Monday, October 20, 2014

Internalisasi Corporate Values (ICV) 2014 KPP Pratama Palembang Ilir Timur


Apakah sebuah 'kementerian' seperti Kementerian Keuangan bisa disebut sebagai 'corporate' yang biasa diartikan sebagai perusahaan? Sejatinya, penggunaan istilah 'corporate values' memberikan kebingungan tersendiri buat saya. Tapi, okelah, anggap saja itu istilah agar lebih simpel dan menarik.

Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 312/KMK.01/2011 tanggal 12 September 2011 tentang Nilai-nilai Kementerian Keuangan, untuk mewujudkan sebuah instansi pemerintahan terbaik, berkualitas, dan bermartabat, serta menyatukan nilai-nilai yang tersebar di Direktorat-direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian Keuangan, maka ditetapkanlah nilai-nilai yang layak menjadi acuan bagi lebih dari 67 ribu pegawai. Nilai-nilai itu adalah :
1. Integritas
Dalam Integritas terkandung makna bahwa dalam berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya dengan baik dan benar serta selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.
2. Profesionalisme
Dalam ProfesionaIisme terkandung makna bahwa dalam bekerja, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya dengan tuntas dan akurat berdasarkan kompetensi terbaik dan penuh tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.
3. Sinergi
Dalam Sinergi terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan memiliki komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkuaIitas.
4. Pelayanan
Dalam Pelayanan terkandung makna bahwa dalam memberikan pelayanan, Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan melakukannya untuk memenuhi kepuasan pemangku kepentingan dan dilaksanakan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat, dan aman.
5. Kesempurnaan
Dalam Kesempurnaan terkandung makna bahwa Pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Sejak tiga tahun ditetapkan, berbagai program telah dibuat untuk menunjang tercapainya perwujudan nilai-nilai tersebut. Sebut saja mulai dari sosialisasi, in-house training, hingga kegiatan tematik lainnya seperti renungan dan doa pagi, pemberian motivasi, pemilihan pegawai teladan bulan ini (employee of the month), hingga kegiatan luar kantor yang bisa dianggap puncak dari Internalisasi nilai-nilai ini dikemas dalam bentuk semacam outbond.

***

Kegiatan ICV dalam bentuk outbond bisa jadi seperti mercusuar program ini. Satu jenis kegiatan yang bisa menghabiskan 70% total anggaran tentu harus benar-benar memberikan manfaat dalam proses internalisasi. Pertanyaannya, apa yang bisa diraih dengan outbond yang berisi berbagai macam games dengan internalisasi nilai?

Pelatihan manajemen modern telah mengajarkan bahwa pemberian materi di kelas saja tidak cukup untuk peserta penerima materi dapat memahami dengan baik hal-hal yang sudah disampaikan. Sebelum benar-benar dalam situasi nyata, simulasi menjadi alat bantu yang baik untuk tujuan tersebut dan berbagai games dalam outbond dianggap tepat untuk memberikan simulasi atas perwujudan penerapan nilai-nilai tersebut dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Minggu, 12 Oktober 2014, bertempat di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, KPP Pratama Palembang Ilir Timur melaksanakan outing Internalisasi Corporate Values (ICV) untuk tahun 2014 ini. Ini adalah ICV keempat yang saya ikuti, kedua kalinya di kantor ini. Dalam cuaca buruk, di mana kabut asap sudah menyerang Kota Palembang sejak dua bulan terakhir, berangkat ke lokasi pukul 07.00 WIB merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hingga tiba di lokasi dan dimulai kegiatan pukul 08.00 WIB, belum ada tanda-tanda kabut akan menipis. Maka dimulailah kegiatan dengan bagi-bagi masker. Ya, bahkan foto dokumentasi pun wajah-wajah pegawai ini bertutup masker.

Seperti biasa, untuk games, peserta dibagi dalam tim di mana kali ini dibentuk tujuh tim dengan peserta delapan sampai sepuluh orang. Tiap tim ditandai dengan warna pada pita yang dibagi oleh panitia. Masing-masing tim disediakan karton putih dan spidol, apalagi kalau bukan membuat simbol dan nama tim. Ya, kali ini tidak seperti biasanya, tidak dibutuhkan yel-yel, nyanyi-nyanyian, dan sejenis itu.

Game pertama adalah membangun konstruksi dengan sedotan. Hampir semua yang pernah mengikuti training/outbond pernah memainkan permainan ini. Dibutuhkan perencanaan dan kerja sama yang baik dari tiap anggota tim untuk bisa membuat konstruksi (seperti) bangunan setinggi mungkin tanpa goyah apalagi ambruk meski tertiup angin. Sulit? Iya, tapi bukan berarti tak mungkin.

Game kedua lebih melibatkan fisik. Membalik sisi alas/karpet yang dihuni lima orang tanpa bagian tubuh kecuali tangan di luar menyentuh tanah. Diperlukan selain perencanaan dan kerja sama tim, adalah fleksibilitas tubuh dan sedikit pengorbanan untuk saling injak, pangku, bahkan gendong, tergantung strategi masing-masing.

Salah satu permainan paling populer menjadi game ketiga, balap hulahoop. Hati-hati memar kepala atau bagi mereka yang berkacamata. Tidak jarang ketiak teman hinggap di wajah, atau badan terkilir karena kurang lentur. Tapi sepertinya semua sakit tidak terasa hingga permainan selesai sudah.

Main air! Sayangnya saat ini musim kemarau, bahkan sungai yang seharusnya mengalir di sisi-sisi Taman ini ikut mengering. Toxic bomb dan pipa bocor jadi dua permainan berikutnya. Strategi yang tepat, kecepatan dan pengaturan anggota tim untuk melakukan pekerjaannya menjadi penting di sini. Basah? Siapa takut! Harusnya sih basah sekalian layaknya mandi, tapi, lagi-lagi musim kemarau, basahnya pun secukupnya saja.

