sejenis itu.
Game
pertama adalah membangun konstruksi dengan sedotan. Hampir semua yang
pernah mengikuti training/outbond pernah memainkan permainan ini.
Dibutuhkan perencanaan dan kerja sama yang baik dari tiap anggota tim
untuk bisa membuat konstruksi (seperti) bangunan setinggi mungkin tanpa
goyah apalagi ambruk meski tertiup angin. Sulit? Iya, tapi bukan berarti
tak mungkin.
Game
kedua lebih melibatkan fisik. Membalik sisi alas/karpet yang dihuni
lima orang tanpa bagian tubuh kecuali tangan di luar menyentuh tanah.

Diperlukan
selain perencanaan dan kerja sama tim, adalah fleksibilitas tubuh dan
sedikit pengorbanan untuk saling injak, pangku, bahkan gendong,
tergantung strategi masing-masing.

Salah
satu permainan paling populer menjadi game ketiga, balap hulahoop.
Hati-hati memar kepala atau bagi mereka yang berkacamata. Tidak jarang
ketiak teman hinggap di wajah, atau badan terkilir karena kurang lentur.
Tapi sepertinya semua sakit tidak terasa hingga permainan selesai
sudah.
Main air! Sayangnya saat ini musim kemarau, bahkan sungai
yang seharusnya mengalir di sisi-sisi Taman ini ikut mengering. Toxic
bomb dan pipa bocor jadi dua permainan berikutnya.

Strategi yang tepat, kecepatan dan pengaturan anggota tim untuk melakukan pekerjaannya menjadi penting di sini.

Basah? Siapa takut! Harusnya sih basah sekalian layaknya mandi, tapi, lagi-lagi musim kemarau, basahnya pun secukupnya saja.
Penggunaan
games outbond dalam pelatihan manajemen biasanya untuk membuka pola
komunikasi yang selama di kantor biasanya tertutup atau tersumbat. Jalur
birokrasi, keengganan bawahan, dan hal lain biasanya menjadi hambatan,
padahal komunikasi adalah kunci tercapai tidaknya suatu tujuan. Dalam
games, semua batas-batas dihapus. Tidak ada jabatan di sini, derajat
semua anggota tim dalam permainan adalah sama. Tidak selalu kepala seksi
menjadi ketua tim. Tidak selalu kepala kantor tahu semua pemecahan dan
strategi terbaik memenangkan permainan. Kapan lagi bawahan bisa
digendong atasan? Atau bahkan agak (sedikit) menjahili? Tentu, berharap
hanya dengan bermain selama tiga jam lalu semua nilai-nilai da[at
terserap dalam setiap pribadi adalah mimpi yang terlalu tinggi, bahkan
di siang bolong. Setidaknya, jika direncanakan, dikemas, dan
dilaksanakan dengan tepat, ada hal yang membekas dan menjadi pengalaman
tersendiri bagi tiap peserta kegiatan. Bahwa kegiatan ICV ini bukan
basa-basi, bukan kegiatan penghabis anggaran yang memang sudah tipis
dari awal, tapi memang menjadi salah satucara efektif, bagaimana setiap
pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi agen perubahan bagi
instansi pemerintahan.
Pertanyaannya, masihkah akan ada ICV Kementerian Keuangan di Institusi Perpajakan tahun depan?