Penggunaan games outbond dalam pelatihan manajemen biasanya untuk membuka pola komunikasi yang selama di kantor biasanya tertutup atau tersumbat. Jalur birokrasi, keengganan bawahan, dan hal lain biasanya menjadi hambatan, padahal komunikasi adalah kunci tercapai tidaknya suatu tujuan. Dalam games, semua batas-batas dihapus. Tidak ada jabatan di sini, derajat semua anggota tim dalam permainan adalah sama. Tidak selalu kepala seksi menjadi ketua tim. Tidak selalu kepala kantor tahu semua pemecahan dan strategi terbaik memenangkan permainan. Kapan lagi bawahan bisa digendong atasan? Atau bahkan agak (sedikit) menjahili? Tentu, berharap hanya dengan bermain selama tiga jam lalu semua nilai-nilai da[at terserap dalam setiap pribadi adalah mimpi yang terlalu tinggi, bahkan di siang bolong. Setidaknya, jika direncanakan, dikemas, dan dilaksanakan dengan tepat, ada hal yang membekas dan menjadi pengalaman tersendiri bagi tiap peserta kegiatan. Bahwa kegiatan ICV ini bukan basa-basi, bukan kegiatan penghabis anggaran yang memang sudah tipis dari awal, tapi memang menjadi salah satucara efektif, bagaimana setiap pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi agen perubahan bagi instansi pemerintahan.

Pertanyaannya, masihkah akan ada ICV Kementerian Keuangan di Institusi Perpajakan tahun depan? 

Dracula Untold : Sebuah Film Yang Memang Tidak Perlu Diceritakan

Film dengan nama judul besar akhirnya tayang di Oktober ini, film yang boleh jadi masuk dalam daftar tunggu untuk ditonton. Film tentang tokoh yang legendaris, yang hampir semua orang tahu kisahnya.

Alkisah, negara Transylvania dipimpin oleh seorang Raja (tapi lebih dikenal sebagai Pangeran) bernama Vlad II (Luke Evans), yang dibesarkan dan dididik secara keras oleh Kesultanan Turki hingga menjadi ksatria yang tangguh dan ditakuti dengan nama Vlad The Impaler (Vlad Si Penyula) karena ia dikenal suka menyula musuh-musuh yang dibunuhnya. Kembali mencoba memimpin negara dalam masa tenang, Vlad harus menghadapi kenyataan bahwa Sultan Mehmet II (Dominic Cooper) dari Kesultanan Turki telah tiba di gerbang kerajaannya, menuntut ia menyerahkan 1.000 anak untuk dijadikan prajurit perang berikut anaknya sendiri, Ingeras (Art Parkinson), layaknya ia dulu diserahkan oleh ayahnya kepada Sultan Turki.

Vlad dilanda kebimbangan dengan desakan istrinya, Mirena (Sarah Gadon), untuk tidak menyerahkan anak mereka satu-satunya, sementara itu berarti membangkang dan menantang perang Sultan Mehmet II, sesuatu yang akan menghadirkan mimpi buruk bagi kerajaan dan rakyatnya, mengingat mereka tidak punya cukup pasukan untuk menghadapi ratusan ribu pasukaan Kesultanan Turki. Di tengah keputusasaannya, Vlad lalu mendaki Gunung Broken Tooth untuk bertemu dengan monster yang telah menjadi misteri selama ratusan tahun di biara tua mereka, monster yang haus akan darah dan menguasai gelap malam. Hingga akhirnya, dengan harapan bisa menghadapi pasukan Turki dan menyelamatkan rakyatnya, Vlad menerima penawaran monster tua tersebut, meminum darahnya, lalu mati dan bangkit lagi dengan kekuatan super, bisa mendengar suara dari kejauhan, melihat di kegelapan, dan mengendalikan makhluk malam.

Maka, demikianlah, seorang diri, Vlad menghabisi 1.000 pasukan Turki hanya dalam satu malam. Waktu yang terbatas, karena dalam perjanjiannya, ia hanya punya tiga hari untuk bertahan dari godaan kehausan akan darah manusia agar ia bisa kembali menjadi manusia sedia kala, atau mengikuti hasrat nafsunya, dan jadi monster penghisap darah untuk selamanya dalam keabadian.

...

Kisah Drakula merupakan salah satu kisah paling dikenal dari Barat. Mencapai puncak popularitasnya ketika novel yang ditulis Bram Stoker diangkat ke dalam film yang dibintangi Keanu Reeves dan Gary Oldman pada tahun 1992. Banyak film yang diangkat bercerita tentang sosok penghisap darah itu sendiri, yang tidak kalah populer adalah Van Helsing (2004) yang dibintangi oleh Hugh Jackman dan Richard Roxburgh. Kali ini, sutradara Gary Shores dan para penulis skenario mencoba mengangkat kisah drakula melalui sisi sejarah asal mula kelahiran sosok penghisap darah ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sosok Drakula dinisbatkan kepada Vlad II dari Transylvania, yang bagi sebagian orang telah dikenal dengan kekejamannya terhadap musuh dengan cara menyula mereka. Ribuan pasukan Turki menjadi korbannya yang membuat Sultan Mehmet mengerahkan lebih banyak pasukan untuk menyerangnya.

Berfokus pada latar belakang tersebut, entah tidak mau terjebak dalam sejarah yang bisa saja diperdebatkan, atau memang semata hanya ingin mengambil latar belakang itu, film ini justru menjadi kehilangan arah. Apakah ingin mengggali sisi terdalam seorang Vlad hingga ia menjadi Drakula? Atau pertentangannya dengan Mehmet II? Keduanya tidak dapat terpenuhi dengan baik.

Kita bisa memahami alasan terdalam Vlad menerima penawaran untuk mendapatkan kekuatan tersebut, mengorbankan hidupnya demi rakyat dan anaknya. Namun Drakula sebagai ikon penghisap darah tidak kita dapati. Ya, walau memang diceritakan ia berusaha untuk tidak minum darah, tetap saja adegan ketika ia mengigit dan meminum darah istrinya tidak bisa dikatakan mengesankan. Kita telah kehilangan sosok penghisap/peminum darah! Perang dengan Turki? Mau dibuat 100.000 pasukan Turki, jika hanya melawan satu orang Vlad, jelas tidak akan menggambarkan sebuah perang yang kolosal. Bahkan juga tidak dengan pertarungan terakhirnya dengan Mehmet II. Lagipula, memangnya Mehmet II terbunuh di peperangan melawan Vlad II?

Jika anda penggemar konspirasi, kehadiran film Dracula Untold di saat ini tentu menemukan momennya. Siapa yang tidak tau Turki saat ini? Sebagai sebuah mercusuar kebangkitan Daulah Islam (walau tidak mengklaim kekhalifahan), Turki di sini dengan tepat digambarkan sebuah negara ekspansif, dengan Sultan yang gila kuasa dan gila perang, dan prajurit yang kejam tanpa belas kasihan. Walau bisa jadi berbeda, tetap saja nama 'Turki' melekat di sini, meski pembuat film tidak sedikitpun menyinggung soal keagamaan di sini. Turki di sini adalah sebuah Kesultanan, titik. Bukan sebuah imperium dengan nilai agama yang lekat. Sebuah penggambaran yang cukup 'aman'.

Pada akhirnya, sulit mengatakan bahwa film ini akan menjadi sebuah film yang memorable, layaknya film-film tentang Drakula sebelumnya. Sebagai sebuah hiburan, bolehlah, duduk dan nikmati, bahwa film ini akan bercerita tentang seorang Ayah, seorang Raja, yang begitu mencintai keluarga dan rakyatnya, hingga batas-batas kemanusiaannya.

...

Apa yang akan Anda lakukan untuk anak Anda? Jika anda seorang pemimpin (apalagi pimpinan), seberapa jauh Anda akan berkorban untuk mereka yang Anda pimpin? Terkadang, demi orang yang kita cintai, gelap yang paling kelam sekalipun akan kita tempuh. Meski pada akhirnya berarti justru mengorbankan mereka yang kita cintai.

The Maze Runner : A-maze-ing Young-Adult Movie, So Far

                                             Kembali, film bertema young-adult diangkat ke layar lebar dari sebuah novel yang boleh jadi -seperti biasa- tidak terlalu dikenal. Bisa jadi juga sudah tidak ada lagi ide segar dari para sineas Hollywood sehingga mereka berlomba menjadikan novel sebagai materi film. Atau, ini justru sebuah ujian kreatifitas?

Film ini bercerita tentang seorang remaja laki-laki bernama Thomas (Dylan O'Brien) yang terbangun tiba-tiba di antara sekumpulan remaja laki-laki lainnya di sebuah tempat yang asing yang disebut dengan The Glade. Tanpa memiliki ingatan apapun tentang dirinya, termasuk namanya sendiri hingga muncul dalam ingatan kemudian, Thomas berada dalam kebingungan dan ketakutan saat menyadari tempat itu terkurung tembok-tembok tinggi dan mereka yang ada di sana berjuang bertahan hidup dengan caranya sendiri. The Gladers ini dipimpin oleh Alby (Aml Ameen), disebut-sebut sebagai orang pertama yang dikirim ke tempat terpencil ini, membuat aturan agar komunitas ini tetap bersatu dan bertahan hidup sambil mencari cara untuk keluar menembus kuruang tembok-tembok ini.

Salah satu aturan yang mengikat The Gladers adalah larangan untuk masuk ke dalam celah dinding yang terbuka, yang hanya boleh dimasuki mereka yang tergabung dalam Runner. Tugas mereka khusus, masuk ke dalam labirin di balik dinding, mencatat semua jalan sambil terus mencoba mencari jalan keluar. Hal sulit dari labirin ini adalah, setiap malam susunannya selalu berubah, seperti hidup, dan membentuk susunan baru. Disebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa bertahan satu malam di dalam labirin. Ini dikarenakan pintu gerbang labirin ini terbuka setiap pagi dan menutup menjelang matahari terbenam.

Suasana semakin tidak menentu ketika salah seorang Runner bernama Ben tiba-tiba dalam keadaan seperti kerasukan menyerang Thomas sambil bergumam bahwa ini semua salahnya. Kondisi ini adalah sesuatu yang lazim ketika seseorang disengat Griever, makhluk yang menguasai labirin dan senantiasa menjadi ancaman bagi setiap Runner ketika masuk ke dalam sana. Dengan kondisi yang semakin memburuk dan tidak mungkin terobati, Ben, sesuai tradisi, akhirnya dibuang ke dalam labirin. Merasa keadaan semakin tidak menentu, Alby ditemani Minho (Ki Hong Lee), ketua regu Runner, masuk ke dalam labirin hingga menjelang senja, ketika sebagian menganggap mereka sudah tidak mungkin pulang, mereka berdua kembali dalam keadaan Alby tengah sekarat tersengat. Tidak dapat berdiam diri menghadapi kemungkinan keduanya bermalam di dalam labirin, Thomas memaksa masuk ke dalam labirin tepat ketika akhirnya gerbang tertutup. Untuk pertama kalinya, ia harus menghadapi ancaman sebenarnya dari Labirin.

....
  
Di angkat dari novel berjudul sama karya James Dashner, tema yang diusung adalah keadaan ketika kondisi bumi telah mengalami kehancuran luar biasa (post-apocalyptic). Bermain di wilayah young-adult, berbeda dengan genre yang sama yang telah diangkat beberapa kali dalam film di mana jagoannya adalah perempuan dan sepertinya menyasar penonton perempuan dengan kisah kasih khas remaja, film ini justru menggambarkan keadaan yang jauh dari manis dan romantis. Suasana yang keras dan mencekam tergambarkan di hampir 1.5 jam durasi film ini. Tidak ada ruang untuk menampilkan kisah percintaan (dan itu bagus, mengingat hampir semua karakter dalam film ini adalah (remaja) laki-laki) dan menggantinya dengan gambaran betapa pentingnya aturan dan persatuan dalam sebuah komunitas, apalagi ketika berhadapan dengan situasi hidup-mati.

Menarik mencermati bagaimana karakter Gally (Will Poulter) saat mengambil alih kepemimpinan The Gladers ketika Alby tengah sekarat. Ia mencoba tetap bertahan dengan aturan yang mereka buat dan jaga selama tiga tahun demi keutuhan mereka. Kekeraskepalaannya menghukum Thomas dan lain-lain yang mencoba lari ke dalam Labirin, bahkan selepas rombongan Grieve menyerang desa mereka, menunjukkan bagaimana seseorang bisa begitu bertahan dengan ide, prinsip, dan aturan yang dibuat sendiri, justru ketika mereka berada di dalam kungkungan tembok tinggi, hingga merasa lebih baik dan nyaman berada di dalam sebuah penjara tersebut, alih-alih mencoba keluar dan meraih kebebasan mereka. Atau mati ketika mencobanya. Jika menggunakan istilah 'zona nyaman', bisa jadi ini gambarannya. Kita berada di zona nyaman yang awalnya mengurung kita, membatasi pikiran dan diri kita dengan tembok-pemikiran sehingga kita tidak bisa berkembang dan maju, stagnan di tempat. Lalu kita membuat alasan dan pembenaran mengapa kita tidak seharusnya mencoba keluar mencari jalan meninggalkan zona nyaman tersebut. Kita bisa jadi gagal dan terbuang, tapi kita juga telah membuka kesempatan untuk maju.

...

Perlu mencari beberapa referensi sebelum memastikan diri menyaksikan film ini, agar tidak terjebak dalam film-film bertema sejenis yang memang sedang tren. Dan ketika ceritanya memang tidak sama seperti yang lain, maka buat Anda yang ingin menyaksikan sebuah film remaja, tanpa laki-laki bertelanjang dada dan berotot kekar, ataupun cerita 'menye-menye' romantis yang memuakkan, ini adalah pilihan yang, sampai saat ini, tepat. Dan karena film ini diangkat dari sebuah novel yang bisa dibilang berseri, jangan kaget jika di akhir film akan ada kesan film ini harus ada sekuelnya. Yah, buat saya, memang harus.

The Fault in Our Stars : One Hell of a 'Sick' Movie, Trully


Demi apa sehingga aku harus nonton film cinta remaja? *mehh* Yah, anggap saja khilaf di penghujung kepenatan.

The Fault in Our Stars berkisah seorang gadis penderita kanker tiroid, Hazel Grace Lancaster (Shailenne Woodley) yang sudah mengancam paru-parunya dan membuatnya depresi, hingga orang tuanya yang begitu mencintainya mendorongnya bergabung dalam komunitas pendukung penderita kanker di kotanya. Di sanalah ia berjumpa dengan Augustus Waters (Ansel Elgort), penderita 'osteosarcoma' yang telah kehilangan kaki kanannya. Ikatan pertemanan di antaranya perlahan menguat, hingga Hazel merekomendasikan novel favoritnya, An Imperial Affection, kisah seorang gadis penderita kanker yang dianggapnya memiliki pengalaman hidup yang sama dengan dirinya. Gus demikian penasaran dengan akhir kisah pada novel yang mereka anggap menyisakan banyak pertanyaan. Sayangnya, penulis novel, Peter Van Houten (Willem Dafoe) telah meninggalkan Amerika menuju Amsterdam.

Gus, dengan optimisnya, menjanjikan bahwa mereka bisa ke Amsterdam untuk berjumpa Van Houten dan bertanya banyak hal tentang novel tersebut. Sesuatu yang sempat menjadi angan-angan saja ketika penyakit Hazel tiba-tiba kembali menyerang. Sang Ibu, dengan cintanya yang amat sangat, mencoba meyakinkan bahwa semua keinginannya bisa saja terwujud, meski untuk ke mana mana Hazel harus membawa tabung oksigen sendiri, hingga akhirnya mimpi Hazel (dan Gus) bisa tercapai.

....

Setelah 'Dying Young' pada tahun 1991 yang menyentuh tentang penderita kanker, tahun 2014 ini sebuah film yang diangkat dari novel tulisan John Green kembali mencoba bicara tentang kisah cinta remaja, sama sama penderita kanker, untuk mengisi hari dan hidup mereka yang bisa dibilang tinggal menunggu waktu saja. Awalnya aku merasa bahwa film ini akan sangat klise, dan memang benar, film ini plotnya sangat sederhana : kisah cinta dua remaja yang mengejar impian (terakhir) mereka hingga akhirnya dipisahkan oleh maut.

Apa yang membuat sesuatu yang klise menjadi istimewa? Pertama, pilihan kata yang memikat namun tak mencoba puitis  membuat dialog antar karakter utama menjadi indah sekaligus cerdas. Personifikasi yang tidak berlebihan tapi bisa menjelaskan situasi yang mereka hadapi. Film ini juga tidak mencoba mengeksploitasi penyakit dan kesedihan mereka, bahkan justru memberikan lelucon segar (namun tanpa melecehkan) terhadap kondisi diri mereka. Keceriaan dan kesedihan dihadirkan silih berganti tanpa kesan dipaksakan, tidak menghadirkan konflik yang dibuat-buat antar karakter. Bahkan bisa dibilang, kecuali karakter Van Houten, tidak ada konflik antar karakter, misal ketidaksetujuan orang tua Hazel dengan Gus. Oke, yang ini terlalu sinetron Indonesia.

Hazel, digambarkan sebagai gadis yang telah menerima kenyataan bahwa ia bisa meninggal kapan saja, tetap ceria dan realistis. Sementara Gus adalah sosok pria yang positif, optimis, penuh humor yang membuat 'chemistry' di antara mereka menjadi kuat.

Yang menarik adalah ketika Gus, yang sadar tidak mungkin menikah dan membuat acara pra-pernikahan, memilih membuat acara pra-pemakaman, karena ia tidak mungkin bisa melihat acara pemakamannya sendiri. Menarik, karena ini sesuatu yang boleh jadi belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Memberikan kesadaran pada kita bahwa kematian seharusnya lah dipersiapkan dengan matang. Lalu, bagaimana mereka membuat pidato perpisahan yang indah untuk Gus, mengharukan tapi tidak mengumbar air mata. Hingga pada pemakamannya sendiri, ketika Hazel memilih untuk tidak membacakan lagi pidato perpisahan itu karena menurutnya, "Upacara pemakaman itu untuk mereka yang masih hidup, bukan yang telah mati".



Jika kita telusuri mesin pencari semacam Google, akan banyak kita jumpai kutipan-kutipan dari novel ini begitu banyak, yang mengingatkan pada beberapa novel baik lainnya. Walau aku sendiri belum pernah membaca novelnya (sudah ada versi Indonesianya?), sepertinya film ini telah dieksekusi dengan baik. Ingin menyaksikan film remaja tapi tak murahan? Roman yang tidak picisan? Sebuah keharuan tanpa perlu mempertontokan tangis meraung? Film ini ibarat makanan ringan yang mengenyangkan, yang layak jadi pilihan.

Tuesday, September 16, 2014

Mari Lari (Lagi)

Benar, judul di atas diambil dari salah sebuah film yang pernah tayang di bioskop di seluruh Indonesia. Ceritanya? Tidak tahu, belum nonton. Tapi film ini dibuat dan diperuntukkan bagi para penggiat lari terutama di Indonesia yang semakin hari semakin banyak dan semakin semarak. Tidak heran jika beberapa korporasi mengadakan kegiatan lari (biasanya 10 km) dalam setiap 'event' hari Minggu mereka.

Tulisan ini tidak berbicara tentang film itu, tentu saja. Tulisan ini adalah tentang gairah saya untuk lari pagi lagi.

Ya, awalnya dulu saya memang termasuk suka lari pagi. Boleh jadi ini diwariskan oleh Bapak yang hingga saat ini masih rutin jalan pagi. Ya, mengingat usianya yang sudah di atas 70 tahun dan dengan segala macam penyakit di tubuhnya, lari tidak lagi menjadi pilihan. Justru kondisi itu yang membuat  semangat ini tumbuh lagi. Kesadaran bahwa aktifitas fisik yang kurang sangat beresiko bagi kondisi badan. Belum lagi pekerjaan yang memanjakan hingga malas bangkit dari kursi di depan komputer.

Pernah, beberapa bulan lalu kembali ke gym dan mulai angkat beban, tapi hal ini butuh waktu dan biaya ekstra secara saya termasuk pemilih dalam urusan tempat gym. Maraknya olahraga lari ini semacam pembakar untuk memulai lagi. Apalagi katanya lari bisa cukup membakar lemak untuk selanjutnya lebih menjanjikan menurunkan berat badan dan membentuk perut lebih rata, haha ... Belum lagi cerita salah seorang kawan bahwa 'pacarnya' rutin lari pagi untuk menjaga 'stamina'. Wah ... ini benar-benar godaan yang menarik! Membayangkan bagaimana gagahnya lari di pantai, atau dengan medan yang lebih berat seperti perbukitan menanjak dan menurun. Mengkhayal untuk saat ini boleh-boleh saja, kan?

Tahap awal, saya kembali lari cukuplah 15 menit setiap pagi. Karena saya tinggal di lingkungan militer, tidak sedikit orang-orang yang juga lari, tak hanya pagi tapi sore hari, bahkan dengan jaket parasutnya. Kalo yang ini, teman SMA saya pernah coba karena terobsesi menurunkan berat badan. Hasilnya? Typus!

Jadi, target saya dengan lari adalah :
1. Berharap kondisi tubuh lebih baik (baca : sehat) dengan aktifitas fisik yang moderat hingga berat
2. Meningkatkan stamina dan kebugaran untuk aktifitas pagi hingga malam
3. Menjaga berat badan dan kalau bisa membentuk hingga ke kondisi ideal

Entah benar ada efeknya atau tidak, dengan rutin lari pagi 15 menit selepas Subuh setidaknya 4 hari dalam seminggu, setidaknya stamina buat main futsal selama satu jam dapat terjaga. Terlepas dari pola bermain yang tidak terlalu ngotot, minggu lalu saya main futsal 45 menit tanpa ganti.


Sayangnya, untuk saat ini kondisi sedang tidak bersahabat. Musim kering tiba, kabut asap mulai pekat di pagi hari, tidak ada lagi udara segar. Rasanya mudah sesak nafas. Sungguh, ini benar-benar menggoda buat berhenti lagi. Ah, mungkin ini ujian. Semangat !!!

Bahan bacaan :
- http://www.active.com/running/articles/3-ways-to-burn-fat-effectively-while-running
- http://www.runnersworld.co.za/nutrition/weight-loss/fat-burning-running-workouts/
- http://running.about.com/od/faqsaboutweightloss/f/Can-I-Burn-Fat-By-Running.htm

Wednesday, September 3, 2014

Hercules : Kisah Manusia Setengah Dewa Tanpa Dewa-dewa



Siapa yang tidak tau dengan Hercules? Kisahnya sudah sangat melegenda, bahkan serialnya di salah satu televisi swasta pun sempat berjaya. Kini, Brett Ratner meluncurkan remake terbaru dari kisah manusia setengah dewa ini.

Diperankan oleh Dwayne 'The Rock' Johnson, Hercules memimpin sekumpulan prajurit bayaran yang terdiri dari peramal (Amphiaraus/Ian McShane), ahli melempar pisau (Autolycus/Rufus Sewell), pemanah Amazon (Atalanta/Ingrid Berdal), prajurit tanpa rasa takut (Tydeus/Aksel Hennie), dan sang pencerita ulung (Iolaus/Reese Ritchie). Dibuka dengan cerita seperti biasa, sebagai anak dari Zeus, Hercules dikisahkan harus melaksanakan dua belas tugas yang diembankan dewa kepadanya sebagai wujud kompromi atas perdamaian dirinya dengan Dewi Hera. Kisah lalu berlanjut masuk dalam suasana pertarungan brutal antara Hercules dan rekan melawan para perompak sebagai misinya sebagai pasukan bayaran.

Hercules lalu ditemui oleh Ergenia, anak dari Raja Cotys, yang sedang dalam kesusahan karena harus berperang melawan pemberontak bernama Rheseus yang berdasar desas-desus bekerja sama dengan para Centaur (manusia setengah kuda) dan memiliki begitu banyak pasukan yang kejam. Dengan imbalan emas seberat tubuhnya, Hercules menerima pekerjaan untuk melatih dan mengalahkan Rheseus tersebut. Belum lagi ketika mereka harus kehilangan banyak pasukan karena berperang melawan suku barbar, desa yang seharusnya sudah dihancurkan lebih dulu oleh Rheseus.

Dalam situasi yang pelik ini, ternyata Hercules masih dibayangi masa lalunya, kematian atas istri (Megara/Irins Shayk) dan ketiga anaknya yang misterius. Ini adalah tugas kedua belas yang tak kunjung dituntaskan olehnya, membunuh masa lalu yang menghantuinya.

...

Saya tak pernah membaca sinopsis apapun terkait kehadiran film yang sudah lama kabar akan beredar ini, bahkan sampai ada versi lainnya, Legend of Hercules. Dalam bayangan saya, apa yang bisa dilakukan Hercules ketika saudaranya, Perseus, telah menyita perhatian penonton dengan pertarungan seru antara Tiga Dewa (Zeus, Hades, dan Poseidon) melawan Kronos? Pertarungan para dewa apalagi yang bisa dihadirkannya?



Maka, tidak salah jika pembuat film mengambil sisi yang lebih 'manusiawi' yang mengingatkan saya akan film Troy (2004), cerita tentang manusia keturunan dewa yang terlibat dalam peperangan manusia tanpa sedikit pun menampilkan para dewa, dalam level apapun. Maka, mau tidak mau, saya sudah punya pembandingnya.



The Rock, terlepas dari latar belakangnya sebagai pegulat profesional dengan deretan filmografi sebagai bintang aksi laga, tampangnya yang komikal jelas tidak bisa mengangkat keseriusan karakter Hercules yang kehilangan keluarganya secara tragis ini. Belum lagi film ini mencoba memberi bumbu sisipan lelucon yang harus memaksa untuk sekedar senyum. Plot lain yang coba diabaikan adalah mengenai, benarkah Hercules anak Zeus? Apakah ia memang manusia setengah dewa? Lalu darimana ia punya kekuatan untuk meruntuhkan patung Hera yang begitu besar untuk menumpas pasukan Raja Cotys pada akhirnya? Mungkin ia terlalu banyak nge-gym.

Hal berbeda yang coba ditawarkan oleh film ini, yang justru menjadi daya tarik, adalah kehadiran karakter Iolaus, keponakan Hercules, yang bertugas menceritakan legenda-legenda pertarungan dan kisah hidup Hercules. Tidak hanya menjadi juru bicara, Iolaus justru lebih seperti seorang penebar propaganda, membakar semangat pasukan sendiri dan menakuti lawan-lawannya. Dalam kenyataannya, sosok seperti ini tidak bisa dilupakan begitu saja dari sejarah. Bahkan seorang Hittler punya Goebbels di sampingnya.

Buat saya yang tidak tau seperti apa tampilan pacar dari mega bintang sepakbola Cristiano Ronaldo, bisa melihat sekilah Irina Shayk di sini sebagai istri dari Hercules. Semoga penampilannya yang sekilas ini bukan hasil dari editing Lembaga Sensor Indonesia.

...

'Tidak penting apakah ia manusia setengah dewa atau bukan, ketika ia menilai dirinya pahlawan, ia bisa menjadi pahlawan'. Sebuah kutipan yang coba digambarkan di sepanjang film ini, bahwa ini adalah film tentang Hercules yang dikenal sebagai manusia setengah dewa anak Zeus yang kuat luar biasa, namun tidak sedikit pun memberi gambaran dewa atau bahkan hal-hal ajaib di sini.

Ketika perang kolosal antara ribuan pasukan Cotys dari Thrace dan Rheseus bertemu, kita akan melihat banyak orang namun terlalu sedikit untuk mengatakannya ribuan. Sepertinya pihak produksi benar-benar menggunakan banyak pemain figuran tanpa tambahan efek visual. Kembali lagi, jika harus membandingkan dengan dua seri Perseus, film ini jelas ketinggalan dari keberlimpahan efek visual.

Apakah saya ikut merasakan kesedihan Hercules yang kehilangan keluarganya? Atau kepuasan ketika ia akhirnya tau siapa dalam di balik tragedi itu? Tidak. Apakah saya merasakan hal yang getir dari Tydeus yang katanya hidup seperti hewan sebelum ditemukan oleh Hercules? Lalu sedih ketika ia mengorbankan dirinya? Tidak. Apakah ada rasa-rasa cinta antara Megara dan Hercules? Juga tidak. Film ini terlalu kering akan jalinan kisah dan emosi. Bahkan ketika hendak mengumbar aksi juga masih terlalu tanggung. Kecuali anda memang penggemar berat The Rock, atau penasaran dengan penampilan Irina Shayk, atau memang penggemar kisah-kisah Yunani, maka baiknya letakkan film ini di urutan bawah daftar film yang wajib Anda tonton.

The Fault in Our Stars : One Hell of a 'Sick' Movie, Trully

Demi apa sehingga aku harus nonton film cinta remaja? *mehh* Yah, anggap saja khilaf di penghujung kepenatan.

The Fault in Our Stars berkisah seorang gadis penderita kanker tiroid, Hazel Grace Lancaster (Shailenne Woodley) yang sudah mengancam paru-parunya dan membuatnya depresi, hingga orang tuanya yang begitu mencintainya mendorongnya bergabung dalam komunitas pendukung penderita kanker di kotanya. Di sanalah ia berjumpa dengan Augustus Waters (Ansel Elgort), penderita 'osteosarcoma' yang telah kehilangan kaki kanannya. Ikatan pertemanan di antaranya perlahan menguat, hingga Hazel merekomendasikan novel favoritnya, An Imperial Affection, kisah seorang gadis penderita kanker yang dianggapnya memiliki pengalaman hidup yang sama dengan dirinya. Gus demikian penasaran dengan akhir kisah pada novel yang mereka anggap menyisakan banyak pertanyaan. Sayangnya, penulis novel, Peter Van Houten (Willem Dafoe) telah meninggalkan Amerika menuju Amsterdam.

Gus, dengan optimisnya, menjanjikan bahwa mereka bisa ke Amsterdam untuk berjumpa Van Houten dan bertanya banyak hal tentang novel tersebut. Sesuatu yang sempat menjadi angan-angan saja ketika penyakit Hazel tiba-tiba kembali menyerang. Sang Ibu, dengan cintanya yang amat sangat, mencoba meyakinkan bahwa semua keinginannya bisa saja terwujud, meski untuk ke mana mana Hazel harus membawa tabung oksigen sendiri, hingga akhirnya mimpi Hazel (dan Gus) bisa tercapai.

....

Setelah 'Dying Young' pada tahun 1991 yang menyentuh tentang penderita kanker, tahun 2014 ini sebuah film yang diangkat dari novel tulisan John Green kembali mencoba bicara tentang kisah cinta remaja, sama sama penderita kanker, untuk mengisi hari dan hidup mereka yang bisa dibilang tinggal menunggu waktu saja. Awalnya aku merasa bahwa film ini akan sangat klise, dan memang benar, film ini plotnya sangat sederhana : kisah cinta dua remaja yang mengejar impian (terakhir) mereka hingga akhirnya dipisahkan oleh maut.

Apa yang membuat sesuatu yang klise menjadi istimewa? Pertama, pilihan kata yang memikat namun tak mencoba puitis  membuat dialog antar karakter utama menjadi indah sekaligus cerdas. Personifikasi yang tidak berlebihan tapi bisa menjelaskan situasi yang mereka hadapi. Film ini juga tidak mencoba mengeksploitasi penyakit dan kesedihan mereka, bahkan justru memberikan lelucon segar (namun tanpa melecehkan) terhadap kondisi diri mereka. Keceriaan dan kesedihan dihadirkan silih berganti tanpa kesan dipaksakan, tidak menghadirkan konflik yang dibuat-buat antar karakter. Bahkan bisa dibilang, kecuali karakter Van Houten, tidak ada konflik antar karakter, misal ketidaksetujuan orang tua terhadap hubungan Hazel dengan Gus. Oke, yang ini terlalu sinetron Indonesia.

Hazel, digambarkan sebagai gadis yang telah menerima kenyataan bahwa ia bisa meninggal kapan saja, tetap ceria dan realistis. Sementara Gus adalah sosok pria yang positif, optimis, penuh humor yang membuat 'chemistry' di antara mereka menjadi kuat.

Yang menarik adalah ketika Gus, yang sadar tidak mungkin menikah dan membuat acara pra-pernikahan, memilih membuat acara pra-pemakaman, karena ia tidak mungkin bisa melihat acara pemakamannya sendiri. Menarik, karena ini sesuatu yang boleh jadi belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Memberikan kesadaran pada kita bahwa kematian seharusnya lah dipersiapkan dengan matang. Lalu, bagaimana mereka membuat pidato perpisahan yang indah untuk Gus, mengharukan tapi tidak mengumbar air mata. Hingga pada pemakamannya sendiri, ketika Hazel memilih untuk tidak membacakan lagi pidato perpisahan itu karena menurutnya, "Upacara pemakaman itu untuk mereka yang masih hidup, bukan yang telah mati".

Jika kita telusuri mesin pencari semacam Google, akan banyak kita jumpai kutipan-kutipan dari novel ini begitu banyak, yang mengingatkan pada beberapa novel baik lainnya. Walau aku sendiri belum pernah membaca novelnya (sudah ada versi Indonesianya?), sepertinya film ini telah dieksekusi dengan baik. Ingin menyaksikan film remaja tapi tak murahan? Roman yang tidak picisan? Sebuah keharuan tanpa perlu mempertontokan tangis meraung? Film ini ibarat makanan ringan yang mengenyangkan, yang layak jadi pilihan.

Tuesday, September 2, 2014

Donor Darah Edisi Perdana

-- Cerita ini terjadi pada tanggal 15 Agustus 2014 silam --


'Saya lagi butuh darah buat anak saya. Butuh empat kantong, tapi baru dapat satu kantong. Makanya minta tolong Mas-mas pegawai bank situ buat donor'

Itu adalah sepenggal obrolan dari salah seorang Ibu yang duduk di depan saya saat menunggu antrian di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Palembang, tadi pagi jelang siang. Ini adalah pengalaman perdana saya donor darah, setelah beberapa kali di beberapa kesempatan sejak masa kuliah, saya ditakdirkan selalu melewatkan kesempatan tersebut.

Pagi hari itu, tiba-tiba pesan pop-up di layar komputer saya muncul. Dari salah seorang teman. "Jar, kamu golongan darahnya apa, ya?". Berlanjut obrolan singkat, intinya ia butuh darah buat salah satu anggota keluarganya yang hendak operasi cesar. Maka begitu jam lewat pukul sepuluh, kami segera bergegas menuju UDD PMI.

Tidak terlalu ramai, hanya lima sampai enam orang saja di kursi tunggu. Sejenak isi formulir, tidak lama kemudian nama saya pun dipanggil. Duduk berhadapan dengan seorang ibu yang dengan tangkas menusuk ujung jari tengah tangan kanan saya hingga berdarah. Lalu, ketika saya lengah, ia tempelkan tabung kecil di sana dan dengan seksama dan dalam tempo yang singkat menekan ujung jari tersebut, "creett", darah segar mengalir deras mengisi rongga tabung itu, yang kemudian dengan indahnya ditepuk-tepukkan ke bilah kaca kecil, diberi warna biru, kuning, dan merah membentuk pola gradasi warna. Coretan-coretan dibuatnya pada formulir isian saya. Hb, oke. Golongan darah, A. Lalu saya disuruh masuk.

Di ruangan ukuran 3x5 meter, ada tiga pasang pembaringan yang masing-masing telah diisi tiga orang. Tiap lengannya terpasang selang yang berwarna merah, dengan kantong darah tergeletak di atas timbangan (sayur). Oke, suasananya semakin mencekam ini. Demi menghilangkan kegugupan, saya sejenak ke toilet, menuntaskan apa yang tertahan, untuk kemudian masuk lagi dan dengan elegannya berbaring. Lengan kiri sepertinya pilihan yang baik buat 'diinfus'.

Seorang Ibu menunjukkan pengalamannya dengan tidak butuh setengah menit untuk memasang jarum. Jujur saja, saya tak berani melihat, biarkan saja sistem yang bekerja. Sekitar sepuluh menit berbaring, seorang mbak perawat mendekat.
"Masih lama lagi?", saya tanya
"Ini sudah selesai, mau dicabut", jawabnya
"Berapa banyak?"
"350"
Wah, 350 mL untuk donor perdana, hehe...

....

Ternyata jarumnya tak terasa menancap dalam 
Ternyata jarumnya tak terasa menancap dalam

Kembali ke awal obrolan bersama ibu tadi. Saya bertanya juga pada teman ini, yang ternyata sudah membawa dua orang teman satu ruangan untuk donor juga kemarin. Jadi, demi kelancaran operasi tersebut yang membutuhkan tambahan darah, teman ini harus swalayan, mencari sendiri darah yang dibutuhkan. Begitupun dengan sang Ibu tadi. Menjadi bertanya-tanya, demikian tipis kah stok darah? Sehingga keluarga pasien harus mencari sendiri?

Semoga saja, ini bukan pengalaman saya yang pertama dan terakhir. Semoga saja saya tetap sehat sehingga darah saya aman buat didonorkan. Seperti kutipannya : Setetes darah Anda membawa kehidupan bagi sesama.

Lucy : A Female 'Limitless'

Bagaimana jika manusia, yang selama ini dibilang baru menggunakan 10% kemampuan otaknya, ternyata bisa menggunakan hingga 100%? Itulah tema utama dari film ini.

Lucy, bercerita tentang seorang perempuan biasa bernama Lucy (Scarlett 'ScarJo' Johansson) yang sedang kuliah di Taipei dan dalam sebuah kesempatan harus dengan terpaksa membawa sebuah koper kepada seorang mafia bernama Mr. Jang (Choi Min Sik) yang berisi sebuah narkotika jenis baru yang akan diedarkan ke Eropa. Bersama tiga orang lainnya, perut mereka dibedah dan diisi dengan narkotika berlabel CHP4 tersebut untuk diselundupkan ke Amerika, Italia, Jerman, dan Perancis.

Dalam sebuah sekapan sekelompok preman, Lucy dipukuli yang membuat kemasan narkotik tersebut bocor dan mengkontaminasi tubuhnya, membuatnya mampu meningkatkan kemampuan penguasaan terhadap otaknya sehingga ia bisa dengan segera menggunakan senjata, berkelahi, berbahasa Mandari, dan lain-lain. Dalam sebuah kecelakaan tersebut, ia tiba-tiba menjadi seperti super hero.

.....

Sebuah obat-obatan ternyata mampu meningkatkan kemampuan pemakainya secara signifikan? Bukan sesuatu yang baru sebenarnya. Dalam sebuah film, Limitless (2011) yang diperankan oleh Bradley Cooper juga telah digambarkan bagaimana hanya dengan mengkonsumsi obat tertentu, ia bisa dengan segera menjadi lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih cepat. Lalu apa yang membuat Lucy menjadi berbeda?


Faktor utama tentu pada tokoh utama, Scarlett Johansson, yang memang telah menarik perhatian peminat film, terutama sejak perannya sebagai Black Widow dalam The Avengers semakin membuat kehadirannya semakin dinanti. Lagipula, tokoh utama perempuan sebagai jagoan, di luar genre young-adult seperti Hunger Games ataupun Divergent masih jarang.

Yang kedua adalah hipotesis mengenai kemampuan manusia yang baru menggunakan 10% kemampuan otaknya, dan kemungkinan yang akan timbul jika manusia bisa memaksimalkan semua potensi otak. Untuk memberikan gambaran pemahamannya, film ini menggunakan karakter Profesor Samuel Norman (Morgan Freeman) yang memberikan presentasi tentang otak manusia dalam sebuah kelas seminar.

Berbeda dengan Limitless, Lucy dilengkapi dengan tampilan visual mirip seperti film superhero terbitan Marvel atau lainnya, yang sayangnya justru kurang ditunjang dengan penceritaan yang kuat. Kehadiran sosok polisi Pierre del Rio (Amr Waked) sebagai partnernya untuk mencapai misi malah terkesan basa basi, mengingat dengan kemampuannya dalam telekinesis yang menandingi kehebatan Prof. Xavier dari X-Men, ia justru harus mengorbankan banyak polisi untuk menghadapi serbuan Mr. Jang dan anak buahnya.

...

'Aku tidak bisa merasakan sakit, tidak memiliki keinginan. Aku tidak merasa bahwa aku manusia' Dalam prosesnya mencapai 100% kemampuan otaknya sebagai manusia, ditunjang dengan kemampuan super yang luar biasa, Lucy justru merasa bahwa ia tidak menjadi manusia seperti adanya. Ketika ia bisa mengingat rasa saat ia bahkan masih bayi, ia justu tidak bisa benar-benar merasakan. Pertanyaannya, apakah memang dengan menguasai diri, dalam hal ini kemampuan otak, hingga 100%, membuat manusia benar-benar menjadi manusia. Seperti pertanyaan Lucy pada Prof. Norman, "Lalu apa tujuanku hidup?"

Ya, untuk apa kita hidup?

Friday, August 29, 2014

'Tarian Uang'

Pagi-pagi mendapati kicauan dari Ust. Hatta Syamsudin yang posting cerpen terbarunya, langsung saja teringat dengan cerpen fenomenalnya dulu : Tarian Uang.

Cerpen ini menjadi fenomenal, setidaknya buat saya, karena memberikan gambaran yang manis akan pertarungan antara idealisme dengan realitas yang ada di dunia kerja, khususnya yang saya hadapi. Ya, saya menjalani sebagaimana Beliau dahulu jalani, sehingga saya sangat memahami 'kisah nyata' yang terkandung di dalam cerita itu.

Dahulu, saat modernisasi diketok palu berlaku nasional pada Tahun 2008, saya pikir itulah saat berubah buat semuanya. Saat dimana revolusi integritas menemui momentumnya. Saat di mana orang baik tak lagi menjadi oknum. Sebuah mimpi indah bagi kita semua. Sayangnya, hingga saat ini, justru terjadi semacam kejenuhan revolusi. Ketika gerakan menjadi baik, entah mengapa terbentur oleh kebijakan dan peraturan yang justru mengekang dan mengebiri berbagai kebaikan-kebaikan tersebut. Lalu, seketika modernisasi seolah berjalan mundur. Maka, ketika bicara cerpen itu, uang seolah kembali lagi. Menari di batas imajinasi, menggoda, merayu, membujuk, memaksa, bahkan mengikat.